ilustrasi karakteristik Negara Singapura (pexels.com/Roshan Ravi)
Wong menegaskan perdebatan mengenai kenaikan gaji pejabat politik seharusnya tidak hanya dilihat dari besaran penghasilan menteri saat ini. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan Singapura mempertahankan kualitas kepemimpinan politik pada masa mendatang.
“Ini bukan sekadar tentang berapa yang kita bayarkan kepada para menteri saat ini. Ini tentang apakah para perdana menteri di masa depan akan terus memiliki peluang yang realistis untuk meyakinkan warga Singapura yang kompeten, dari pelayanan publik, sektor swasta, dan berbagai bidang kehidupan lainnya, agar bersedia maju dan membangun tim terbaik untuk melayani Singapura dan warga Singapura,” kata Wong.
Dalam sidang parlemen, Wong juga mengingatkan pembahasan mengenai gaji politik bukan hal baru. Dalam debat mengenai remunerasi politik pada 2012, Partai Aksi Rakyat (PAP) dan Partai Pekerja (WP) mengajukan formula yang berbeda, tetapi tingkat gaji yang dihasilkan pada dasarnya berada dalam kisaran yang sama.
Kedua partai saat itu juga memiliki kesamaan pandangan, gaji politik harus transparan dan cukup kompetitif untuk menarik orang-orang dengan kemampuan yang dibutuhkan. Namun, gaji tersebut tetap harus memberikan diskon yang signifikan dibandingkan pendapatan di luar pemerintahan sebagai bentuk pengabdian publik.
Masalahnya, pemerintah kemudian berulang kali menunda penyesuaian gaji politik. Komite independen merekomendasikan kenaikan pada 2017, tetapi pemerintah tidak menindaklanjutinya. Peninjauan berikutnya yang dijadwalkan pada 2023 juga ditunda.
Akibatnya, standar remunerasi pejabat politik tidak berubah selama 15 tahun, sementara pendapatan di sektor swasta, pelayanan publik, dan kehakiman terus mengalami peningkatan. Wong mengatakan kondisi tersebut membuat kesenjangan gaji menteri dengan profesi lain semakin lebar.
“Gaji menteri semakin tertinggal sebagai akibatnya. Kesenjangan tersebut memang paling terlihat ketika dibandingkan dengan sektor swasta, tetapi bahkan sekarang ada beberapa pejabat tinggi pelayanan publik yang memperoleh penghasilan lebih tinggi daripada para menteri,” ujarnya.
Wong mengakui ada alasan politik di balik keputusan pemerintah untuk beberapa kali menahan penyesuaian tersebut. Namun, menurutnya, mempertahankan kondisi tersebut bukan lagi pilihan yang tepat.
“Akan lebih mudah secara politik bagi saya untuk membiarkan semuanya seperti sekarang. Namun, itu bukanlah hal yang benar untuk dilakukan,” katanya.
Ia menolak anggapan kualitas birokrasi Singapura yang kuat dapat menggantikan kebutuhan terhadap kepemimpinan politik yang berkualitas. Menurut Wong, birokrasi yang kuat memang penting, tetapi tidak dapat menggantikan peran pemimpin politik dalam mengambil keputusan strategis.
“Pelayanan publik yang kuat bukanlah pengganti kepemimpinan politik yang efektif. Kualitas kepemimpinan politik pada gilirannya juga memengaruhi pelayanan publik,” kata Wong.
Wong menekankan seorang menteri tidak hanya membutuhkan kompetensi, tetapi juga karakter, integritas, nilai-nilai, dan komitmen untuk melayani masyarakat. Dalam konteks tersebut, remunerasi bukan faktor yang menentukan apakah seseorang kompeten atau tidak, tetapi dapat memengaruhi kesediaan orang-orang kompeten untuk mengambil tanggung jawab politik.
“Remunerasi tidak menentukan siapa yang mampu. Namun, remunerasi memengaruhi apakah cukup banyak orang yang mampu bersedia maju dan mengambil tanggung jawab tersebut,” ujarnya.
Menurut Wong, banyak pemerintahan di berbagai negara sebenarnya mengetahui kebijakan apa yang perlu dilakukan, tetapi menunda keputusan sulit karena mempertimbangkan biaya politik dalam jangka pendek. Singapura, menurutnya, memiliki ruang yang lebih terbatas untuk melakukan hal tersebut karena ukuran negara yang kecil dan minimnya keunggulan alamiah.
Ia mengatakan Singapura saat ini masih memiliki tim menteri yang kuat, mampu mengambil keputusan, mempertahankan pendirian, dan memperoleh kepercayaan publik. Namun, orang-orang dengan kapasitas seperti itu tidak mudah ditemukan.
Karena itu, menurut Wong, pembangunan dan regenerasi tim politik membutuhkan upaya berkelanjutan. Sistem remunerasi menjadi salah satu instrumen untuk memastikan calon pemimpin potensial tidak menghadapi hambatan finansial yang terlalu besar ketika mempertimbangkan masuk ke politik.
Wong juga menegaskan persoalan regenerasi kepemimpinan bukan hanya masalah Singapura. Negara-negara lain menghadapi tantangan serupa, meski dengan sistem yang berbeda.
Menurutnya, karena gaji politik sangat sensitif, sejumlah negara memilih mempertahankan gaji resmi yang rendah tetapi memberikan berbagai fasilitas atau keuntungan lain. Dalam beberapa sistem, politisi juga dapat memperoleh penghasilan tambahan dari kepentingan di luar politik atau menerima keuntungan lebih besar setelah meninggalkan jabatan.
“Jadi, gaji yang terlihat di permukaan mungkin tampak sederhana, tetapi gambaran keseluruhannya jauh lebih rumit,” ujarnya.
Singapura, kata Wong, selama ini menjadi pengecualian dan kerap dianggap sebagai contoh pemerintahan yang efektif. Namun, ia mengingatkan, kualitas tersebut tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang otomatis akan bertahan.
“Kami telah mempertahankan standar ini begitu lama sehingga standar tersebut bisa mulai terasa normal bagi warga Singapura. Namun, hal itu tidak normal di tempat lain dan tentu saja tidak dijamin akan selalu ada di sini,” kata Wong.
Menurutnya, salah satu alasan Singapura mampu mempertahankan standar tersebut adalah karena negara itu secara sengaja memilih untuk membahas remunerasi politik secara terbuka. Pemerintah mengakui orang-orang yang sangat kompeten memiliki banyak pilihan karier di luar politik.
Karena itu, pejabat politik diberikan gaji yang kompetitif, tetapi tetap dengan potongan yang signifikan dibandingkan penghasilan yang mungkin mereka peroleh di luar pemerintahan sebagai bentuk penghargaan terhadap prinsip pengabdian publik.
Sebagai imbalannya, Wong mengatakan masyarakat Singapura berhak menuntut standar tinggi dari para pemimpin politik, termasuk anggota parlemen.
“Jika kita ingin sistem politik kita tetap efektif, kita tidak bisa membiarkan ketentuan dasar pengabdian di dalam sistem tersebut semakin jauh dan semakin jauh dari kenyataan. Hal itu berlaku untuk tunjangan anggota parlemen dan bahkan lebih penting lagi berlaku untuk gaji pejabat politik,” tegas Wong.