Presiden Terpilih Kolombia Bakal Putus Hubungan dengan Kuba-Nikaragua

- Presiden terpilih Kolombia Abelardo de la Espriella berencana memutus hubungan diplomatik dengan Kuba dan Nikaragua, dengan alasan kedua negara dipimpin tirani.
- Pemerintahannya juga akan menutup 14 kedutaan besar, termasuk di Havana dan Managua, untuk mengurangi anggaran serta struktur diplomatik yang dinilai tidak menghasilkan manfaat konkret.
- Rencana tersebut dikritik mantan pejabat dan parlemen Kolombia karena berpotensi melemahkan relasi Global South, sementara Kuba menilai kebijakan itu mengikuti sikap agresif Amerika Serikat.
Jakarta, IDN Times - Presiden terpilih Kolombia, Abelardo de la Espriella mengatakan bahwa pemerintahannya akan memutus hubungan diplomatik dengan Kuba dan Nikaragua. Ia menilai kedua negara di Benua Amerika tersebut dipimpin oleh tirani.
Selama 4 tahun terakhir, hubungan antara Kolombia dan Kuba di bawah Presiden Kolombia, Gustavo Petro terjalin dengan baik. Kuba juga berperan sebagai mediator untuk negosiasi yang menghasilkan persetujuan damai antara pemerintah Kolombia dan FARC pada 2016.
1. Berencana menutup 14 kedubes Kolombia di berbagai negara

Espriella mengungkapkan bahwa pemerintahannya akan menutup 14 Kedutaan Besar Kolombia. Menurutnya, dua perwakilan di Havana dan Managua tidak diperlukan pun 12 kedubes Kolombia lainnya untuk mengurangi anggaran.
“Kami tidak dapat melanjutkan struktur yang sangat memberatkan keuangan negara. Terlebih yang tidak menghasilkan hasil konkret untuk negara,” terangnya, dikutip dari Mercopress, Rabu (29/7/2026).
Kantor perwakilan itu termasuk beberapa yang baru saja dibuka seperti di Senegal, Ethiopia, Haiti, Barbados, Republik Ceko, dan Rumania. Beberapa kantor yang sudah berdiri juga rencananya akan ditutup.
2. Mendapat kritik dari mantan Menteri Perdagangan Kolombia

Rencana ini dikritik langsung oleh mantan Menteri Perdagangan Kolombia, Luis Carlos Reyes yang menyebut penutupan hanya berdampak kecil. Menurutnya, penghematan tidak akan seberapa karena urusan luar negeri hanya sebesar 0,35 persen dari total APBN.
Anggota parlemen dari Partai Colombia Humana, Johana Osorio memperingatkan bahwa kebijakan tersebut akan berdampak buruk pada relasi dengan negara Global South. Padahal, pemerintahan Petro sudah mendorong penguatan kerja sama dengan negara-negara Afrika, Timur Tengah, dan Eropa Timur.
3. Kuba tolak rencana Espriella tutup Kedubes Kolombia

Pada saat yang sama, Kementerian Luar Negeri Kuba menolak rencana Espriella untuk menutup Kantor Kedubes Kolombia di Havana. Menurutnya, kebijakan tersebut jelas sebuah aksi merendahkan diri untuk mengikuti kebijakan agresif dari Amerika Serikat (AS).
Dilansir EFE, rencana tersebut menunjukkan perubahan hubungan persahabatan antara Kuba dan Kolombia. Namun, Kemlu Kuba menekankan bahwa negaranya akan mempertahankan hubungan bilateral dengan Kolombia yang penting dalam berbagai hal, termasuk ekonomi, perdagangan, akademik yang menguntungkan kedua pihak.




















