AS Serang Kapal Tanker Minyak di Laut Oman, Tiga Pelaut India Tewas

- Tiga pelaut India tewas setelah kapal tanker MT Settebello diserang militer AS di Laut Oman karena diduga melanggar blokade dengan mengangkut minyak dari Iran.
- Pemerintah India memprotes keras serangan tersebut dan memanggil diplomat AS, sementara IMO mengecam tindakan itu karena kapal sedang kosong saat diserang.
- Sejak blokade dimulai April 2026, militer AS telah menyerang delapan kapal dan mengalihkan rute lebih dari seratus kapal di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Jakarta, IDN Times - Tiga pelaut India yang sempat dilaporkan hilang tewas setelah kapal tanker mereka diserang oleh Amerika Serikat (AS) saat melintas di Laut Oman. Ini menjadi serangan kedua terhadap kapal yang membawa awak berkewarganegaraan India dalam 3 hari terakhir.
Dilansir BBC, kapal MT Settebello berbendera Palau diserang pada Rabu (10/6/2026) setelah militer AS menuduh kapal tersebut melanggar blokadenya dengan berupaya mengangkut minyak dari Iran. Sebanyak 21 dari 24 awak berkewarganegaraan India berhasil diselamatkan oleh militer Oman.
“Pesawat militer AS menembakkan amunisi presisi ke ruang mesin kapal setelah awak kapal berulang kali gagal mematuhi instruksi dari pasukan Amerika,” kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan.
1. India panggil diplomat AS untuk protes serangan tersebut

Pascaserangan tersebut, pemerintah India memanggil wakil kepala misi diplomatik AS di New Delhi. Pihaknya menegaskan bahwa serangan terhadap kapal-kapal komersial dan infrastruktur sipil di kawasan Timur Tengah harus dihentikan.
Dalam pernyataan di media sosial X, Menteri Pelayaran India, Sarbananda Sonowal, menyebut insiden itu sangat disayangkan. Ia menambahkan bahwa jenazah ketiga pelaut tersebut telah diidentifikasi dan akan segera dipulangkan ke India.
Manoj Yadav, sekretaris jenderal Serikat Pelaut India Maju (FSUI), mengatakan kepada surat kabar The Economic Times bahwa ia tidak percaya AS tidak memiliki informasi mengenai kewarganegaraan orang-orang yang berada di dalam kapal tersebut.
“Jika kapal-kapal tersebut gagal mengindahkan instruksi mereka, menahan kapal tersebut adalah alternatif yang tepat,” ujarnya.
2. Kapal MT Settebello sedang kosong saat serangan terjadi

Serangan terhadap MT Settebello turut memicu kecaman dari Organisasi Maritim Internasional (IMO).
“Ini sama sekali tidak dapat diterima. Perlindungan terhadap para pelaut merupakan tanggung jawab bersama yang harus tetap menjadi prioritas utama," demikian pernyataan Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez.
Dilansir The Straits Times, MT Settebello merupakan kapal tanker produk berukuran menengah yang biasa digunakan untuk mengangkut produk minyak olahan. Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa kapal itu sedang kosong saat serangan terjadi.
Pasukan AS sebelumnya juga menyerang The Marivex, kapal tanker minyak berbendera Palau yang diawaki warga India, di Teluk Oman pada Senin (8/6/2026). Seluruh 24 awak kapal berhasil diselamatkan oleh militer Oman saat itu.
3. AS serang 8 kapal sejak dimulainya blokade pada April

Militer AS memblokir akses ke pelabuhan-pelabuhan Iran pada April 2026 setelah Teheran menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Konflik ini dimulai pada 28 Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang turut menewaskan pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei.
Menurut CENTCOM, pasukan AS telah melumpuhkan delapan kapal yang tidak mematuhi instruksi dan mengalihkan rute 134 kapal lainnya sejak blokade dimulai.
Gencatan senjata yang dicapai pada April kini terancam setelah kedua negara kembali saling serang pekan ini. Pada Rabu, Presiden AS, Donald Trump mengancam akan menyerang Iran dengan keras. Ia menuding Teheran terlalu lama menandatangani kesepakatan damai dan mempermainkan AS.


















