Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[Wawancara Khusus] AS Buru Kapal Iran di Selat Malaka, Perang Meluas?

[Wawancara Khusus] AS Buru Kapal Iran di Selat Malaka, Perang Meluas?
Mantan KSAL Laksamana Ade Supandi
Intinya Sih
Gini Kak
  • TNI AL menegaskan kapal perang AS berhak melintas di Selat Malaka sesuai UNCLOS 1982, karena selat tersebut merupakan jalur pelayaran internasional dengan hak lintas transit.
  • Mantan KASAL Ade Supandi menjelaskan keberadaan kapal perang asing di Selat Malaka adalah hal wajar dan sudah diatur, sementara pengawasan dilakukan lewat patroli trilateral serta sistem radar terpadu.
  • Ade menekankan pentingnya kemandirian industri pertahanan nasional agar Indonesia tidak bergantung pada negara lain dalam menjaga kedaulatan dan keamanan maritim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kapal perang AS USS Miguel Keith terdeteksi melintas di Selat Malaka pada 18 April 2026, namun tidak berhenti di wilayah Indonesia. TNI AL menegaskan kapal asing berhak melintas di Selat Malaka sesuai ketentuan UNCLOS 1982, karena selat tersebut merupakan jalur pelayaran internasional.

Kepala Dinas TNI AL (Kadispenal), Laksamana Pertama Tunggul, membenarkan kapal perang AS masuk Selat Malaka. Menurutnya, Selat Malaka merupakan jalur internasional meskipun wilayahnya masuk perairan Indonesia.

"Menanggapi kapal asing melintas Selat Malaka bahwa hak kapal, termasuk kapal perang yang melintas di perairan tersebut, merupakan Hak Lintas Transit (Transit Passage), pada strait used for international navigation atau selat yang digunakan untuk pelayaran internasional," ujar Tunggul, Minggu, 19 April 2026.

Setelah kapal militer AS terdeteksi di Selat Malaka menunjukkan eskalasi di Timur Tengah kian meluas? Simak wawancara khusus IDN Times bersama KASAL 2014-2028 Laksamana TNI (Purn.) Ade Supandi menyikapi situasi di Selat Malaka, dalam program Ngobrol Seru, Selasa, 21 April 2026.

Kapal militer AS terdeteksi di Selat Malaka, apakah ini sudah mengkhawatirkan konflik Iran-AS akan meluas ke Asia Tenggara?

Jadi perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan AS berkaitan dengan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Sedangkan di sisi Mediterania Barat itu ada Israel, tentunya berkaitan dengan Laut Merah.

Nah, memang isu-isu bahwa limpahan konflik ini juga akan mengalir ke Selat Malaka, menurut saya kalau dilihat dari kebiasaan lalu lintas di Selat Malaka, maka pengguna Selat Malaka itu bukan hanya kapal komersial, kapal kargo, tanker dan lain sebagainya. Jadi Selat Malaka berkaitan dengan lalu lintas kapal perang kan sebenarnya suatu hal yang biasa.

Apalagi dengan konflik ini, perhatian masyarakat adalah terkait apakah kapal perang itu dalam konteks perang di Teluk. Kalau menurut saya, karena saya pengalaman dinas di Selat Malaka, karena kebetulan saya 2010 sebagai Komandan Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat. Nah, wilayah tanggung jawabnya di wilayah barat, terutama Selat Malaka dan Laut Natuna, kalau kekhawatiran kita berkaitan dengan penggunaan Selat Malaka untuk kapal perang yang berkaitan konflik di Teluk Persia, itu sebenarnya suatu hal yang lumrah.

Karena Selat Malaka tidak ada batasan kapal perang boleh lewat atau tidak. Tetapi maksud saya, kalau dalam formasi kapal perang besar itu jarang terjadi, biasanya diplomasi hanya satu, dua, tiga. Terutama kita jangan lupa kapal AS itu juga sering mangkal di pelabuhan Angkatan Laut Singapura.

Oleh sebab itu, tidak perlu ada kekhawatiran, ya. Karena keberadaan kapal perang juga hak mereka, karena Selat Malaka itu juga sebagai penghubung dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Jadi demikian kalau pandangan saya.

Sudah ada aturan internasionalnya bahwa semua kapal asing bisa melintas Selat Malaka?

Selat Malaka berkaitan dengan hak lintas transit sesuai UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) Pasal 37 sampai 44. Ada kewajiban, terutama berkaitan dengan kapal perang, kalau mereka dari daerah Laut China Selatan atau Natuna Utara masuk Malaka dan berhenti terus menerus tanpa melaksanakan kegiatan provokasi.

