Jakarta, IDN Times - Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Setri Yasra, membantah narasi berulang bahwa majalah yang edisi perdananya diterbitkan pada 1971 itu didanai filantropis asal Amerika Serikat (AS), George Soros. Tuduhan itu kembali terungkap ketika Tempo berkolaborasi dengan tiga media lainnya serta Drone Emprit untuk membongkar operasi pembentukan narasi di media sosial terkait demonstrasi di Indonesia pada akhir Agustus 2025.
Berdasarkan temuan dari kolaborasi beberapa media itu, terungkap adanya dugaan operasi Foreign Information Manipulation Interference atau FIMI.
Dikutip dari laporan interaktif Tempo, operasi FIMI melibatkan aktor asing pro Rusia dan China yang diamplifikasi aktor domestik. Selain dituding dibiayai Soros, Tempo juga dituding sebagai 'antek asing' atau disponsori Pemerintah Negeri Paman Sam.
Selain Tempo, lembaga dan media lain yang dituding sebagai 'antek asing' yakni Project Multatuli, Remotivi, Yayasan Tifa, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Indonesia Corruption Watch (ICW), LBH Jakarta dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum.
"Tuduhan ini meleset karena tak sesuai faktanya. Tempo melalui cucu perusahaan (PT Indo Media Digital) mendapatkan pembiayaan investasi dari Media Development Investment Fund (MDIF). Ini merupakan lembaga yang didirikan oleh wartawan investigasi asal Serbia, Saša Vučinić pada 1995," ujar Setri kepada IDN Times melalui pesan pendek, Selasa (26/5/2026).
Setri menjelaskan MDIF fokus pada dukungan terhadap media agar tetap independen. Tempo, kata Setri, menjadi media keempat yang mendapatkan investasi dari MDIF. Tiga media lainnya yang sudah mendapat pendanaan dari MDIF yakni Hukum Online, Kata Data, dan Suara.
Setri mengatakan berdasarkan pengalaman yang panjang, MDIF sudah mendukung banyak media di Asia dan Afrika, sebagai bagian dari gerakan prodemokrasi, mengingat keberlanjutan media adalah salah satu pilar demokrasi.
