Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Puskapol UI: Pidato Kenegaraan Prabowo Penuh Paradoks
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik FISIP UI (Puskapol UI) Hurriyah dalam acara Ngobrol Seru di IDN Times. (IDN Times/Mikho Fridolin Siahaan)
  • Hurriyah dari Puskapol UI menilai pidato kenegaraan Prabowo lebih menonjolkan program baru serta klaim ekonomi dan sosial, ketimbang evaluasi kinerja pemerintah pada ekonomi riil dan pendidikan.
  • Menurut Hurriyah, capaian besar Prabowo selama 21 bulan adalah konsolidasi politik luas melalui dukungan DPR, birokrasi, partai politik, militer, dan kepolisian, meski tidak banyak disorot.
  • Konsolidasi yang dinilai berlebihan memunculkan minimnya oposisi dan melemahkan kekuatan pengimbang, sehingga berisiko mengaburkan akuntabilitas kebijakan serta fungsi check and balances demokrasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Hurriyah menilai pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto lebih menonjolkan program baru dan klaim kebijakan ekonomi-sosial daripada evaluasi kinerja pemerintah serta peta politik nasional.
  • Who?
    Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato; Hurriyah, Direktur Eksekutif Puskapol UI dan Ketua Jaringan Cendekiawan Indonesia untuk Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan, memberikan penilaian.
  • Where?
    Pidato disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR, DPR, dan DPD RI. Tanggapan Hurriyah disampaikan dalam program Ngobrol Seru by IDN Times di Jakarta.
  • When?
    Hurriyah menyampaikan pandangannya pada Jumat, 14 Agustus 2026. Pidato Presiden berlangsung hampir dua jam; waktu penyampaiannya per saat ini tidak disebutkan.
  • Why?
    Menurut Hurriyah, fokus pada program dan ekonomi menjadi pilihan aman karena pembahasan peta politik dapat membuka celah mengenai melemahnya fungsi check and balances.
  • How?
    Hurriyah menilai konsolidasi dukungan dari DPR, birokrasi, partai politik, militer, dan kepolisian memperkuat governability, tetapi berlebihan sehingga mengurangi kekuatan pengimbang dan berisiko mengaburkan akuntabilitas kebijakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Presiden Prabowo bicara hampir dua jam di sidang besar. Ia banyak cerita soal program ekonomi dan sosial yang baru. Bu Hurriyah dari UI bilang pidato itu kurang cerita tentang hasil kerja pemerintah selama 21 bulan. Ia juga khawatir dukungan politik pemerintah terlalu besar dan lawan politiknya sedikit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), Hurriyah, mengkritisi pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR, DPR, dan DPD RI, Jumat (14/8/2026).

Menurut Hurriyah pidato Prabowo yang berdurasi hampir dua jam itu cenderung fokus pada program-program yang baru, dibandingkan mengevaluasi kinerja selama masa jabatannya dua tahun ini.

"Kalau kita lihat, sedari awal yang dibanggakan adalah capaian di bidang ekonomi dan sosial. Tapi menurut saya ini agak problematik, karena beliau bicara tentang program baru, bukan bagaimana performa pemerintah dalam memperbaiki situasi yang ada, seperti kondisi ekonomi riil atau pendidikan," ujar Hurriyah dalam program Ngobrol Seru by IDN Times, Jumat (14/8/2026).

Hurriyah menyebut Prabowo justru berparadoks. Presiden tidak mengekspose pencapaian terbesarnya selama 21 bulan menjabat di bidang konsolidasi politik. Ia menilai pemerintah berhasil membangun basis dukungan institusional kuat dan lingkup yang luas, yang ditandai dengan keterlibatan DPR, birokrasi, partai politik, militer, hingga kepolisian.

Dominasi tersebut, kata Hurryah, telah bergulir menjadi sebuah konsolidasi politik yang berlebihan.

"Dari sisi governability, dukungan politik yang kuat tentu baik. Namun, karena menjadi excessive (berlebihan), pemerintah justru kehilangan countervailing power atau kekuatan pengimbang yang jelas," jelas Hurriyah.

Ketua Jaringan Cendekiawan Indonesia untuk Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan ini juga menyematkan kekhawatirannya akan kondisi minimnya oposisi. Tanpa kekuatan penyeimbang ini ke depannya berisiko mengaburkan akuntabilitas kebijakan politik di depan publik.

Hurriyah juga menilai pilihan Presiden Prabowo untuk mendominasi pemaparan klaim kebijakan ekonomi daripada menyinggung peta politik nasional, adalah langkah aman untuk menghindari celah hilangnya fungsi check and balances dalam politik demokrasi Indonesia hari ini.

Di akhir diskusi, Hurriyah menyebut satu kata untuk pidato tahunan Presiden Prabowo, "full pradox."

Curated For You

Editorial Team

Related Article