Kita sebenarnya sudah ada standar prosedur untuk tetap melaksanakan pengawasan di Selat Malaka. Karena Selat Malaka itu sebagian juga selat yang merupakan perairan kedaulatan Indonesia dan ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia). Di bagian baratnya ada Malaysia dan Singapura.

Kalau semakin banyak kapal militer AS yang wira-wiri di Selat Malaka pengawasannya bagaimana?

Saya kira konsep blokade Amerika Serikat di Teluk Oman itu berkaitan dengan pembatasan kapal-kapal tanker, terutama yang keluar dari Teluk Persia atau dari kawasan Iran. Karena sasaran Amerika Serikat adalah kapal-kapal Iran, yang mungkin dalam konteks ini melaksanakan kegiatan lalu lintas perdagangan energinya.

Tapi menurut saya, kalau dilihat hubungan kapal-kapal kargo, larinya dari Teluk Persia itu lewat Selat Malaka, kemudian ke Asia Timur, tentu saja Tiongkok atau pun wilayah Jepang.

Menurut saya tidak mungkin AS menyiagakan jumlah kapal besar di Selat Malaka. Kalau mereka mau sebenarnya di daerah choke point (titik hambatan) Sabang aja, dia nunggu daripada masuk Selat Malaka. Jadi belum masuk ke Selat Malaka, tapi di daerah choke point-nya di daerah sebelah baratnya Sabang.

Pendeteksian kapal-kapal Iran oleh AS bukan hal yang sulit. Tapi menurut saya juga Iran belum tentu juga menyodorkan kapal perangnya untuk dideteksi oleh kapal AS. Menurut saya juga ada satu kondisi di mana mungkin kapal perang, kapal kargo, kapal tanker itu bisa aja benderanya bukan Iran lagi, tapi mungkin bendera-bendera dari simpatisannya Iran. Satu hal yang bisa saja AS mengalami kesulitan, gitu.

Bagaimana TNI AL harus menyikapi? Apakah harus ada pengawasan ketat atau apa yang memungkinkan bisa dilakukan TNI AL?

Kalau misal kapal perang itu lewat karena status daripada Selat Malaka itu sendiri, mereka sebenarnya izin itu pada keadaan-keadaan tertentu, hal khusus tadi ya dari tonase dan sebagainya. Karena di Selat Malaka itu ada satu segmen yang pertama dangkal, yang kedua itu sempit, terutama daerah Pulau Tokong Kecil dan Tokong Besar itu di sebelah selatan Selat Philip.

Bagaimana sih kita mengamankan Selat Malaka? Sebenarnya kalau setback ke belakang, pada saat Selat Malaka menjadi black strait (selat hitam) banyak penyelundupan, banyak pencurian, banyak kecelakaan, karena di situ insurance bertambah besar bagi kapal yang lewat Selat Malaka. Kita sebenarnya dulu hampir negara besar masuk gitu kan.

Tetapi Kepala Staf Angkatan Laut kita berinisiatif dengan Panglima TNI Pak Djoko (Djoko Suyanto) waktu itu menginisiasi ada namanya tiga negara yang bertanggung jawab terhadap pengamanan Selat Malaka, yaitu Malacca Strait Patrol (MSSP) terdiri dari Malaysia, Indonesia, dan Singapura.

Saya waktu masih Pamen melaksanakan kegiatan patroli bersama. Jadi waktu itu kalau kita Angkatan Laut ketiga negara tidak sanggup, maka akan mengundang negara lain. Sekarang ini kondisinya beda, ada limpahan konflik dari Timur Tengah, Teluk Persia yang dikhawatirkan masuk ke kita.

Artinya sistem pengamanan Selat Malaka itu sebenarnya sudah established, karena saya sendiri waktu itu juga sering melaksanakan Indosin (patroli Indonesia Singapura/Indonesia Singapura Patrol Coordinated) sambil berjalan sampai sekarang. Kemudian, Patkor (patroli terkoordinasi) Malindo itu masih ada dalam rangka menjamin keselamatan lalu lintas di Selat Malaka.

Jadi Selat Malaka itu sudah terjalin satu patkor bersama, baik trilateral Malaysia, Indonesia, Singapura maupun juga bilateral, misalnya Indosin (Indonesia Singapura Patrol Coordinated), Coordinated Patrol Malaysia (Malindo). Kemudian di sebelah barat ada dengan India namanya Indindo (India-Indonesia Coordinated Patrol). Semuanya sudah establish.

