Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

UEA Tarik Seluruh Pasukan dari Yaman usai Diserang Arab Saudi

bendera Uni Emirat Arab
bendera Uni Emirat Arab (unsplash.com/Saj Shafique)
Intinya sih...
  • Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara terbatas ke pelabuhan Mukalla di Yaman selatan pada Selasa pagi.
  • Operasi tersebut menargetkan pengiriman senjata dan kendaraan tempur yang baru tiba menggunakan dua kapal dari Fujairah, UEA.
  • Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengecam dugaan keterlibatan UEA dalam pemberontakan separatis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penarikan sisa pasukannya dari Yaman pada Selasa (30/12/2025). Keputusan mendadak ini diambil setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke pelabuhan Mukalla yang dikuasai kelompok separatis dukungan UEA.

Kementerian Pertahanan UEA menyatakan langkah penarikan personel kontraterorisme tersebut dilakukan atas keinginan sendiri demi keselamatan pasukan. Ketegangan antara dua sekutu Teluk ini memuncak usai Riyadh menuduh Abu Dhabi menyelundupkan senjata untuk pemberontak yang mengancam keamanan nasional Saudi.

1. Arab Saudi serang pengiriman senjata dari UEA

ilustrasi bendera Arab Saudi. (unsplash.com/ Akhilesh Sharma)
ilustrasi bendera Arab Saudi. (unsplash.com/ Akhilesh Sharma)

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara terbatas ke pelabuhan Mukalla di Yaman selatan pada Selasa pagi. Operasi tersebut menargetkan pengiriman senjata dan kendaraan tempur yang baru tiba menggunakan dua kapal dari Fujairah, UEA. Video yang dirilis koalisi memperlihatkan satu serangan menghantam deretan kendaraan di pangkalan dalam pelabuhan.

Pihak Kerajaan Saudi menuduh pengiriman tersebut ditujukan untuk Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA. Menurut Riyadh tindakan tersebut mengancam stabilitas regional serta keamanan perbatasan mereka. Mereka juga mengklaim awak kapal sengaja mematikan perangkat pelacak saat memasuki perairan Yaman.

"Kerajaan menekankan setiap ancaman terhadap keamanan nasionalnya adalah garis merah, dan Kerajaan tidak akan ragu mengambil semua langkah serta tindakan yang diperlukan untuk menghadapi dan menetralkan ancaman semacam itu," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi, dilansir CNN.

UEA membantah tuduhan pengiriman senjata ilegal tersebut dan mengaku terkejut dengan serangan udara yang dilakukan sekutunya. Abu Dhabi mengklaim kendaraan yang diturunkan bukan untuk pihak Yaman, melainkan logistik bagi pasukan kontraterorisme UEA yang beroperasi di sana. Namun, melihat perkembangan situasi yang tidak kondusif, UEA akhirnya memilih menarik seluruh sisa pasukannya dari Yaman.

2. Yaman akhiri pakta pertahanan dengan UEA

bendera Yaman
bendera Yaman (pixabay.com/Chickenonline)

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengecam dugaan keterlibatan UEA dalam pemberontakan separatis. Ketua Dewan Kepresidenan Yaman, Rashad al-Alimi, langsung membatalkan pakta pertahanan dengan UEA. Ia juga mengeluarkan ultimatum agar seluruh pasukan Emirat meninggalkan wilayah Yaman dalam kurun waktu 24 jam.

Al-Alimi turut mendeklarasikan status darurat negara selama 90 hari untuk menghadapi potensi kekacauan lebih lanjut. Langkah ini diambil setelah pasukan STC yang disokong UEA berhasil merebut provinsi kaya minyak Hadhramaut.

"Sayangnya, telah dikonfirmasi secara pasti bahwa Uni Emirat Arab menekan dan mengarahkan STC untuk merusak dan memberontak terhadap otoritas negara melalui eskalasi militer," ujar Al-Alimi dalam pidato televisi, dilansir The Straits Times.

Sementara itu, kelompok separatis STC menolak perintah mundur dan bersikeras mempertahankan wilayah yang telah mereka kuasai di Yaman selatan. Juru bicara STC menyatakan mereka sedang dalam posisi defensif dan akan merespons setiap ancaman yang mendekat. Situasi di lapangan semakin tegang dengan adanya laporan 20 ribu pasukan dukungan Saudi berkumpul di perbatasan Yaman.

3. Hubungan Arab Saudi dan UEA semakin retak

Menurut The Guardian, insiden di Mukalla menandai titik terendah baru dalam hubungan antara Arab Saudi dan UEA. Kedua negara yang dulunya merupakan sekutu regional kini memiliki perbedaan kepentingan tajam, mulai dari kebijakan kuota minyak OPEC hingga pengaruh geopolitik di Sudan dan Yaman. Persaingan perebutan pengaruh di Yaman telah memecah fokus koalisi dalam melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Amerika Serikat (AS) telah turun tangan untuk mencegah konflik terbuka antara dua mitra strategisnya tersebut. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, langsung menghubungi rekan sejawatnya di Saudi dan UEA untuk mendorong diplomasi.

"Amerika Serikat prihatin dengan peristiwa baru-baru ini di Yaman tenggara, kami mendesak penahanan diri dan diplomasi berkelanjutan, dengan tujuan mencapai solusi yang langgeng," kata Rubio, dilansir CNN.

Konflik berkepanjangan di Yaman telah menewaskan sekitar 377 ribu orang dan menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Perpecahan di kubu koalisi anti-Houthi dikhawatirkan akan semakin memperburuk penderitaan warga sipil yang kelaparan. PBB memperingatkan, dimulainya kembali pertempuran skala penuh dapat semakin mengguncang stabilitas area Laut Merah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Hujan Lebat, Kamp Pengungsi Palestina di Gaza Terendam Banjir

01 Jan 2026, 06:10 WIBNews