Diprotes Publik, Vietnam Resmi Batal Izinkan Donor Organ Anak

- Vietnam membatalkan usulan yang memungkinkan anak di bawah 18 tahun terdaftar sebagai donor organ, jaringan, dan jenazah setelah kematian, menyusul protes serta perdebatan publik luas.
- Rancangan awal mengizinkan donasi tertentu oleh anak dengan persetujuan orang tua, tetapi dikritik karena dinilai berisiko menimbulkan tekanan psikologis dan eksploitasi.
- Aturan revisi menetapkan usia minimal pendaftaran donor 18 tahun; anak hanya dapat mendonorkan jaringan regeneratif kepada saudara kandung dalam syarat kesehatan, konseling, dan persetujuan ketat.
Jakarta, IDN Times - Vietnam akhirnya resmi membatalkan usulan kontroversial yang sebelumnya sempat membuka peluang bagi anak di bawah umur untuk mendaftar sebagai donor organ, jaringan, dan jenazah setelah kematian. Melalui aturan baru yang dirumuskan, pemerintah menetapkan batas usia minimal 18 tahun bagi siapa saja yang ingin mendaftarkan diri secara resmi sebagai donor.
Pihak pemerintah memutuskan untuk menarik ketentuan tersebut pada Senin (2/11/2026). Langkah ini diambil menyusul gelombang perdebatan publik yang berlangsung secara luas di tengah masyarakat.
Ketentuan sensitif itu langsung dihapus dari draf revisi bertanggal Minggu (1/11/2026) yang semula dijadwalkan untuk segera dibahas dalam sidang paripurna Majelis Nasional. Penghapusan ini sekaligus meredam ketegangan diskursus yang sempat menghangat di ruang publik Vietnam.
1. Pemerintah usulkan perluasan donor dengan pengamanan ketat

ilustrasi dokter melakukan transplantasi (pexels.com/Vidal Balielo Jr.) Rancangan awal yang secara resmi diserahkan pada 21 Oktober 2026 sebenarnya mengusulkan pembaruan terhadap Undang-Undang tahun 2006 yang mengatur tentang Donasi, Pengambilan dan Transplantasi Jaringan dan Organ Manusia serta Donasi dan Pemulihan Jenazah. Di dalam rancangan tersebut, orang di bawah usia 18 tahun sempat diizinkan untuk mendaftar serta mendonorkan organ setelah mengalami kematian otak atau kematian sirkulasi, dengan syarat mengantongi persetujuan dari orang tua atau perwakilan hukum mereka.
Sementara itu, untuk skema donasi saat masih hidup, kelompok usia 15 hingga di bawah 18 tahun diizinkan untuk mendonorkan jaringan regeneratif kepada anggota keluarga. Di sisi lain, anak-anak yang berada di bawah usia 15 tahun hanya diperbolehkan mendonorkan jaringan regeneratif kepada orang tua kandung atau saudara kandung mereka saja.
Usulan tersebut langsung memicu gelombang kontroversi yang cukup tajam karena memunculkan keraguan mendasar mengenai efektivitas perlindungan anak. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah restu dari orang tua sudah cukup kuat untuk melindungi anak dari potensi tekanan psikologis maupun eksploitasi. Kritik tajam publik juga menyoroti pelaksanaan survei pada Oktober lalu yang melibatkan anak sekolah berusia tujuh tahun untuk menjaring masukan terkait draf tersebut. Survei ini memicu perdebatan pelik mengenai kapasitas kognitif anak di bawah umur dalam memahami kompleksitas isu medis, hukum, dan etika yang menyertainya.
2. Pemerintah revisi aturan dan hapus pendaftaran anak

ilustrasi transplantasi pada pasien (pexels.com/Zakir Rushanly) Mengacu pada laporan dari Tuoi Tre News, pemerintah bergerak cepat merevisi rancangan undang-undang tersebut dengan mencabut seluruh ketentuan yang berkaitan dengan pendaftaran, perubahan, serta pembatalan pendaftaran oleh anak di bawah umur. Dengan dihilangkannya klausul ini, potensi perselisihan hukum antara anak di bawah umur dan perwakilan mereka terkait pembatalan status donor dipastikan tidak akan pernah muncul lagi. Negara Vietnam sendiri sebenarnya telah memulai sejarah transplantasi ginjal sejak tahun 1992 dan kini mencatatkan jumlah prosedur transplantasi tahunan terbanyak di kawasan regional menurut keterangan media pemerintah.
Kendati demikian, sebagian besar praktik transplantasi di negara tersebut masih sangat mengandalkan organ dari donor hidup. Kondisi tersebut memperlihatkan kontras yang cukup mencolok jika dibandingkan dengan banyak negara lain di dunia yang mayoritas sumber organnya berasal dari donor yang telah meninggal dunia. Ketergantungan pada donor hidup inilah yang mendorong pemerintah berupaya memperluas regulasi donor, sebelum akhirnya menuai koreksi besar akibat protes publik.
3. Aturan baru batasi donasi jaringan regeneratif anak

Bendera Vietnam (pexels.com/Hugo Heimendinger) Rancangan regulasi yang baru direvisi kini membagi ketentuan pelaksanaan donasi saat masih hidup secara ketat berdasarkan kategori usia. Orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang belum terdaftar secara resmi kini hanya diizinkan mendonasikan jaringan tubuh kepada orang tua kandung, saudara kandung, atau anak kandung mereka. Sementara itu, individu yang usianya masih berada di bawah 18 tahun kini hanya diperbolehkan untuk mendonorkan jaringan regeneratif saja kepada saudara kandung mereka.
Kebijakan ini secara tegas mengecualikan darah serta komponen darah dari daftar objek yang boleh didonasikan oleh anak di bawah umur. Pelaksanaan donasi oleh anak di bawah umur tersebut hanya akan diberikan lampu hijau apabila sama sekali tidak ditemukan donor dewasa yang dinilai sesuai. Keputusan itu pun wajib melalui serangkaian prosedur ketat yang meliputi penilaian kesehatan menyeluruh, sesi konseling mendalam, serta diperolehnya persetujuan tertulis dari anak yang bersangkutan bersama orang tua kandungnya.
Menanggapi polemik tersebut, Deputi Majelis Nasional Pham Khanh Phong Lan sebelumnya telah mendesak rekan-rekan sesama anggota parlemen agar dengan tegas menolak usulan penarikan anak sebagai donor.
“Kamu tidak dapat mengorbankan satu anak untuk menyelamatkan anak lainnya,” kata Phong Lan, dikutip CNA.





















