Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Riset UI Ungkap Masalah Utama Desain Program Makan Bergizi Gratis

Riset UI Ungkap Masalah Utama Desain Program Makan Bergizi Gratis
Mobil operasional SPPG di Lombok Timur (IDN Times/Ruhaili)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Riset Labsosio UI menemukan lima masalah utama dalam desain Program Makan Bergizi Gratis, termasuk perencanaan top-down, struktur komando kaku, dan pendanaan yang sepenuhnya terpusat.
  • Penelitian dilakukan di lima daerah dengan metode mixed method, menggabungkan survei kuantitatif dan wawancara kualitatif untuk menilai dampak program terhadap aktivitas belajar di sekolah.
  • Sebanyak 1.267 responden dari 30 sekolah di Kupang, Depok, Sukabumi, Garut, dan Pesisir Selatan terlibat dalam riset yang menggambarkan dinamika pelaksanaan MBG tanpa bermaksud menggeneralisasi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Riset Labsosio Universitas Indonesia (UI) yang dilakukan di lima daerah antara Oktober hingga Desember 2025 mengkaji dampak pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Terdapat sejumlah faktor krusial yang mempengaruhi jalannya program dan dinilai perlu segera diperbaiki, termasuk pada aspek desain.

Temuan tersebut mempertegas adanya disrupsi dalam kegiatan belajar mengajar serta kebutuhan mendesak untuk membenahi kualitas layanan dan penentuan prioritas penerima manfaat.

1. Temuan kunci terkait desain program

Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Serangan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Serangan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Riset tersebut menyoroti lima persoalan utama dalam desain program MBG yang ditemukan selama pengumpulan data di lapangan, yakni sebagai berikut:

1. Perencanaan top-down tanpa pelibatan instansi daerah

Penentuan unit pendidikan penerima MBG tidak melibatkan Dinas Pendidikan atau merujuk pada data Dapodik. Koordinasi dilakukan hanya antara SPPG, dengan pihak aparat. Peran instansi daerah seperti Dinas Pendidikan hanya dibatasi pada ranah administratif, yakni menyuplai data jumlah siswa.

2. Struktur komando hierarkis yang kaku

Pelaporan dan manajemen operasional dikendalikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui rantai komando yang berjenjang. Struktur ini turun dari BGN Pusat, ke Koordinator Wilayah (Korwil) di tingkat kota/provinsi, lalu ke Koordinator Kecamatan (Kapokcam/Kapo), hingga ke unit dapur atau Sentra Pengolahan Pangan Gizi (SPPG).

3. Kepemimpinan dapur dikelola oleh pepresentasi pusat

Kepala dapur atau manajer SPPG diperankan oleh Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang berstatus sebagai pegawai/representasi BGN. Para SPPI ini dibentuk secara sentralistis dan diwajibkan menjalani pelatihan khusus selama berbulan-bulan di institusi pusat seperti Akademi Militer (Akmil) dan Universitas Pertahanan (Unhan) sebelum ditempatkan di daerah.

4. Standarisasi SOP, huknis, dan siklus menu nasional

Seluruh aturan main dapur sangat tersentralisasi melalui Petunjuk Teknis (Juknis) dari BGN. Hal ini mencakup penentuan Standar Operasional Prosedur (SOP), jam operasional memasak, pelaporan online harian, hingga Angka Kecukupan Gizi (AKG). Penetapan menu juga harus mengikuti "siklus" dari pusat, sehingga pihak pengelola di daerah seringkali tidak bisa mengubah menu (seperti kewajiban memberikan menu nasi/sayur) meskipun menu tersebut terbukti kurang disukai oleh siswa.

5. Mekanisme pendanaan langsung

Pembiayaan program bersifat terpusat dan tidak melalui kas pemerintah daerah. Anggaran operasional diturunkan langsung dari akun virtual BGN Pusat ke rekening dapur/mitra SPPG sesuai dengan kuota penerima manfaat yang disetujui melalui pengajuan proposal.

2. Cakupan dan metodologi riset

Salah satu dapur SPPG dapur MBG yang disetop beroperasi di Magetan
Salah satu dapur SPPG dapur MBG yang disetop beroperasi di Magetan. IDN Times/Riyanto.

Penelitian ini dilakukan untuk memotret dampak MBG terhadap aktivitas pembelajaran di sekolah pada lima kabupaten/kota. Tim peneliti menggunakan metode mixed method yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif.

Pada metode kuantitatif, riset menggunakan survei tatap muka dengan teknik cluster random sampling. Penentuan sampel dilakukan secara purposive di tingkat provinsi-kabupaten, serta simple random sampling di tingkat kecamatan dan sekolah. Sementara untuk metode kualitatif, tim melakukan wawancara mendalam kepada siswa, guru, orang tua murid, hingga pengelola dapur.

3. Sebaran data sampel penelitian

Relawan SPPG saat melakukan pengemasan menu MBG(IDN Times/Istimewa)
Relawan SPPG saat melakukan pengemasan menu MBG(IDN Times/Istimewa)

Secara keseluruhan, riset ini mengumpulkan data dari 1.267 responden yang tersebar di 30 sekolah di lima daerah berbeda. Meski memberikan gambaran mendalam, hasil survei ini tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi kondisi di tingkat nasional.

Rincian sampel di tiap wilayah adalah sebagai berikut:

  • Kota Kupang (Nusa Tenggara Timur): Melibatkan 310 sampel dari 6 sekolah.
  • Kota Depok (Jawa Barat): Melibatkan 186 sampel dari 6 sekolah.
  • Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat): Melibatkan 223 sampel dari 6 sekolah.
  • Kabupaten Garut (Jawa Barat): Melibatkan 191 sampel dari 6 sekolah.
  • Pesisir Selatan (Sumatra Barat): Melibatkan 357 sampel dari 6 sekolah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More