Kedua sebenarnya dulu sekarang udah selesai, kita dapat bantuan namanya surveillance system (Integrated Maritime Surveillance System) di Selat Malaka. Itu pasang semua radar dari mulai Banda Aceh kemudian juga sampai ke Sambu, Belakang Padang, Batam dan di Tarempa, ya. Dan itu sudah berjalan tetapi kemudian waktu saya KASAL 2017 kita refresh lagi kita menggunakan teknologi kita bukan dari AS lagi. Karena kita sudah bisa mandiri kalau untuk bikin surveillance system.

Dan berikutnya juga untuk pengendalian di Selat Malaka, pengawasan kita juga punya VTS (Vessel Traffic System) di Batam bekerja sama dengan Singapura yang di sana disebut Fusion Center. Jadi pengawasan-pengawasan itu tetap dilaksanakan, termasuk juga terhadap kapal-kapal yang punya indikasi berkaitan keterlibatan di kawasan Teluk Persia gitu kan.

Walau pun itu kita juga memonitor dalam konteks aktivitas apakah dia pelayaran damai gitu atau ada kepentingan. Termasuk juga kita memonitor kapal-kapal yang menjadi target mereka. Kan kita juga punya database mengenai kapal-kapal yang lewat situ. Di laut kan kita sudah punya marine traffic, aplikasi itu bisa kita lihat karena AIS (Automatic Information System). Kalau di pesawat terbang ada namanya Flight Radar 24. Aplikasi itu bisa kita monitor bagaimana pergerakan udaranya. Oleh sebab itu aktivitas berkaitan pengawasan itu menurut saya sudah efektif.

Berikutnya, saya 2015 sudah melikuidasi satuan patroli angkatan laut yang tadinya terpusat di armada Surabaya. Artinya satuan patroli itu berada di daerah. Misalnya kalau di Selat Malaka satuan patrolinya di Lantamal 1 Belawan dan Lantamal 4 di Tanjung Pinang. Kemudian pembentukan Komando Armada 1, gunanya untuk apa? Untuk di Batam di Tanjung Pinang untuk lebih mendekatkan pada daerah operasi. Terutama Selat Malaka dan Natuna.

Oleh sebab itu memang dengan dinamika perkembangan kekinian mau gak mau ada namanya yang disebut optimalisasi kehadiran unsur angkatan laut, khususnya termasuk juga kapal-kapal dari mitra kolega kita, taktik KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai), taktik Polri, Bea Cukai untuk tetap mengawasi dan perhubungan laut, KPLP untuk mengawasi lalu lintas di Selat Malaka.

Kalau penebalan pasukan apakah diperlukan?

Oh itu udah udah rutin. Jadi di saya di waktu saya dan KSAL, dan sekarang juga sama dengan pemindahan armada dan pembentukan Lantamal, sebenarnya adalah arahnya menjawab tantangan kekinian. Karena jelas pelaku lalu lintas di laut itu semakin banyak dan canggih.

Berikutnya konflik di belahan dunia lain itu tetap akan mengalir ke mana lalu lintas itu berlanjut. Misalnya, lalu lintas energi dari Timur Tengah mau gak mau kan kepentingannya adalah Asia Timur. Kalau Amerika Serikat dia lebih cenderung menggunakan rute barat, misalnya.

Dari Timur Tengah langsung ke Atlantik dan sebagainya atau ke selatan. Kalau di kita untuk energi itu ada tiga, Selat Malaka, Selat Sunda, dan Lombok. Tapi kalau untuk Selat Sunda untuk lalu lintas energi lebih kecil dibanding Lombok.

Kalau Iran bagian dari trap karena perang sesungguhnya AS-Tiongkok, sementara posisi Indonesia di antara dua negara itu? Bagaimana RI harus bersikap?

Perkembangan perang itu mulainya dari militer. Dulu ada namanya asymmetric warfare, ada hybrid warfare atau combined. Nah, sekarang kan dalam konteks perang proxy-proxy bisa jadi gitu. Karena seperti tadi disampaikan apa juga targetnya China. Bisa aja karena kalau kita lihat Amerika Serikat dalam konteks perdagangan berusaha menerapkan tarif. Cuma apakah berani pada China? Kita lihat.

