Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Penelitian UI: Keterlambatan Distribusi MBG Ganggu Fokus Belajar Siswa

Penelitian UI: Keterlambatan Distribusi MBG Ganggu Fokus Belajar Siswa
Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Serangan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Survei Labsosio UI menemukan 36,7 persen siswa kehilangan fokus belajar akibat keterlambatan distribusi makanan program MBG di lima kabupaten/kota.
  • Ketidakpastian jadwal pengiriman memotong waktu belajar hingga 20 menit dan menambah beban guru tanpa insentif tambahan.
  • Kendala utama berasal dari dapur produksi dan distribusi yang luas, membuat makanan sering datang tidak tepat waktu dengan suhu tidak konsisten.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah dilaporkan memicu disrupsi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Alih-alih meningkatkan konsentrasi, ketidakpastian jadwal pengiriman makanan justru membuat banyak siswa kehilangan fokus, saat menunggu jatah makan siang mereka tiba.

Berdasarkan hasil riset Labsosio Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia yang dilakukan di lima kabupaten/kota, ditemukan 36,7 persen siswa menjadi tidak fokus dalam pembelajaran, karena menanti kedatangan makanan yang kerap terlambat.

Masalah ini diperparah dengan data yang menunjukkan hanya 46 persen responden yang menilai pengiriman makanan ke sekolah dilakukan tepat waktu.

1. Memangkas waktu belajar mengajar hingga 20 menit

Survei UI: Keterlambatan Distribusi MBG Ganggu Fokus Belajar Siswa
MBG prasmanan di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Riset juga menunjukkan gangguan terhadap proses pendidikan tidak hanya berhenti pada hilangnya konsentrasi siswa. Ketidakpastian waktu distribusi ini seringkali memotong waktu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sekitar 15 hingga 20 menit. Hal tersebut memaksa pihak sekolah mengubah jam belajar siswa serta rencana pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.

Laporan penelitian tersebut menegaskan pelaksanaan MBG menghasilkan disrupsi dalam kegiatan belajar mengajar yang tidak dapat disepelekan. Beban operasional pun bertambah bagi guru dan tenaga kependidikan yang harus mengelola pembagian makanan dan mendampingi siswa, tanpa adanya insentif tambahan.

2. Kendala di dapur

Survei UI: Keterlambatan Distribusi MBG Ganggu Fokus Belajar Siswa
Relawan SPPG saat melakukan pengemasan menu MBG (IDN Times/Istimewa)

Penyebab utama dari gangguan ini adalah kendala pada sisi produksi dan distribusi. Tercatat 73,3 persen sekolah yang disurvei mengaku pernah menghadapi kendala dengan pihak dapur MBG, yang umumnya berupa keterlambatan pengiriman makanan.

Beberapa faktor yang memicu keterlambatan ini antara lain:
- Cakupan wilayah layanan yang terlalu luas, seperti yang ditemukan dalam kasus di Pesisir Selatan.
- Kapasitas produksi yang masif yang memaksa jam masak dimulai terlalu dini, sehingga meningkatkan risiko kelelahan pekerja dan human error.
- Keragaman jenis penerima manfaat (seperti perbedaan jadwal antara SD, SMA, dan Posyandu) yang menyulitkan penyaluran logistik secara serempak.

3. Makanan kadang hangat kadang dingin

Survei UI: Keterlambatan Distribusi MBG Ganggu Fokus Belajar Siswa
Suasana siswa SMPN 34 Medan saat menikmati MBG (IDN Times/Indah Permata Sari)

Selain mengganggu waktu belajar, keterlambatan ini juga berdampak pada kualitas layanan. Suhu makanan yang diterima siswa menjadi tidak konsisten, di mana 59 persen siswa mengaku makanan yang mereka terima cenderung "kadang hangat, kadang dingin" akibat proses distribusi yang tidak tepat waktu.

Menanggapi temuan ini, para peneliti merekomendasikan kepada pemerintah adanya perbaikan tata kelola, termasuk memberikan otonomi lebih besar kepada daerah, untuk menyesuaikan teknis implementasi sesuai konteks lokal, agar tidak lagi mengganggu jalannya pendidikan di sekolah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More