Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

19 Warga Mati Kelaparan, Uganda Salurkan Bantuan Pangan Darurat

19 Warga Mati Kelaparan, Uganda Salurkan Bantuan Pangan Darurat
Bendera Uganda (unsplash.com/Roman Derrick Okello)
Intinya Sih
  • Pemerintah Uganda menyalurkan 9.400 ton bantuan pangan darurat selama dua bulan di Karamoja setelah sedikitnya 19 warga meninggal akibat kelaparan.
  • Kekeringan sejak awal musim tanam April memicu gagal panen; sekitar 1,5 juta warga Karamoja mengalami krisis pangan tinggi dan kasus gizi buruk akut meningkat.
  • Uganda menyiapkan Rencana Pembangunan Regional Karamoja, termasuk distribusi bibit tahan kekeringan dan cepat panen, untuk memperkuat ketahanan pangan jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Uganda mulai menyalurkan bantuan pangan darurat bagi warga terdampak kekeringan di wilayah Karamoja, Uganda timur, pada Senin (27/7/2026). Penyaluran ini dilakukan setelah sedikitnya 19 warga dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan.

Sebanyak 9.400 ton bahan pangan akan didistribusikan secara bertahap selama dua bulan. Program ini menggunakan dana darurat parlemen senilai 45 miliar shilling Uganda (Rp216,75 miliar) untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

1. Peluncuran penyaluran bantuan pangan

Menteri Kesiapsiagaan Bencana dan Pengungsi Uganda, Sam Engola, meresmikan penyaluran bantuan tersebut di Kabupaten Kaabong. Pemerintah memastikan bantuan dibagikan secara bertahap agar tepat sasaran dan menjangkau seluruh warga yang membutuhkan.

Langkah ini menjadi operasi bantuan pangan berskala besar pertama sejak berkurangnya dukungan dari sejumlah donor internasional.

"Presiden tidak ingin ada warga Karamoja yang meninggal karena kelaparan. Saya hadir untuk mengawasi langsung penyaluran bantuan ini hingga tuntas agar tidak ada satu pun warga yang terlewat," ujar Menteri Sam Engola, dilansir The Guardian.

2. Dampak kekeringan terhadap ketahanan pangan

Wilayah Karamoja mengalami kekeringan akibat ketiadaan hujan sejak awal musim tanam pada April lalu. Kondisi ini memicu gagal panen di berbagai area dan memperparah krisis ketersediaan pangan.

Jaringan Pemetaan Ketahanan Pangan Global (FEWS NET) mencatat sekitar 1,5 juta penduduk Karamoja kini berada dalam krisis pangan tingkat tinggi. Pada saat yang sama, fasilitas kesehatan setempat mencatat lonjakan kasus gizi buruk akut, khususnya pada anak-anak.

Angelina Nakiru, seorang warga Desa Rupa, mengungkapkan bahwa keluarganya kehilangan sumber mata pencaharian karena seluruh tanaman pertanian mereka mati kekeringan.

"Kondisi di sini sangat berat. Banyak warga kelaparan karena tidak ada makanan. Kami sangat berharap pemerintah segera bertindak untuk menyelamatkan warga," kata Angelina.

3. Rencana pemulihan pertanian jangka panjang

Selain memberikan bantuan darurat, pemerintah Uganda menyiapkan Rencana Pembangunan Regional Karamoja. Program ini bertujuan memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi risiko kekeringan di masa depan.

Salah satu langkah konkretnya adalah mendistribusikan bibit tanaman yang tahan kekeringan, bebas penyakit, dan berumur panen pendek sebelum musim tanam berikutnya.

"Pemerintah siap mendistribusikan benih unggul yang tahan kekeringan, tahan penyakit, serta cepat panen sebelum musim tanam berikutnya dimulai," kata Menteri Urusan Karamoja, John Baptist Lokii.

Direktur Eksekutif Aliansi Hak atas Pangan Uganda, Agnes Kirabo, menilai bantuan darurat memang penting untuk menyelamatkan nyawa warga, namun belum menyelesaikan akar masalah.

"Bantuan pangan darurat adalah langkah penyelamatan jangka pendek, bukan solusi permanen. Untuk memutus rantai krisis ini, pemerintah harus mengatasi akar masalah kerawanan pangan melalui reformasi struktural," tegas Agnes Kirabo.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More