Pentingnya Ahli Gizi Perangi Stunting, Kemenkes Perbaiki Regulasi

- Angka anemia balita dan remaja masih tinggi, perlu peran tenaga gizi profesional
- Peran ahli gizi sangat krusial dalam penurunan stunting, cakupan intervensi harus semakin luas
- Tantangan masa depan: kekurangan gizi dan meningkatnya prevalensi obesitas, upaya promotif dan preventif perlu diperluas
Jakarta, IDN Times- Dirjen Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan pemerintah terus memperkuat kebijakan pemenuhan gizi melalui regulasi kesehatan nasional.
“Dalam lima tahun terakhir, prevalensi ibu hamil dengan kekurangan gizi berhasil turun dari 48 persen menjadi 27 persen. Namun ini belum cukup,” katanya dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) penyelenggaraan edukasi gizi serentak, dalam keterangan tertulis, Selasa (27/1/2026).
1. Angka anemia balita dan remaja masih tinggi

Maria juga menyoroti masih tingginya angka anemia pada balita dan remaja, serta pentingnya peran tenaga gizi profesional.
“Kita masih membutuhkan lebih banyak nutrisionis dan dietisien untuk memastikan pemenuhan gizi berjalan optimal,” katanya.
2. Peran ahli gizi sangat krusial

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, Wahidin, menegaskan peran ahli gizi sangat krusial dalam percepatan penurunan stunting. Ia berharap pada 2026 cakupan intervensi semakin luas, sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
“Program pemenuhan gizi, khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, membutuhkan peran aktif tenaga gizi,” ujarnya.
3. Tantangan masa depan masih ada kekurangan gizi dan meningkatnya prevalensi obesitas

Sementara, Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Doddy Izwardi, mengatakan peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan gizi optimal bagi generasi Indonesia.
Mengusung tema "Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045", Doddy menegaskan, keberhasilan Indonesia di masa depan sangat ditentukan kualitas gizi masyarakat hari ini.
“Dua puluh tahun ke depan adalah hasil dari apa yang kita lakukan sekarang. Gizi optimal menjadi fondasi utama,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi berbagai upaya perbaikan gizi yang telah membuahkan hasil, salah satunya penurunan angka stunting nasional hingga 19,8 persen. Namun, tantangan masih ada, terutama pada masalah kekurangan gizi dan meningkatnya prevalensi obesitas.
“Upaya promotif dan preventif melalui kebiasaan hidup sehat harus terus diperluas,” ucapnya.


















