- Sebanyak 55,9 persen siswa menyatakan alasan utama tidak menghabiskan makanan adalah karena rasanya tidak enak atau tidak menyukai menu tersebut.
- Terdapat tingkat kebosanan yang cukup tinggi, di mana 53 persen siswa mengaku "kadang-kadang bosan" dan 15 persen merasa "sering bosan" dengan variasi makanan yang disajikan.
- Sistem Petunjuk Teknis (Juknis) yang tersentralisasi dari pusat membuat pengelola dapur di daerah seringkali tidak bisa mengubah menu, meskipun menu sayur tertentu terbukti tidak disukai siswa di wilayah tersebut.
Riset Ungkap Mayoritas Siswa Tak Habiskan Sayuran di Menu MBG

- Riset Labsosio UI menemukan mayoritas siswa tidak menghabiskan sayuran dalam program Makan Bergizi Gratis, dengan 77,9 persen sisa makanan berasal dari komponen sayur.
- Alasan utama siswa enggan makan sayur adalah rasa yang kurang disukai dan kebosanan menu, diperparah aturan Juknis pusat yang membatasi variasi masakan di daerah.
- Peneliti menilai perlunya penyesuaian menu sesuai konteks lokal serta edukasi gizi di sekolah agar tujuan pemenuhan nutrisi MBG lebih efektif bagi siswa berbagai latar sosial.
Jakarta, IDN Time – Meskipun program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk memenuhi standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) siswa, temuan di lapangan menunjukkan tantangan besar pada tingkat konsumsi peserta didik. Mayoritas siswa dilaporkan sering menyisakan makanan mereka, dengan sayuran menjadi komponen yang paling banyak dibuang.
Metodologi dan Sumber Riset Data ini berdasarkan riset evaluasi yang dilakukan Labsosio-Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (UI) pada periode Oktober hingga Desember 2025. Penelitian ini melibatkan 1.267 responden yang tersebar di 30 sekolah di lima kabupaten/kota, meliputi Kota Kupang, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, dan Pesisir Selatan.
Meskipun tidak dimaksudkan untuk generalisasi nasional, hasil survei ini memberikan gambaran mendalam mengenai perilaku konsumsi siswa terhadap menu MBG.
1. Sayur paling banyak tidak dihabiskan siswa di program MBG

Berdasarkan temuan riset tersebut, setiap porsi makanan yang dibagikan cenderung tersisa atau tidak habis dikonsumsi siswa. Data menunjukkan angka yang cukup mencolok: 77,9 persen dari total makanan yang tidak dihabiskan adalah sayur.
Kondisi ini menyebabkan tujuan untuk memenuhi komposisi gizi yang seimbang menjadi kurang optimal, karena zat gizi dari sayuran tidak masuk sepenuhnya ke tubuh siswa. Hal ini menjadi ironis, mengingat salah satu tujuan program adalah mencegah anak kelaparan dan memberikan akses pada makanan sehat.
2. Alasan di balik sisa makanan

Riset Labsosio UI juga mengidentifikasi beberapa faktor utama mengapa siswa enggan menghabiskan menu sayuran mereka, antara lain:
3. Dampak pada capaian gizi

Temuan ini mempertegas adanya kesenjangan antara desain nutrisi yang dirancang pemerintah dengan selera serta penerimaan siswa di meja makan. Ketidaksukaan terhadap sayur ini merata di berbagai kalangan, meskipun riset mencatat bahwa siswa dari kelas sosial bawah (85,8 persen) cenderung lebih sering menghabiskan makanan dibandingkan siswa dari kelas menengah.
Sebagai langkah perbaikan, para peneliti merekomendasikan perlunya akurasi penentuan menu dan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah, untuk menyesuaikan teknis implementasi sesuai konteks lokal. Selain itu, pengintegrasian edukasi gizi ke dalam kurikulum sekolah dianggap perlu, agar siswa lebih memahami pentingnya mengonsumsi sayuran yang disajikan dalam program MBG.
4. MBG lebih diterima siswa kelas menengah-bawah

MBG merupakan program yang peruntukannya lebih tepat untuk kebutuhan siswa kelas menengah-bawah dibanding sebagai program untuk semua kelas sosial (universal). Adapun beberapa data yang mendukung pandangan tersebut adalah sebagai berikut:
- Respons positif penerimaan MBG banyak ditemukan di kelas sosial menengah ke bawah. Data dari lima daerah konsisten menunjukkan semakin rendah kelas sosial siswa, semakin tinggi penerimaannya terhadap program MBG.
- Dibandingkan dengan siswa dari kelas sosial ekonomi menengah, 85,8 persen siswa kelas bawah selalu menghabiskan makanan MBG.
- Di sisi lain, temuan riset juga membuktikan bahwa Program MBG membangun suasana makan bersama yang sangat menyenangkan bagi siswa di semua kategori kelas sosial.
- Hampir separuh murid (48,5 persen) mengaku tidak pernah dan jarang sarapan sebelum pergi ke sekolah, yang membuat MBG sangat penting bagi mereka. Kondisi ini lebih-lebih terjadi pada kelompok ekonomi menengah ke bawah (50,1 persen).
- Siswa laki-laki, terutama pada jenjang SD, umumnya menginginkan porsi makan yang lebih besar dibandingkan perempuan.
- Orang tua siswa yang dtemui, umumnya menilai program MBG dengan positif. Beberapa penjelasan tambahannya adalah sebagai berikut:
- Meringankan beban ekonomi dan menghemat uang jajan.
- Membantu orang tua yang sibuk dalam menyediakan makan.
- Mencegah anak kelaparan dan memberikan akses makanan bergizi.
- Anak menjadi lebih sehat dan mengurangi konsumsi junk food (micin).
Hasil penelitian yang sama juga menunjukkan dampak MBG terhadap pembelajaran siswa. Mayoritas membuat siswa merasa kenyang, berusaha belajar, bersemangat, perhatian pada pelajaran, hingga bertenaga.



















