Pajak Tontonan Rp84 Miliar Dikucurkan, Rano Target Jakarta Kota Sinema

- Pemprov DKI menyiapkan pengembalian insentif pajak tontonan senilai Rp84 miliar kepada produser film sebagai langkah memperkuat ekosistem perfilman dan mewujudkan Jakarta sebagai Kota Sinema.
- Rano Karno berencana membentuk Jakarta Film Commission untuk memperbanyak produksi film lokal, memanfaatkan kekuatan fiskal daerah tanpa bergantung pada pendanaan Bank Indonesia.
- Jakarta Youth Film Festival didukung sebagai wadah pembinaan talenta muda, dengan harapan mampu menarik partisipasi internasional dan memberi efek ganda bagi sektor ekonomi kreatif Jakarta.
Jakarta, IDN Times — Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan komitmen Pemprov DKI menguatkan ekosistem perfilman lewat kebijakan pengembalian insentif pajak tontonan kepada produser. Kebijakan ini disiapkan sebagai fondasi untuk mewujudkan Jakarta sebagai Kota Sinema.
Rano menyebut, kebijakan pengembalian pajak tontonan pernah diterapkan Pemprov DKI untuk mendorong produksi film. Skema itu kini akan dihidupkan kembali dengan dana yang masih dipegang pemerintah daerah sejak 2025.
“Dari mulai tahun 2025 sampai sekarang, kami masih pegang kira-kira Rp84 miliar. Makanya kemarin produser saya kumpulin, ingin kita kembalikan kepada produser untuk produksi.” ujar Rano dalam Road to Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026 di Perpusnas, Kamis (3/4/2026)
1. Strategi perbanyak film di Jakarta

Menurutnya, langkah bukan sekadar insentif fiskal, melainkan strategi memperbanyak produksi film di Jakarta. Ia menilai Jakarta memiliki kapasitas fiskal yang kuat sehingga tidak perlu bergantung pendanaan dari Bank Indonesia untuk menggerakkan sektor ini.
Rano juga mengungkap rencana pembentukan Jakarta Film Commission sebagai instrumen kelembagaan untuk memperkuat posisi Jakarta dalam industri perfilman nasional.
"Alhamdulillah, Jakarta serius. Walaupun mungkin di antara teman-teman film meragukan saya. Kita ingin membuat Jakarta Film Commission dan saya ingin sekali menjadikan Jakarta menjadi Kota Sinema. Dan saya sangat yakin bisa dicapai itu. Karena Jakarta punya kemampuan, apalagi fiskal. Kita enggak perlu uang dari BI," katanya.
2. Jakarta Youth Film Festival sebagai ruang pembinaan talenta muda

Ia mengapresiasi inisiatif Bank Indonesia yang menggelar Jakarta Youth Film Festival sebagai ruang pembinaan talenta muda. Rano yakon dalam dua tahun ajang tersebut bisa berkembang dari level lokal menjadi partisipasi internasional.
"Saya katakan kepada Pak Iwan, saya sangat yakin dalam waktu dua tahun, youth festival ini bukan hanya anak Jakarta yang ikut, tapi internasional akan hadir.Beginilah film," katanya.
3. Industri film memiliki multiplier effect

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan mengatakan industri film memiliki multiplier effect yang sangat luas karena mampu menggerakkan berbagai sektor pendukung seperti pariwisata, kuliner, transportasi, fashion, dan film yang memperkuat citra kota di tingkat global, sejalan dengan visi Jakarta sebagai Kota Sinema.
"Inisiatif penyelenggaraan Jakarta Youth Film Festival ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu program unggulan dalam penguatan industri film di Jakarta yang mampu menciptakan ruang kolaborasi, meningkatkan kualitas talenta, serta mendorong lahirnya karya-karya yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global," katanya.


















