Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PII Gandeng BRIN dan BPS Perkuat Pengukuran Indeks Keinsinyuran Daerah

PII Gandeng BRIN dan BPS Perkuat Pengukuran Indeks Keinsinyuran Daerah
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara PII, BRIN dan BPS untuk memperkuat IKD, di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah)
  • PII menandatangani MoU dengan BRIN dan BPS pada 29 Agustus 2026 untuk memperkuat pengukuran serta pemetaan ekosistem Indeks Keinsinyuran Daerah di Indonesia.
  • IKD diposisikan sebagai alat diagnosis daerah untuk menilai kebijakan, kompetensi insinyur, standar, pengawasan proyek, serta pengembangan teknologi dan inovasi berbasis kebutuhan lokal.
  • BRIN mendukung kajian dan rekomendasi kebijakan berbasis IKD, sementara BPS memperkuat metodologi, standardisasi data, dan objektivitas pengukuran agar dapat dibandingkan secara konsisten.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperkuat pengukuran dan memetakan ekosistem Indeks Keinsinyuran Daerah (IKD) di seluruh wilayah Indonesia.

Kerja sama tersebut tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani pada Sabtu (29/8/2026) di Jakarta Pusat.

Kerja sama ini merupakan langkah sinergis sekaligus menjadi bagian dari persiapan menyambut Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO) 44, yang akan digelar di Bandung pada 20-22 Oktober 2026.

Kerja sama ini dibangun untuk memastikan pembangunan infrastruktur dan teknologi di tingkat daerah memiliki dasar riset, serta data statistik yang optimal.

  1. 1. Pentingnya IKD dalam pembangunan daerah

    Direktur Eksekutif PII Ir. Santhi H. menandatangani perjanjian kerja sama PII, BRIN, dan BPS di Jakarta.
    Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ir. Santhi dalam Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara PII, BRIN dan BPS untuk memperkuat IKD, di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Santhi Serad mengungkapkan, IKD penting untuk membantu melihat apakah keinsinyuran telah menjadi bagian dari sistem kebijakan pembangunan daerah, di mana kebijakan membutuhkan tenaga profesional yang kompeten.

    Ia menyoroti kompetensi yang diterapkan dalam setiap pembangunan, hasilnya harus aman, berkualitas, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

    Terkait pemberian penghargaan Indeks Keinsinyuran Daerah (IKD) kepada kepala daerah, yang berlangsung pada Sabtu (29/8/2026) di Jakarta, Santhi menyebutnya bukan sekadar pengakuan terhadap hasil akhir.

    "Penghargaan ini merupakan apresiasi terhadap proses membangun ekosistem keinsinyuran di daerah. Kami berharap para penerima penghargaan terus memperkuat pendidikan profesi bagi ASN teknik, sertifikasi dan registrasi insinyur, penerapan standar keinsinyuran, pengawasan proyek, serta pengembangan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter daerah," ujar Santi.

    Sebagai Ketua Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO 44), Santhi mengatakan, pemberian penghargaan IKD memiliki makna khusus, karena menjadi bagian penting dari Road to CAFEO 44.

    Adapun CAFEO merupakan forum tahunan yang sangat penting untuk organisasi keinsinyuran di kawasan ASEAN. Forum ini mempertemukan para insinyur. Tahun ini, Indonesia melalui Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mendapat kehormatan menjadi tuan rumah CAFEO 44, yang akan berlangsung di Bandung.

  2. 2. BRIN dukung pengembangan SDM IPTEK dan riset keinsinyuran

    Boediastoeti Ontowirjo dari BRIN saat penandatanganan kerja sama PII, BRIN, dan BPS untuk memperkuat IKD di Jakarta.
    Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Boediastoeti Ontowirjo dalam Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara PII, BRIN dan BPS untuk memperkuat IKD, di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Boediastoeti Ontowirjo, menyampaikan dukungannya terhadap IKD dan siap membangun kolaborasi erat antara insinyur dengan sumber daya manusia IPTEK yang merupakan komponen utama dalam ekosistem riset dan inovasi nasional.

    Ia menyebut, IKD dapat menjadi alat diagnosis  atau benchmarking (tolak ukur) untuk memahami di mana posisi kekuatan daerah dan apa yang harus diperkuat.

    IKD, lanjutnya, juga dapat menjadi dasar bagi daerah untuk meningkatkan kebijakan yang sesuai dengan standar keinsinyuran, meningkatkan kompetensi insinyur, standar dan praktik keteknikan, serta menumbuhkan ekosistem teknologi dan inovasi di berbagai daerah.

    Pada kesempatan ini, Boediastoeti mencontohkan Royal Academy of Engineering. Mereka merilis Engineering Index yang dikembangkan dengan ukuran komparatif untuk melihat kemampuan suatu negara dalam menjalankan kegiatan keteknikan secara aman dan inovatif. Ia juga menjelaskan bahwa indeks tersebut tidak hanya melihat dari jumlah insinyur tetapi mengembangkan 23 indikator.

    Lebih lanjut, indikator-indikator tersebut dikelompokkan menjadi 6 kategori meliputi  knowledge, labor force, engineering industry, infrastructure, digital (khususnya digital infrastructure), dan safety standard.

    Hal tersebut menjadi dasar pengukuran kapabilitas insinyur yang dipandang sebagai sebuah ekosistem. Ekosistem yang bukan semata-mata hanya mengukur jumlah profesionalitas dari insinyur itu sendiri. Sehingga dapat membantu para pembuat keputusan atau pembuat kebijakan memahami gap dan menentukan prioritas perbaikan.

    "BRIN menyambut baik penandatanganan kerja sama tersebut dan dengan demikian kami akan mendukung PII untuk terus mengembangkan Indeks Keinsinyuran Daerah yang akan semakin bisa dimanfaatkan ke depan untuk dalam bentuk kajian, lalu diagnosis, dan rekomendasi kebijakan berbasis IKD," ujar Boediastoeti.

  3. 3. BPS berkomitmen memperkuat metodologi sebagai lembaga statistik negara

    Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menghadiri penandatanganan kerja sama PII, BRIN, dan BPS di Jakarta.
    Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti dalam Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara PII, BRIN dan BPS untuk memperkuat IKD, di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah)

    Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, BPS akan berkontribusi penuh untuk memperkuat metodologi sesuai dengan kapasitas sebagai lembaga statistik resmi negara. BPS juga ingin berkontribusi untuk memperkuat standardisasi data, dan juga kualitas pengukuran.

    Tujuannya, agar indeks yang dibangun oleh PII dan Kementerian Dalam Negeri dapat terus konsisten dan objektif sehingga dapat diperbandingkan pengukurannya.

    Amalia juga menyatakan yakin, kolaborasi antara BPS, Kemendagri, dan PII akan menjadi kekuatan bersama untuk membangun bangsa berbasis inovasi.

    Menurut Amalia, daerah bukan hanya sekadar melakukan pembangunan, melainkan juga bisa membangun dengan inovasi yang baik sehingga dapat mendorong produktivitas yang lebih cepat.

    Amalia berharap, Indeks Keinsinyuran Daerah dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar angka atau pemeringkatan, tetapi membantu memperkuat daerah, menyelamatkan dari tantangan yang dihadapi, dan memperkuat kapasitas keinsinyuran di daerah tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More