Menurut saya perang itu sekarang ini justru terhambat dengan perubahan dinamika dalam industri pertahanan. Karena kalau zaman dulu perang dingin itu ada pembuatan industri pertahanan itu sifatnya produknya masif, gitu kan.

Kita bikin apa kapal perang itu masif, misalnya satu kelas tuh bisa sampai 10 kapal. Sekarang mungkin printil-printilan. Yang kedua itu banyak produksi senjata itu justru menyebar. Tidak di satu negara, gitu kan, tidak di satu negara tapi di berbagai negara. Nah, keuntungannya memang kalau kelihatannya Iran ini kan mau dihancurkan, karena yang dikembangkan Iran kalau saya lihat dugaan ya itu kan basis daripada industrinya Rusia dan Tiongkok.

Dan kita juga tahu Tiongkok ini udah sangat maju ya dalam konteks industri elektronika dan cyber. Karena mereka juga sampai sekarang kan kita tidak menafikkan bahwa industri elektronika Tiongkok itu sangat tinggi dan sangat besar, ya. Apple saja iPhone dibuatnya di Tiongkok gitu.

Jadi memang kita agak sedikit ada gangguan-gangguan berkaitan dengan shifting daripada politik dari US, apakah juga arahnya kepada Tiongkok. Ya kita bisa melihat sebenarnya adalah end state-nya aja tapi kita kan masih wait and see.

Apa yang ingin Anda sampaikan ke pemerintah menyikapi situasi eskalasi yang kian meluas?

Kita punya konsep wawasan nusantara dan di dalamnya ada kewaspadaan nasional, ketahanan nasional itu sangat penting. Berkaitan dengan ketahanan nasional saya mungkin perlu menyikapi berkaitan dengan kebijakan. Pertama bahwa sudah waktunya kita mengarah pada kemandirian industri pertahanan.

Emang semua pesawat terbang kita dari AS? Bersyukur Pak Prabowo mengadakan dari Perancis. Boleh dibilang Perancis ini kan NATO juga bukan, tapi juga orang yang selalu bersengketa dengan Inggris, gitu kan, dari zaman dulu. Jadi kita ngambil dari Rafale dari Perancis. Sedikit banyak kita masih punya kapal pesawat terbang bukan dari AS. Yang kedua kita ngambil kapal perang dari Italia. Paling tidak kan kita pakai produknya Mussolini. Kemudian berikutnya kita juga memasukkan sistem senjata dari Tiongkok.

Jadi kita sebenarnya sudah punya konsep di TNI jangan sampai kita begitu kena embargo mati semua kaya seperti dulu. Kita kelimpungan dulu Angkatan Laut gak punya kapal satu pun akhirnya kita bikin kapal dari fiberglass akhirnya beradu di Sipadan Ligitan, kita kalah sama ICJ (The International Court of Justice) karena tidak punya bargaining power.

Jadi dalam konteks mengamankan kedaulatan negara komponen bangsa ini harus jadi satu. Kebijakan untuk industri pertahanan mandiri itu harus. Saya lihat India mengembangkan Visakhapatnam. Semua industri pertahanan. Dalam lima tahun dia bisa memproduksi 40 kapal destroyer ukuran 140. Pernah saya tinjau ke sana. Bagaimana keeratan antara sipil militernya di sana sangat kuat sehingga bisa memproduksi.

Walaupun mereka itu kan India ini kan dua kaki. Kalau kultur pemerintahan kan Inggris. Tapi teknologi basic semua Rusia. Nah kita juga harusnya pintar seperti itu. Kedua Vietnam dia juga sama. Vietnam itu pertumbuhan ekonomi cukup tinggi karena merangkul Perancis. Tidak merangkul AS. Karena dalam cukup waktu yang lama AS berperang dengan Vietnam. Perancis demikian besar meng-empower pertumbuhan ekonomi Vietnam.

Nah, bagi kita sekarang sebenarnya konsep-konsep kita sudah bagus. Ketahanan nasional, industri pertahanan harus memandirikan. Siapa yang memandirikan? Ya kita ini. Banyak insinyur-insinyur biarkan mereka membuat suatu sistem industri yang bagus.

Dan industri pertahanan itu dibuat bukan hanya untuk kepentingan pertahanan tetapi adalah untuk memajukan kepentingan lain. Misalnya kalau kita bikin motor harus bisa dipakai untuk mobil, bisa pakai untuk kapal ikan, bisa dipakai untuk mungkin penggerak industri yang lainnya gitu kan. Jadi ada namanya leverage factor untuk industri pertahanan.

Share
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Related Articles

See More