Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
1,6 Juta Anak Ukraina Dipaksa Ikut Indoktrinasi Militer Rusia
ilustrasi anak-anak korban perang di Ukraina (pexels.com/Алесь Усцінаў)
  • Laporan OSCE mengungkap dugaan kejahatan kemanusiaan terhadap anak-anak Ukraina melalui program indoktrinasi militer dan pemindahan paksa ke wilayah Rusia sejak 2022.
  • Pemerintah pendudukan Rusia mengganti kurikulum Ukraina dengan versi Kremlin, melarang bahasa lokal, serta mewajibkan pelatihan militer bagi siswa di sekolah dan kamp khusus.
  • Remaja laki-laki Ukraina dipaksa mengikuti pra-wajib militer sejak usia 16 tahun, disertai pemaksaan kewarganegaraan Rusia dan ancaman sanksi bagi keluarga yang menolak sistem tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) merilis laporan tentang kondisi anak-anak di wilayah konflik pada Kamis (9/7/2026). Laporan ini menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap generasi muda di wilayah pendudukan Rusia.

Kini, komunitas internasional mendesak penyelidikan menyeluruh atas temuan dalam dokumen resmi tersebut. Laporan dari tim ahli independen ini diharapkan mampu mendorong penegakan hukum internasional untuk melindungi hak dasar anak.

1. Temuan indikasi kejahatan kemanusiaan terhadap anak Ukraina

Sejumlah anak berada di dalam bus setelah meninggalkan Ukraina menuju Rumania, menyusul invasi Rusia terhadap Ukraina di penyeberangan perbatasan di Siret, Rumania, Sabtu (5/8/2022). (ANTARA FOTO/REUTERS/Clodagh Kilcoyne/FOC/djo)

Tim ahli independen bentukan OSCE menemukan adanya program indoktrinasi militer berskala besar terhadap anak-anak Ukraina. Penyelidikan sejak 14 Mei 2026 ini menunjukkan adanya upaya terstruktur untuk mengubah identitas nasional generasi muda.

"Kami menilai sistem indoktrinasi dan militerisasi ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dalam bentuk persekusi," ujar peneliti asal Prancis, Herve Ascensio, dilansir Japan Today.

Data resmi Ukraina menunjukkan sedikitnya 20.610 anak telah dipindahkan ke wilayah Rusia. Proses pemulangan berjalan lambat karena baru sekitar 2.274 anak yang berhasil kembali ke tanah air mereka.

"Meski Ukraina sudah memiliki program untuk memulihkan anak-anak yang kembali dari Rusia, masih ada tugas besar yang harus diselesaikan," kata pakar hukum asal Latvia, Elina Steinerte.

Penyelidikan ini menjadi misi independen keenam yang menggunakan Mekanisme Moskow sejak konflik dimulai pada 2022. Dokumen ini disiapkan sebagai bukti hukum untuk proses peradilan internasional.

"Kami menganggap kerja tim ahli OSCE ini sebagai bagian penting dari respons internasional terhadap kejahatan Rusia terhadap anak-anak Ukraina," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina, Mariana Betsa.

2. Penerapan kurikulum baru dan militerisasi di sekolah wilayah pendudukan

Seorang anak duduk di ayunan di depan gedung tempat tinggal yang hancur, setelah Rusia meluncurkan operasi militer besar terhadap Ukraina, di Kyiv, Ukraina, Jumat (25/2/2022). ANTARA FOTO/REUTERS/Umit Bektas.

Kementerian Pendidikan Rusia dilaporkan telah menghapus kurikulum nasional Ukraina dan melarang penggunaan bahasa lokal di sekolah-sekolah wilayah pendudukan. Sebagai gantinya, para siswa wajib mempelajari sejarah versi Kremlin dan sejarah militer Rusia.

"Laporan ini mencatat cara Rusia menjalankan sistem terpadu untuk mendoktrinasi anak-anak Ukraina melalui paksaan di wilayah pendudukan," kata Perwakilan Tetap Inggris untuk OSCE, Neil Holland.

Otoritas pendudukan Rusia juga menghapus batasan antara pendidikan umum dan dinas militer melalui mata pelajaran wajib baru. Materi dasar pertahanan negara mulai diajarkan secara terstruktur untuk siswa kelas 8 hingga 11.

"Para ahli menyimpulkan bahwa perlakuan terhadap anak-anak Ukraina ini merupakan sistem yang dirancang dengan sengaja," kata Perwakilan Tetap Ceko untuk OSCE, Jan Marian.

Selain di kelas, pelatihan fisik bersenjata dilakukan secara intensif melalui kamp khusus pemuda. Di kamp Volgograd misalnya, anak-anak dilatih menggunakan senjata api hingga mengoperasikan pesawat tanpa awak (drone).

"Anak-anak Ukraina dilatih di sekolah militer untuk ikut berperang melawan tanah air mereka sendiri demi membela Rusia," ujar Wakil Ketua Parlemen Ukraina, Olena Kondratiuk.

3. Pemberlakuan wajib militer dini

Seorang anak lelaki mengibarkan bendera Ukraina saat reli mendukung Ukraina dan memprotes Rusia, di Air Terjun Niagara, Kanada, Minggu (30/1/2022). ANTARA FOTO/REUTERS/Nick Iwanyshyn.

Remaja laki-laki Ukraina di wilayah pendudukan menjadi target utama pengiriman surat panggilan pra-wajib militer. Surat tersebut bahkan sudah dikirimkan sejak mereka berusia 16 tahun, sebelum wajib bertempur pada usia 18 tahun.

"Kami mewawancarai sejumlah pemuda yang terpaksa meninggalkan keluarga mereka demi menghindari wajib militer tersebut," ungkap pakar hukum asal Latvia, Elina Steinerte.

Rusia juga memanfaatkan perubahan status kewarganegaraan untuk memutus ikatan hukum anak dengan Ukraina. Kombinasi hukum keluarga dan undang-undang ekstremisme digunakan untuk menghapus identitas asli mereka.

"Laporan ini menemukan empat unsur utama, yaitu penggunaan sekolah untuk indoktrinasi, pemaksaan kewarganegaraan, serta penerapan undang-undang terorisme dan ekstremisme," kata Peneliti Hukum ZMINA, Onysiia Syniuk.

Warga sipil yang mencoba mempertahankan identitas nasional mereka menghadapi ancaman sanksi berat. Aturan paksa ini juga berlaku pada layanan kesehatan dan perbankan yang kini hanya bisa diakses oleh pemegang paspor Rusia.

"Orang tua yang menolak menyekolahkan anaknya di sekolah Rusia diancam kehilangan hak asuh. Sementara itu, guru yang menolak kurikulum Rusia menghadapi pemecatan, intimidasi, hingga penahanan," kata Perwakilan Tetap Ceko untuk OSCE, Jan Marian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article