Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gempa NTT, PII Dorong Penerapan Struktur Bangunan Tahan Gempa

Gempa NTT, PII Dorong Penerapan Struktur Bangunan Tahan Gempa
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie. (Dok. PII)
  • Gempa Magnitudo 7,7 di NTT pada 15 Agustus 2026 menewaskan 68 orang, melukai 231 orang, dan memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi, menurut BNPB.
  • PII mendorong insinyur dan pemerintah daerah menerapkan perencanaan, perancangan, serta konstruksi bangunan tahan gempa karena kerusakan bangunan rentan menjadi penyebab utama korban.
  • PII bersama Kemendagri mengukur Indeks Keinsinyuran Daerah pada 2026, sementara seluruh pihak didorong mengevaluasi dan memperkuat ketahanan bangunan serta infrastruktur di daerah rawan gempa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 7,7 yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, telah mengakibatkan banyak korban jiwa. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin, 17 Agustus 2026, jumlah korban meninggal sementara mencapai 68 jiwa, 231 orang luka-luka, dan lebih dari 5.000 lainnya mengungsi.

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, menyampaikan duka cita mendalam kepada warga terdampak gempa.

“Kami menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa yang sangat dalam, terutama kepada para warga yang terdampak gempa bumi di Ende, NTT, Sabtu (15 Agustus 2026) lalu,” ujar Ilham dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (18/8/2026).

Ilham mendorong agar para insinyur di Indonesia membantu warga dan pemerintah daerah dalam menerapkan perencanaan bangunan tahan gempa, untuk mengurangi risiko kegagalan bangunan akibat gempa bumi. PII juga mendorong penerapan sistem perancangan dan konstruksi bangunan tahan gempa, untuk mengurangi keruntuhan bangunan yang sering menjadi penyebab banyaknya korban jiwa saat gempa bumi terjadi.

  1. 1. Kerusakan bangunan menjadi faktor utama korban berjatuhan

    Gempa NTT, PII Dorong Penerapan Struktur Bangunan Tahan Gempa
    Kerusakan bangunan yang terdampak gempa bumi M7,7 di Kabupaten Manggarai Timur, NTT. (dok. BPBD Kabupaten Manggarai Timur)

    Ketua Divisi Kebencanaan dan Kesiapsiagaan PII, Profesor Wayan Sengara, yang juga Ketua Asosiasi Ahli Rekayasa Kegempaan Indonesia (AARGI) mengungkapkan, kerusakan bangunan yang terjadi pada saat gempa terjadi sering kali menjadi penyebab utama jatuhnya korban jiwa dan korban luka warga yang berasal dari bangunan dengan tingkat kerentanan tinggi.

    “Kerusakan dan kegagalan bangunan yang terjadi pada saat gempa adalah akibat tingkat kerentanan yang tinggi dari elemen-elemen fisik bangunan. Salah satu hal yang dapat menjadi perhatian kembali dari kegagalan bangunan saat terjadi gempa bumi ini adalah refleksi dari sistem perancangan dan konstruksi bangunan yang telah diterapkan dan meyakinkan pemenuhan terhadap standard bangunan tahan gempa,” ungkapnya.

    Wayan juga mengungkapkan penyebab kegagalan dan kerusakan bangunan, salah satunya karena minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dan pihak-pihak terkait terhadap pentingnya bangunan tahan gempa.

  2. 2. PII dan Kemendagri bekerja sama melakukan IKD

    Gempa NTT, PII Dorong Penerapan Struktur Bangunan Tahan Gempa
    Pimpinan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dengan Ketua Umum Ilham Akbar Habibie (IDN Times/Sunariyah)

    Dalam hal ini, PII bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri pada 2026 untuk melakukan pengukuran Indeks Keinsinyuran Daerah (IKD). Hal ini bertujuan agar praktik keinsinyuran pembangunan selaras dengan amanat yang tertulis pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014, yaitu dapat memberi perlindungan bagi tiga pihak.

    Di antaranya bagi insinyur sebagai pelaku profesi keinsinyuran, bagi pengguna jasa insinyur seperti pemerintah, dan bagi masyarakat yang memanfaatkan hasil kerjanya, seperti bangunan, infrastruktur atau fasilitas keinsinyuran lainnya.

    Mengingat, di Indonesia sebagian wilayahnya merupakan daerah rawan gempa, Ilham juga mengharapkan banyak insinyur profesional yang terlibat membantu meningkatkan standar bangunan tahan gempa, untuk mengurangi dampak fatalitas atau korban jiwa ketika bencana terjadi.

  3. 3. Harapan kejadian ini menjadi bahan evaluasi

    Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie. (Dok. PII)
    Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie. (Dok. PII)

    Gempa bumi yang mengguncang NTT dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust Utara atau sesar naik busur belakang, yang aktif membentang di bagian utara rangkaian Kepulauan Nusa Tenggara.

    Gempa bumi besar juga pernah terjadi di zona yang sama beberapa tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa aktivitas sesar di wilayah Nusa Tenggara dapat menghasilkan gempa bumi yang cukup kuat, dan perlu diwaspadai masyarakat di wilayah sekitarnya.

    Dengan adanya kejadian ini, Wayan berharap, semua pihak dapat menjadikan bencana gempa bumi ini sebagai bahan evaluasi, termasuk para ahli di Persatuan Insinyur Indonesia (PII), pemerintah, serta pihak-pihak terkait lainnya. Evaluasi tersebut, khususnya, diperlukan untuk memperkuat ketahanan bangunan dan infrastruktur di berbagai daerah, agar lebih mampu menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang.

    “Kita bersama perlu belajar kembali bagaimana ilmu dan teknologi mitigasi bencana gempa, untuk cepat diserap dan diaplikasikan dengan penguatan kapasitas pada segala aspek terkait, mulai dari hulu sampai hilir, dalam sistem rantai bencana," ungkapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More