Warga Gaza Masih Bertahan di Tenda Usang di Tengah Ancaman Badai Baru

- Israel hambat bantuan penting bagi warga Palestina di GazaMenurut Azzoum, krisis ini merupakan dampak langsung dari pembatasan Israel, yang tidak mengizinkan masuknya unit hunian mobil prefabrikasi dan bahan bangunan yang dibutuhkan untuk perlindungan musim dingin.
- Puluhan orang tewas akibat kondisi cuaca ekstremSelama beberapa bulan terakhir, puluhan bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan udara Israel runtuh saat terjadinya badai. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 25 orang tewas tertimpa reruntuhan.
- 465 orang tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjataMiliter Israel telah membunuh lebih dari 71
Jakarta, IDN Times - Badai baru diperkirakan akan melanda Gaza, mengancam kehidupan ratusan ribu pengungsi Palestina yang tinggal di tenda-tenda darurat yang sudah tidak layak pakai. Menurut laporan berita Palestina Wafa, Departemen Meteorologi Palestina memperingatkan bahwa risiko embun beku dan suhu ekstrem akan terjadi di sebagian besar wilayah Palestina pada Selasa malam hingga Rabu pagi (20-21/1/2026).
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza, pekan lalu, menyebutkan bahwa 127 ribu dari 135 ribu tenda di kamp pengungsian tidak lagi dapat digunakan akibat cuaca ekstrem yang terjadi baru-baru ini.
“Kenyataan di lapangan menggambarkan situasi yang sangat menyakitkan dan suram. Ratusan ribu keluarga pengungsi masih hidup di tenda-tenda yang robek dan rumah-rumah tanpa atap, terpapar hujan, udara dingin, serta malam-malam yang membeku," kata jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, pada Senin (19/1/2026).
1. Israel hambat bantuan penting bagi warga Palestina di Gaza
Menurut Azzoum, krisis ini merupakan dampak langsung dari pembatasan Israel, yang tidak mengizinkan masuknya unit hunian mobil prefabrikasi dan bahan bangunan yang dibutuhkan untuk perlindungan musim dingin sekaligus menghambat bantuan penting lainnya.
Untuk bertahan di tengah kondisi sulit tersebut, warga Palestina melapisi tenda-tenda usang mereka dengan lembaran plastik, tetap mengenakan pakaian lengkap, dan membakar sisa-sisa barang di dalam tenda untuk dijadikan sumber pemanas akibat keterbatasan bahan bakar.
Berdasarkan gencatan senjata yang diterapkan mulai 10 Oktober 2025, pengiriman bantuan ke Gaza seharusnya ditingkatkan secara signifikan, dengan sedikitnya 600 truk dijadwalkan masuk setiap hari. Namun, Kantor Media Pemerintah menyebutkan bahwa rata-rata hanya sekitar 145 truk yang masuk ke wilayah tersebut sejak gencatan senjata.
2. Puluhan orang tewas akibat kondisi cuaca ekstrem
Selama beberapa bulan terakhir, puluhan bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan udara Israel runtuh saat terjadinya badai.Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 25 orang tewas tertimpa reruntuhan.
Sementara itu, kematian akibat paparan suhu dingin telah meningkat menjadi 24 orang, dengan 21 di antaranya adalah anak-anak.
Pekan lalu, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza mengatakan terjadi lonjakan pasien, terutama anak-anak, yang menderita penyakit terkait cuaca dingin, di rumah sakit di seluruh wilayah tersebut. Organisasinya juga menerima ratusan panggilan permintaan bantuan akibat suhu yang sangat dingin.
3. 465 orang tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata
Militer Israel telah membunuh lebih dari 71 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 171 ribu lainnya sejak melancarkan perang di Gaza pada Oktober 2023. Sebagian besar korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.
Meski gencatan senjata telah diberlakukan, Israel tetap melanjutkan serangannya hingga menewaskan sedikitnya 465 orang dan melukai 1.287 lainnya. Pasukan Israel juga terus menguasai zona penyangga di bagian selatan dan timur Gaza serta sebagian besar Gaza utara, mempertahankan kendali atas hampir 50 persen wilayah tersebut, dilansir dari Anadolu.















