Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Boediastoeti Ontowirjo dalam Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara PII, BRIN dan BPS untuk memperkuat IKD, di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah)
Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Boediastoeti Ontowirjo, menyampaikan dukungannya terhadap IKD dan siap membangun kolaborasi erat antara insinyur dengan sumber daya manusia IPTEK yang merupakan komponen utama dalam ekosistem riset dan inovasi nasional.
Ia menyebut, IKD dapat menjadi alat diagnosis atau benchmarking (tolak ukur) untuk memahami di mana posisi kekuatan daerah dan apa yang harus diperkuat.
IKD, lanjutnya, juga dapat menjadi dasar bagi daerah untuk meningkatkan kebijakan yang sesuai dengan standar keinsinyuran, meningkatkan kompetensi insinyur, standar dan praktik keteknikan, serta menumbuhkan ekosistem teknologi dan inovasi di berbagai daerah.
Pada kesempatan ini, Boediastoeti mencontohkan Royal Academy of Engineering. Mereka merilis Engineering Index yang dikembangkan dengan ukuran komparatif untuk melihat kemampuan suatu negara dalam menjalankan kegiatan keteknikan secara aman dan inovatif. Ia juga menjelaskan bahwa indeks tersebut tidak hanya melihat dari jumlah insinyur tetapi mengembangkan 23 indikator.
Lebih lanjut, indikator-indikator tersebut dikelompokkan menjadi 6 kategori meliputi knowledge, labor force, engineering industry, infrastructure, digital (khususnya digital infrastructure), dan safety standard.
Hal tersebut menjadi dasar pengukuran kapabilitas insinyur yang dipandang sebagai sebuah ekosistem. Ekosistem yang bukan semata-mata hanya mengukur jumlah profesionalitas dari insinyur itu sendiri. Sehingga dapat membantu para pembuat keputusan atau pembuat kebijakan memahami gap dan menentukan prioritas perbaikan.
"BRIN menyambut baik penandatanganan kerja sama tersebut dan dengan demikian kami akan mendukung PII untuk terus mengembangkan Indeks Keinsinyuran Daerah yang akan semakin bisa dimanfaatkan ke depan untuk dalam bentuk kajian, lalu diagnosis, dan rekomendasi kebijakan berbasis IKD," ujar Boediastoeti.