Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (AFP/Mandel Ngan)
Saat ini, Partai Republik menguasai kedua kamar Kongres AS. Namun, keunggulan mereka di DPR terbilang tipis, dengan 218 kursi atau hanya satu kursi di atas ambang minimum untuk mengendalikan kamar tersebut. Selain itu, ada satu anggota independen yang memberikan suara bersama Partai Republik.
Di Senat, Partai Republik memiliki 53 kursi. Demokrat perlu meraih 51 kursi untuk mengambil alih kendali Senat, dengan mempertimbangkan hak suara penentu wakil presiden apabila kedua kubu berakhir imbang.
Jika Demokrat berhasil merebut salah satu kamar Kongres, mereka akan memiliki kekuatan untuk menghambat agenda legislasi Trump. Mereka juga dapat menggunakan komite-komite Kongres untuk menyelidiki berbagai kebijakan dan persoalan selama pemerintahan Trump, termasuk dugaan korupsi, pembangunan ballroom baru di Gedung Putih, hingga taktik penegakan hukum oleh badan imigrasi AS (ICE).
Bahkan, sebagian anggota Partai Demokrat telah membahas kemungkinan memakzulkan Trump atau mengajukan impeachment. Proses ini merupakan mekanisme politik di Kongres untuk mengajukan dakwaan terhadap presiden, bukan persidangan pidana.
Sebaliknya, jika Partai Republik mampu mempertahankan kendali atas Kongres, Trump akan memiliki ruang lebih luas untuk melanjutkan agenda pemerintahannya. Meski begitu, hasil pemilu sela juga akan dibaca sebagai gambaran penilaian masyarakat terhadap kepemimpinannya.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Trump mengalami penurunan. Berdasarkan data situs pemantau jajak pendapat Silver Bulletin, tingkat persetujuan terhadap Trump yang sempat berada sedikit di atas 50 persen pada awal masa jabatan keduanya turun menjadi sekitar 37 persen pada awal Oktober 2026. Sementara itu, sekitar 61 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerjanya.
Meski demikian, tidak semua daerah pemilihan diperkirakan berlangsung ketat. Lembaga analisis pemilu Cook Political Report mengidentifikasi 18 daerah pemilihan DPR dan tujuh persaingan kursi Senat yang masih berstatus toss-up, atau berpeluang dimenangkan oleh kedua partai.
Nama Trump sendiri tidak tercantum dalam surat suara pemilu sela. Namun, ia telah meminta para pendukung Partai Republik memperlakukan pemilu ini seolah-olah dirinya juga menjadi kandidat yang harus didukung.
Hasil pemilu sela juga berpotensi memengaruhi peta persaingan menuju pemilihan presiden 2028. Trump tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga, sehingga perhatian politik setelah pemilu sela diperkirakan mulai beralih pada calon penerusnya di Partai Republik dan kandidat yang akan diusung Partai Demokrat.