AS-Iran Dekati Kesepakatan Baru soal Selat Hormuz

- AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan baru untuk memperpanjang gencatan senjata 60 hari serta membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
- Negosiasi masih menghadapi hambatan besar terkait program nuklir Iran, dengan kedua pihak belum menyepakati langkah konkret dalam pembahasan tahap berikutnya.
- Kabar potensi kesepakatan membuat harga minyak dunia turun dan pasar saham global bereaksi beragam, mencerminkan harapan stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan baru untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Meski belum disetujui Presiden Donald Trump, perkembangan negosiasi tersebut memunculkan harapan baru terhadap meredanya konflik di Timur Tengah.
Empat sumber yang mengetahui pembahasan itu mengatakan, kesepakatan akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sambil melanjutkan negosiasi mengenai isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran.
Jika disetujui oleh pimpinan di Washington dan Teheran, kesepakatan itu akan menjadi langkah terbesar menuju perdamaian sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, pembahasan masih berlangsung dan kedua pihak masih mendiskusikan sejumlah poin teknis. “Kami masih bolak-balik membahas beberapa poin bahasan. Kami telah membuat banyak kemajuan,” kata Vance kepada wartawan, dilansir dari Channel News Asia, Jumat (28/5/2026).
Ia menambahkan, Trump belum mengambil keputusan akhir terkait rancangan kesepakatan tersebut.
“Mudah-mudahan kami terus membuat kemajuan dan Presiden berada pada posisi untuk mendukung kesepakatan ini, tetapi jelas itu masih harus ditentukan,” ujarnya.
1. Selat Hormuz jadi kunci negosiasi

Kesepakatan yang sedang dibahas disebut mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa hambatan. Selat tersebut merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik terjadi.
Selain menjamin lalu lintas kapal, kesepakatan juga disebut mengharuskan Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Washington juga dilaporkan akan melonggarkan sebagian sanksi terhadap penjualan minyak Iran.
Meski demikian, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait isi kesepakatan tersebut. Media Iran Tasnim, mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi, menyebut teks kesepakatan belum difinalisasi atau dikonfirmasi.
Gedung Putih juga menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.
2. Isu nuklir masih jadi hambatan

Meski ada perkembangan positif, sejumlah persoalan utama antara AS dan Iran masih belum terselesaikan. Salah satu isu terbesar adalah program nuklir Iran yang selama ini menjadi tuntutan utama Washington dalam negosiasi.
Sumber-sumber Iran menyebut, pembahasan soal nuklir akan dilakukan pada tahap negosiasi berikutnya.
Posisi tersebut berpotensi memicu penolakan dari sebagian pendukung dekat Trump yang menginginkan pembatasan lebih tegas terhadap program nuklir Teheran. Pemerintah Iran sendiri terus menegaskan bahwa program nuklir mereka hanya untuk tujuan damai.
Sementara itu, pemerintahan Trump beberapa kali menyatakan kesepakatan damai sudah dekat, meski sebelumnya Iran sempat membantah atau meremehkan klaim tersebut.
3. Pasar global bereaksi positif

Kabar mengenai potensi kesepakatan AS-Iran langsung memengaruhi pasar keuangan global dan harga energi. Harga minyak dunia turun setelah investor berharap Selat Hormuz dapat kembali dibuka penuh untuk pelayaran internasional.
Sebelumnya, konflik di kawasan tersebut sempat memicu lonjakan tajam harga energi global.
Di pasar saham, Wall Street ditutup menguat meski sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan. Sebaliknya, mayoritas bursa saham Eropa dan Asia justru ditutup melemah.
Indeks utama di London turun 0,8 persen, sementara Frankfurt dan Paris juga bergerak di zona merah.
Di Asia, pasar saham Hong Kong, Taipei, dan Sydney masing-masing melemah lebih dari satu persen, sedangkan Shanghai menjadi satu-satunya bursa utama yang mencatat penguatan tipis.



















