Wamendagri Pantau Perkembangan Aceh Pascaricuh: Situasi Terkini Landai

- Bima Arya Sugiarto memantau situasi Aceh setelah kericuhan saat peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh.
- Wamendagri berkomunikasi dengan Wakil Gubernur Aceh, Wali Kota Banda Aceh, dan jajaran DPRA.
- Kericuhan di Masjid Raya Baiturrahman melibatkan massa dan aparat sebelum suasana mereda saat suara mengaji terdengar.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, memastikan, pihaknya terus memantau situasi terkini pascakericuhan yang terjadi di Aceh saat memperingati 21 tahun Hari Damai Aceh di Banda Aceh, pada Sabtu (15/8/2026).
Dia memastikan sudah berkomunikasi dengan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal, dan jajaran Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).
1. Situasi Aceh landai dan membaik

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto saat menghadiri acara Launching Portal Satu Data Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Kupang, Selasa (14/10/2025). (Dok. Kemendagri) Bima mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan, situasi terkini di Aceh sudah cenderung membaik, landai, dan terkendali.
"Ya, kami monitor semuanya sejauh ini saya berkomunikasi dengan Pak Wagub dengan teman-teman DPRA, ya, juga dengan Wali Kota situasinya landai. Situasinya saat ini berdasarkan informasi perkembangan terakhir landai, membaik," kata dia saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/8/2026).
2. Terus memantau perkembangan dan komunikasi intensif

Bima Arya pada acara Pijar Foundation bertema Muda30 Award di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (3/11/2025). (Dok. Kemendagri) Bima pun mengajak seluruh pihak menjaga suasana kebersamaan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah, kata dia, akan terus memantau perkembangan yang terjadi, termasuk menjaga komunikasi dengan intensif dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
"Kita jaga bersama-sama karena ini suasananya suasana perayaan 17-an tentu kita mengutamakan kebersamaan sambil kita terus memantau ya setiap perkembangan yang ada berkoordinasi komunikasi intensif dengan Forkopimda dan teman-teman kepala daerah di sana semuanya," imbuh dia.
3. Kronologi kericuhan

Lambang Garuda yang ada di Pendopo Gubernur Aceh dicopot massa aksi. (IDN Times/Muhammad Saifullah) Sebelumnya, aksi memperingati 21 tahun perdamaian antara Republik Indonesia (RI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh, berakhir ricuh, Sabtu (15/8/2026). Bendera Merah Putih yang berkibar di tiang masjid diturunkan.
Kericuhan terjadi setelah rangkaian doa dan zikir selesai sekitar pukul 11.11 WIB. Pantauan di lokasi, seorang massa memanjat tiang yang berada di halaman Masjid Raya Baiturrahman dan menurunkan bendera Merah Putih.
Tidak lama kemudian, massa lainnya naik ke tiang tersebut dan mengibarkan bendera Bulan Bintang.
Berkibarnya bendera tersebut memicu ketegangan antara massa dan aparat keamanan yang berjaga di sekitar lokasi.
Tidak lama berselang, terdengar diduga dari suara tembakan yang kemudian disusul beberapa kali dentuman lainnya.
Sejumlah massa kemudian melakukan pengejaran terhadap aparat yang sebelumnya berjaga di luar kompleks masjid. Massa juga diduga melempari petugas.
Petugas berupaya menenangkan massa. Namun, situasi semakin tidak terkendali hingga aparat akhirnya menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.
Suasana mulai kondusif saat lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema dari pengeras suara di Masjid Raya Baiturrahman. Bacaan tersebut meredam ricuh antara massa dan aparat penegak hukum.
Pantauan IDN Times, ketegangan antara aparat dan massa mereda saat terdengar suara mengaji dari masjid raya sekira pukul 11.42 WIB. Massa yang sebelumnya saling berhadapan dengan aparat perlahan surut kembali ke arah masjid.
“Hai ka mulai bet nyo, ka sep ile ka sep (hai sudah mulai mengaji, sudah sudah),” ucap warga.
Sebelum suara mengaji menggema, di area depan dan samping masjid raya tampak massa saling melempar batu dengan aparat. Bahkan, petugas juga turut menembakan gas air mata ke arah kumpulan massa.
Suasana ini membuat warga berhamburan menyelamatkan diri. Mereka yang sebelumnya bentrok di kawasan Simpang Kodim hingga Muhammad Jam, mulai berpencar hingga ke pertokoan Jalan Diponegoro.
Usai kerusuhan tersebut, sejumlah kendaraan milik warga seperti sepeda motor dan mobil tampak ringsek. Beberapa warga juga tampak terluka yang kemudian dibawa pergi dari lokasi bentrokan.
Sementara, massa juga sempat bergerak menuju Pendopo Gubernur Aceh, Sabtu. Di lokasi tersebut, massa melepas bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang. Mereka juga melepaskan lambang Garuda yang terpasang di bagian depan Pendopo Gubernur Aceh.
Massa yang sebelumnya memusatkan kegiatan di halaman Masjid Raya Baiturrahman mulai terpecah. Sebagian tetap berada di kawasan masjid, sementara kelompok lainnya bergerak menuju Pendopo Gubernur Aceh.
Setibanya di rumah dinas resmi Gubernur Aceh, massa masuk ke halaman pendopo. Mereka kemudian melepas bendera Merah Putih yang berkibar di lokasi tersebut. Bendera Merah Putih kemudian digantikan dengan bendera Bulan Bintang.
Tidak hanya itu, sejumlah massa naik ke bagian serambi depan pendopo dan melepaskan lambang Garuda yang terpasang di bangunan tersebut. Lambang negara itu kemudian dirusak oleh massa.
Setelah dari pendopo gubernur, massa kembali bergerak menuju Gedung DPRA. Dalam perjalanan dari pendopo menuju gedung parlemen Aceh tersebut, massa terlihat merusak sejumlah bendera yang terpasang di pinggir jalan.
Bendera yang terpasang di depan rumah warga maupun pertokoan juga menjadi sasaran. Aksi tersebut terjadi di tengah situasi yang memanas setelah kericuhan sebelumnya pecah di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.


















