Sosok Yenna Yuniana, Direktur YAT Penyedia Motor Listrik BGN Rp1,2 T

- Yenna Yuniana menjadi sorotan publik setelah perusahaannya, PT Yasa Artha Trimanunggal, ditunjuk sebagai penyedia motor listrik senilai Rp1,2 triliun untuk Badan Gizi Nasional pada pengadaan 2025.
- Sejak berdiri tahun 2016, Yenna tercatat konsisten menjabat sebagai Direktur dan mengalami peningkatan kepemilikan saham signifikan hingga mencapai 27,5 persen pada awal 2025.
- Restrukturisasi perusahaan menghadirkan Andri Mulyono sebagai pemegang saham terbesar dengan 72,5 persen kepemilikan, sementara modal dasar perusahaan melonjak menjadi Rp150 miliar pada Januari 2025.
Jakarta, IDN Times – Nama Yenna Yuniana menjadi perhatian publik setelah PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT) diketahui menjadi penyedia sepeda motor listrik untuk Badan Gizi Nasional (BGN).
Dalam data pengadaan 2025 yang dipublikasikan pemerintah, BGN mengalokasikan sekitar Rp1,2 triliun untuk pengadaan motor listrik yang diperuntukkan bagi operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Di balik perusahaan tersebut, Yenna Yuniana merupakan sosok yang paling lama bertahan dalam struktur kepengurusan PT Yasa Artha Trimanunggal. Berdasarkan penelusuran IDN Times dari dokumen Administrasi Hukum Umum (AHU), namanya tercatat sebagai direktur sejak perusahaan berdiri pada 2016 hingga perubahan terakhir yang tercatat pada Januari 2025.
1. Yenna jabat direktur sejak YAT berdiri

Berdasarkan dokumen Administrasi Hukum Umum (AHU), Yenna saat ini menjabat sebagai direktur sekaligus pemegang 412.500 lembar saham senilai Rp41,25 miliar atau sekitar 27,5 persen saham perusahaan.
Dalam dokumen pendirian perusahaan yang disahkan pada Januari 2017, Yenna Yuniana menjabat sebagai direktur dengan kepemilikan 100 lembar saham senilai Rp10 juta. Saat itu, mayoritas saham perusahaan dimiliki Wily Martines yang menjabat sebagai komisaris dengan kepemilikan 9.900 lembar saham senilai Rp990 juta.
2. Perusahaan melakukan restrukturisasi pengurus dan pemegang saham

Perubahan signifikan terjadi pada Maret 2020. Berdasarkan perubahan anggaran dasar perusahaan, kepemilikan saham Yenna meningkat drastis menjadi 90.200 lembar saham atau senilai Rp9,02 miliar. Pada periode tersebut, PT Yasa Artha Trimanunggal juga melakukan perubahan alamat kedudukan perusahaan ke wilayah Jakarta Barat.
Setahun kemudian, tepatnya pada Agustus 2021, perusahaan melakukan restrukturisasi pengurus dan pemegang saham. Dalam perubahan tersebut, Yenna tercatat menjabat sebagai direktur utama dengan kepemilikan 27.550 lembar saham senilai Rp2,755 miliar.
3. Andri Mulyono menjadi pemegang saham terbesar perusahaan

Pada periode yang sama muncul sejumlah nama baru dalam struktur perusahaan, yakni Andri Mulyono sebagai Komisaris Utama, Daniel Kwan sebagai Direktur, dan Agus Ahaya Mile sebagai Komisaris. Struktur kepemilikan saham perusahaan juga mengalami perubahan seiring masuknya para pemegang saham baru.
Namun, hanya beberapa minggu setelah restrukturisasi tersebut, perusahaan kembali melakukan perubahan. Daniel Kwan dan Agus Ahaya Mile tidak lagi tercatat dalam susunan pengurus. Yenna kembali menjabat sebagai direktur, sedangkan Andri Mulyono menjadi pemegang saham terbesar perusahaan.
4. Modal PT Yasa Artha Trimanunggal melonjak awal Januari 2025

Sepanjang 2021 hingga 2023, posisi Yenna tidak berubah. Dia tetap tercatat sebagai direktur dalam berbagai perubahan perseroan yang berkaitan dengan penyesuaian kegiatan usaha dan perubahan anggaran dasar perusahaan.
Dalam periode tersebut, PT Yasa Artha Trimanunggal memperluas ruang lingkup usahanya secara signifikan. Berdasarkan data AHU, perusahaan menambahkan berbagai bidang usaha yang mencakup industri komputer, peralatan komunikasi, peralatan listrik, instalasi mesin industri, konstruksi gedung, teknologi informasi, telekomunikasi, perdagangan besar, pergudangan, logistik, hingga penelitian dan pengembangan teknologi.
Perubahan kembali terjadi pada Agustus 2024 ketika perusahaan meningkatkan modal dasar dan modal ditempatkan. Pada saat itu kepemilikan saham Yenna meningkat menjadi 46.750 lembar saham atau senilai Rp4,675 miliar.
Peningkatan terbesar terjadi pada Januari 2025. PT Yasa Artha Trimanunggal menaikkan modal dasar perusahaan menjadi Rp150 miliar. Dalam struktur terbaru, Yenna tercatat memiliki 412.500 lembar saham atau senilai Rp41,25 miliar.
Sementara itu, Komisaris Utama Andri Mulyono memiliki 1.087.500 lembar saham atau senilai Rp108,75 miliar. Dengan komposisi tersebut, Andri menguasai sekitar 72,5 persen saham perusahaan, sedangkan Yenna memiliki sekitar 27,5 persen saham.
Berdasarkan seluruh perubahan yang tercatat dalam dokumen AHU, Yenna Yuniana merupakan satu-satunya nama yang secara konsisten muncul dalam jajaran direksi sejak perusahaan berdiri. Meski terjadi beberapa kali perubahan pengurus, komisaris, dan pemegang saham, posisi Yenna sebagai direktur tetap bertahan hingga awal 2025.

















