PM Singapura: Rivalitas AS-China Ubah Perdagangan Dunia

- Lawrence Wong menilai rivalitas Amerika Serikat dan China mengubah peta kekuatan global.
- Pertimbangan keamanan kini makin memengaruhi kebijakan perdagangan, investasi, dan teknologi berbagai negara.
- Singapura menyatakan tidak akan menjadi jalur praktik perdagangan ilegal serta akan menindak pelanggaran dengan bukti kredibel.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyoroti perubahan peta kekuatan global yang semakin dipengaruhi rivalitas Amerika Serikat (AS) dan China. Menurutnya, AS masih menjadi kekuatan utama dunia, tetapi kebangkitan China telah menjadikannya sebagai pesaing dengan kemampuan yang mendalam d²i berbagai bidang.
Wong menyampaikan hal tersebut dalam pidato National Day Rally 2026 di Institute of Technical Education (ITE) Headquarters, Minggu (23/8/2026). Ia mengatakan persaingan kedua negara berlangsung ketika Washington dan Beijing sama-sama berusaha menghindari konfrontasi terbuka.
Menurut Wong, perubahan keseimbangan kekuatan tersebut turut berdampak pada sistem perdagangan global. Negara-negara kini semakin mempertimbangkan aspek keamanan dalam menentukan kebijakan perdagangan, investasi, dan teknologi.
1. AS-China bersaing di tengah perubahan dunia

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan Presiden China, Xi Jinping (kanan) (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House) Wong mengatakan AS tetap menjadi kekuatan terdepan di dunia. Namun, China berkembang dengan cepat dan kini menjadi pesaing yang memiliki kemampuan kuat di banyak bidang.
“Baik AS maupun China tidak dapat mengalahkan satu sama lain. Namun, tidak ada satu pun yang dapat menjauh dari yang lain. Jadi, mereka sedang belajar bagaimana hidup dengan realitas baru: bersaing dengan sengit, sambil berusaha menghindari konfrontasi dan konflik terbuka,” kata Wong dalam pidatonya, dikutip dari teks pidato pemerintah Singapura.
Ia menambahkan, dunia tidak hanya dibentuk oleh AS dan China. Eropa tetap menjadi kekuatan besar, sementara India berkembang pesat dan sejumlah negara kekuatan menengah semakin aktif memperjuangkan kepentingan mereka.
Menurut Wong, kondisi tersebut membuat kekuatan global semakin tersebar. Berbagai pusat kekuatan kini bersaing memperebutkan pengaruh, pasar, teknologi, sumber daya, serta semakin banyak berupaya menentukan aturan permainan.
2. Tarif jadi bagian dari persaingan

ilustrasi mata uang dolar AS, bendera Amerika Serikat dan China (pexels.com/www.kaboompics.com) Wong mengatakan perubahan tersebut terlihat jelas dalam sistem perdagangan global. Selama beberapa dekade, negara-negara menurunkan hambatan perdagangan dan membuka perekonomian mereka, sementara rantai pasok berkembang melintasi berbagai negara dengan dukungan aturan internasional.
Namun, kondisi itu mulai berubah setelah sejumlah krisis menunjukkan kerentanan rantai pasok global. Pandemi Covid-19, menurut Wong, menjadi peringatan mengenai risiko ketergantungan terhadap pemasok tertentu.
Invasi Rusia ke Ukraina juga memperlihatkan risiko lain, terutama ketika suatu negara terlalu bergantung pada satu pemasok. Kini, krisis di Timur Tengah kembali memperlihatkan kerentanan tersebut terhadap energi, pangan, dan berbagai kebutuhan penting.
Wong juga menyinggung kebijakan tarif AS. Ia mengatakan pemerintahan AS sebelumnya memberlakukan tarif yang disebut sebagai “Liberation Day tariffs”, sebelum pengadilan AS menyatakan kebijakan tersebut melanggar hukum. Pemerintah AS kemudian mencari cara lain untuk menerapkan tarif, kali ini terkait dugaan penggunaan tenaga kerja paksa.
3. Singapura tak mau jadi jalur perdagangan ilegal

ilustrasi bendera Singapura (pexels.com/Ravish Maqsood) Wong mengatakan Singapura memahami kekhawatiran AS terkait praktik perdagangan ilegal, termasuk barang yang dibuat menggunakan tenaga kerja paksa maupun barang China yang diduga dialihkan melalui negara lain untuk menghindari tarif AS.
“Singapura menanggapi kedua isu tersebut dengan serius. Kami memiliki aturan dan hukum yang jelas. Kami menegakkannya dan mengharapkan perusahaan yang beroperasi di sini untuk mematuhinya,” ujarnya.
“Kami tidak akan membiarkan Singapura digunakan sebagai jalur untuk praktik perdagangan ilegal. Jika ada bukti kredibel mengenai pelanggaran, kami akan menyelidikinya dan mengambil tindakan,” lanjut Wong.
Namun, Wong mengakui posisi Singapura sebagai pusat re-ekspor dan transshipment membuat negara tersebut menghadapi keterbatasan. Barang dari berbagai negara melewati Singapura sehingga pemerintah tidak mungkin melacak dan memverifikasi seluruh rantai pasok setiap produk yang masuk melalui wilayahnya.
Karena itu, Singapura akan terus berkomunikasi dengan AS untuk menjelaskan posisinya. Wong menilai perubahan tersebut menunjukkan bahwa perdagangan global tidak lagi semata-mata berkaitan dengan ekonomi, tetapi semakin dipengaruhi pertimbangan keamanan.




















