Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato pembuka dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Sidang tersebut membahas berbagai isu strategis, mengevaluasi program kerja pemerintah, sekaligus menandai dua tahun masa kerja Kabinet Merah Putih di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
  • Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh lain.

  • Presiden Prabowo memerintahkan Kapolri Suyudi Ario Seto memproses perkara secara objektif, sesuai hukum, dan tanpa ada yang ditutup-tutupi.

  • Pemerintah berkoordinasi agar layanan Polri tetap berjalan; Mensesneg menilai tindakan tersangka dapat mengarah pada makar dan membahayakan keselamatan negara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tiga orang jadi tersangka karena diduga menyadap Presiden Prabowo dan tokoh lain. Mereka adalah Listyo Sigit Prabowo, Ahrie Sonta, dan Eko Hadi Santoso. Presiden Prabowo meminta Kapolri Suyudi Ario Seto mengusut kasus ini dengan jujur dan tidak menutupinya. Polisi juga diminta tetap melayani masyarakat seperti biasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Arahan agar proses hukum dijalankan secara objektif, terbuka, dan sesuai peraturan menunjukkan penekanan pada akuntabilitas dalam menangani perkara sensitif. Koordinasi untuk menjaga layanan kepolisian tetap berjalan juga mencerminkan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat, sementara penegasan adanya aturan penyadapan memberi dasar bagi publik untuk memahami bahwa tindakan oknum tidak mewakili sistem secara keseluruhan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Tiga orang jadi tersangka kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan tokoh lain. Ketiganya adalah Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Kadiv Hukum Polri Irjen Pol Ahrie Sonta serta Irjen Eko Hadi Santoso selaku Widyaiswara Kepolisian Utama Tk. 1 Sespim Lemdiklat Polri.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, mengatakan Presiden Prabowo memerintahkan Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto untuk tidak menutupi proses hukum kasus tersebut.

"Presiden sudah memberikan petunjuk kepada Bapak Kapolri untuk dilakukan proses sebaik-baiknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ya, seobjektif mungkin tanpa ada yang ditutup-tutupi gitu. Jadi sudah disampaikan kepada Pak Kapolri," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Prasetyo juga mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Kapolri agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu akibat adanya kasus tersebut.

"Kami juga telah berkoordinasi dengan Kapolri, untuk memastikan bahwa terutama pelayanan terhadap masyarakat dari institusi Kepolisian tidak berkurang sama sekali dan kami juga berdua berkomitmen bahwa terhadap kasus penyadapan ini," kata dia.

"Untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa proses-proses penyadapan sesungguhnya telah diatur di dalam peraturan-peraturan perundang-undangan yang kita miliki sehingga kami sampaikan kepada seluruh masyarakat untuk apa namanya, tidak perlu khawatir bahwa ini dilakukan tentunya oleh beberapa oknum-oknum tertentu," sambungnya.

Prasetyo berpandangan, perbuatan para tersangka itu bisa dikategorikan makar. Sebab, bisa membahayakan keselamatan Kepala Negara.

"Kami juga berpendapat apa yang dilakukan ini mungkin sudah masuk kategori bisa kita anggap ini perbuatan mengarah ke perbuatan makar, juga mengarah ke perbuatan yang membahayakan keselamatan kepentingan negara, termasuk membahayakan keselamatan pimpinan negara," ucap Prasetyo.

Infografis Kasus Penyadapan Prabowo. (IDN Times/Anjani Asra)

Curated For You

Editorial Team

Related Article