Perlunya Haji Ramah Perempuan di Saudi yang Masih 'Male Centric'

- Sistem di Saudi masih pakai sudut pandang laki-Laki
- Alissa blak-blakan menyebut bahwa tantangan terbesar haji ramah perempuan adalah sistem di Tanah Suci yang masih sangat maskulin.
- Jumlah toilet laki-laki dan perempuan dibuat sama rata, padahal secara biologis, perempuan membutuhkan waktu lebih lama di kamar mandi.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI membuat terobosan pada penyelenggaraan haji 2026 dengan meningkatkan kuota petugas perempuan hingga 30 persen. Langkah afirmatif ini mendapat apresiasi tinggi dari tokoh perempuan, Alissa Wahid.
Ditemui usai mengisi materi Diklat PPIH di Asrama Haji Pondok Gede, Selasa (20/1/2026), Alissa mengungkapkan bahwa "Haji Ramah Perempuan" bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan mendesak. Pasalnya, mayoritas jemaah haji Indonesia adalah perempuan, namun fasilitas di Arab Saudi sering kali tidak ramah bagi kaum Hawa.
1. Sistem di Saudi masih pakai sudut pandang laki-Laki

Alissa blak-blakan menyebut bahwa tantangan terbesar haji ramah perempuan adalah sistem di Tanah Suci yang masih sangat maskulin.
"Sistem di Arab Saudi pada dasarnya masih menggunakan perspektif laki-laki," ungkap Alissa.
Menurutnya, cara pandang ini harus diubah. Kebutuhan spesifik perempuan—mulai dari haid, privasi, hingga durasi di kamar mandi—tidak boleh dianggap sebagai beban operasional, melainkan realitas yang wajib difasilitasi negara.
2. Kebutuhan toilet yang berbeda

Sebagai mantan tim monitoring dan evaluasi haji tahun 2022, Alissa punya cerita menarik soal fasilitas sanitasi. Ia menyoroti ketimpangan di mana jumlah toilet laki-laki dan perempuan dibuat sama rata, padahal secara biologis dan kebutuhan, perempuan membutuhkan waktu lebih lama di kamar mandi.
"Kami sempat melakukan improvisasi dengan menggunakan sebagian kamar mandi laki-laki untuk jamaah perempuan pada jam-jam tertentu," kenang Alissa.
Ia mengkritik jika solusi seperti ini hanya bersifat darurat di lapangan. "Kebijakan-kebijakan improvisatif seperti ini seharusnya direspons secara sistematis, bukan sekadar solusi darurat," tegasnya.
3. Pentingnya Petugas dan Amirul Hajj perempuan

Alissa menilai peningkatan jumlah petugas perempuan adalah langkah mutlak. Pada tahun 2022, ia melihat sendiri betapa terbatasnya jumlah pembimbing ibadah perempuan, padahal jemaah perempuan sering kali canggung jika harus berkonsultasi masalah kewanitaan dengan petugas laki-laki.
"Kebutuhan jamaah perempuan sangat berbeda dengan jamaah laki-laki. Oleh karena itu, penambahan petugas perempuan merupakan kebutuhan yang nyata dan mendesak," ujarnya.
Hal ini pula yang melatarbelakangi dorongan agar ada unsur pimpinan haji (Amirul Hajj) dari kalangan perempuan, karena "kebutuhan jamaah perempuan hanya dapat dipahami secara utuh oleh perempuan itu sendiri".
4. Komentari pelatihan gaya semi-militer

Terkait metode pelatihan petugas haji tahun ini yang mengadopsi gaya semi-militer, Alissa memberikan catatan khusus. Ia setuju jika tujuannya untuk membangun jiwa korsa, namun ia mengingatkan bahaya pendekatan yang terlalu kaku.
"Pendekatan militeristik yang kaku dan serba satu komando tidaklah tepat, karena pelayanan jamaah haji membutuhkan fleksibilitas dan improvisasi cepat di lapangan," tutupnya















