Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Refleksi Akhir Tahun, Warek IPB: Bukan Sawit Penyebab Banjir Sumatra

Refleksi Akhir Tahun, Warek IPB: Bukan Sawit Penyebab Banjir Sumatra
ilustrasi kelapa sawit (commons.m.wikimedia.org/Wagino 20100516)
Intinya sih...
  • Sawit jarang sekali mengonversi hutan secara langsung. Perubahan tutupan lahan tidak identik dengan hutan langsung jadi sawit, namun hilangnya tutupan hutan menciptakan kerentanan lahan.
  • Karakteristik sawit sebagai tanaman dataran rendah. Sawit bukan tanaman gunung, sehingga banjir bandang umumnya dipicu oleh gangguan di daerah hulu atau dataran tinggi, bukan karena perkebunan sawit yang berada di bawah.
  • Cuaca ekstrem dan siklon akibat perubahan iklim. Dampak dari perubahan iklim adalah semakin tingginya cuaca ekstrem, yang menjadi pemicu utama bencana yang terjadi saat ini.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bogor, IDN Times - Isu keterkaitan antara perkebunan kelapa sawit dengan bencana banjir bandang di Sumatra tengah menjadi sorotan hangat.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat Agromaritim (WR III) IPB University, Ernan Rustiadi, mengatakan melihat fenomena ini harus secara proporsional.

Ernan menjelaskan IPB tidak memiliki satu suara tunggal mengenai sawit, karena dunia ilmiah sangat menghargai perbedaan pendapat. Ada akademisi yang melihat sawit sebagai pilar ekonomi, namun ada juga yang sangat kritis terhadap dampak lingkungannya.

"Jadi gini, kalau bertanya terkait sawit dengan orang-orang IPB, pasti akan menemukan perbedaan pandangan, di dalam dunia ilmiah perbedaan pendapat itu biasa. Di antara kami pun profesor gak akan sama pandangan tentang sawit," ujar Ernan dalam acara Sarasehan dan Refleksi Akhir Tahun 2025 di IPB Dramaga, Bogor, Rabu (31/12/2025).

"Menurut saya, kalau tanahnya sesuai, unsur haranya sesuai, sawit gak apa-apa, bukan sawit (penyebanya), pengaruh ke perubahan iklim iya, tapi global, bukan banjir sekarang, langsung karena (kebun) sawit," tambahnya.

Ernan menyebut sebagian ahli melihat sawit sebagai sumber kesejahteraan dan devisa negara, sementara sebagian lain kritis karena menganggap sawit memicu masalah lingkungan.

1. Sawit jarang sekali mengonversi hutan secara langsung

Refleksi Akhir Tahun, Warek IPB: Bukan Sawit Penyebab Banjir Sumatra
ilustrasi kebun sawit (commons.m.wikimedia.org/Dyima Guszita)

Salah satu poin yang ditekankan adalah mengenai perubahan tutupan lahan. Ernan menyebutkan sangat kecil kemungkinan hutan di Indonesia langsung berubah menjadi perkebunan sawit secara instan.

"Perubahan tutupan lahan juga tidak identik dengan hutan langsung jadi sawit. Bahkan, kecil sekali kemungkinan dari hutan itu langsung ke sawit. Biasanya sawit itu mengonversi yang sudah tidak ada hutannya, daerah-daerah yang sudah semak," jelasnya.

Namun, Ernan tidak membantah, hilangnya tutupan hutan di beberapa titik, memang menciptakan kerentanan lahan, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem.

2. Karakteristik sawit sebagai tanaman dataran rendah

Refleksi Akhir Tahun, Warek IPB: Bukan Sawit Penyebab Banjir Sumatra
ilustrasi pohon kelapa sawit (pixabay.com/sarangib)

Terkait banjir bandang, Ernan meluruskan persepsi publik dengan menjelaskan posisi geografis tanaman sawit. Banjir bandang umumnya dipicu gangguan di daerah hulu atau dataran tinggi, sedangkan sawit bukan tanaman gunung.

"Sawit itu tanaman dataran rendah, tidak tumbuh di dataran tinggi, sehingga gelondongan-gelondongan kayu yang terlihat (saat banjir) kan gak ada gelondongan tanaman sawit. Sekarang kebalikannya, tanaman sawit itu justru sekarang kena banjir," tuturnya.

Menurut Ernan, banjir bandang lebih sering dipicu penyumbatan di hulu sungai, akibat penebangan ilegal atau pembukaan lahan di dataran tinggi, bukan karena perkebunan sawit yang berada di bawah.

3. Cuaca ekstrem dan siklon akibat perubahan iklim

Refleksi Akhir Tahun, Warek IPB: Bukan Sawit Penyebab Banjir Sumatra
BMKG peringatkan cuaca ekstrem di wilayah Sumut, akibat siklon tropis. (DOk. BMKG)

Faktor yang tak kalah penting dalam rentetan bencana pada akhir 2025 ini adalah fenomena cuaca yang extraordinary. Ernan menyebut adanya siklon yang tidak reguler sebagai dampak nyata dari perubahan iklim.

"Dampak dari perubahan iklim adalah semakin tingginya cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem itu dari tahun ke tahun semakin tinggi intensitasnya, yang tadinya 20-30 tahun sekali, sekarang jadi lebih cepat," ungkap Ernan.

Ernan menambahkan curah hujan yang luar biasa tinggi ini menjadi pemicu utama bencana yang terjadi saat ini, sehingga masyarakat perlu memahami situasi ini secara proporsional.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More

Gibran Tinjau Kawasan Legislatif-Yudikatif IKN, Targetkan Rampung 2027

01 Jan 2026, 08:17 WIBNews