KSP Tinjau Pemulihan Banjir Aceh Tamiang, 600 Huntara Siap Dihuni

- Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Tinjau Pemulihan Banjir Aceh Tamiang
- 600 Huntara Siap Dihuni, Pengungsi Dipindahkan dari Tenda ke Huntara
- Huntara di Desa Simpang Opak Dinilai Lebih Layak dan Manusiai
Jakarta, IDN Times - Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari meninjau langsung progres pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Peninjauan difokuskan pada kesiapan hunian sementara (huntara) serta perkembangan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak.
Dalam kunjungannya ke lokasi huntara Desa Simpang Opak, Kecamatan Karang Baru, Qodari memastikan para pengungsi yang sebelumnya tinggal di tenda dapat segera menempati huntara. Sebanyak 600 unit huntara telah selesai dibangun dan siap digunakan secara bertahap.
“Kami mengecek langsung huntara yang disiapkan Danantara. Kabar baiknya, pengungsi yang selama ini berada di tenda akan segera dipindahkan ke huntara ini,” ujar Qodari dalam keterangannya, dikutip Sabtu (17/1/2026).
1. Presiden Prabowo ingin huntara nyaman dihuni warga

Qodari menjelaskan, peninjauan tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto sebelumnya. Presiden menekankan huntara harus layak, nyaman, dan manusiawi bagi para penyintas bencana.
Sejumlah perbaikan telah dilakukan pada huntara, di antaranya pemasangan plafon untuk mengurangi panas di dalam hunian. Selain itu, fasilitas tempat tidur juga terus dilengkapi agar warga dapat beristirahat dengan lebih nyaman.
“Huntara ini udah dipasang plafon, jadi tidak panas lagi. Kita juga sudah lihat, ada yang pakai ranjang, yang belum menyusul, sedang dalam proses,” kata dia.
2. Huntara di Aceh berlokasi di tempat strategis

Menurut Qodari, lokasi huntara Simpang Opak dinilai sangat strategis dan mudah dijangkau. Kawasan tersebut berada di lingkungan yang ramai dengan akses jalan raya yang memadai.
Di sekitar huntara tersedia berbagai fasilitas dasar, seperti masjid, permukiman warga, warung, dapur umum, klinik kesehatan, serta area bermain anak. Kondisi ini dinilai jauh lebih layak dibandingkan pengungsian berbasis tenda.
Selain itu, di area yang sama juga tengah dibangun hunian tetap. Dengan demikian, warga dapat berpindah secara bertahap dari huntara ke huntap tanpa harus berpindah jauh dari lingkungan sosialnya.
“Ini bukan lokasi terpencil. Lebih layak dan manusiawi dibandingkan tinggal di tenda. Di sini fasilitas dasar tersedia, dan di sebelahnya juga sedang dibangun hunian tetap,” ucap dia.
3. Pemindahan warga ke huntara dilakukan secara bertahap

Koordinator HAKA Pembangunan Huntara Aceh Tamiang, Yusuf Sitorus, mengatakan proses pemindahan warga dari tenda ke huntara dilakukan secara bertahap. Langkah ini diambil untuk memastikan penempatan warga berjalan tertib dan nyaman.
Pada Kamis (15/1), sebanyak 154 kepala keluarga mulai menempati huntara. Mereka berasal dari Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir dengan sekitar 300 rumah rusak atau hilang.
“Total 600 unit huntara sudah selesai dibangun dalam waktu sekitar dua pekan. Pemindahan dilakukan bertahap agar penempatan warga lebih tertata dan nyaman,” ujar Yusuf.
Salah satu penyintas banjir, Yandra Saputra, mengaku lega setelah keluarganya dapat menempati huntara. Ia mengatakan kondisi hunian sementara jauh lebih nyaman dibandingkan tenda pengungsian.
“Senang sekali pindah ke huntara ini. Tidak panas lagi seperti di tenda,” kata Yandra.


















