Rupiah Melemah, Liburan ke Swiss Makin Mahal bagi WNI

Malam menginap wisatawan Indonesia di Swiss turun 38,7 persen sepanjang Januari hingga Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pelemahan rupiah, kenaikan biaya perjalanan, konflik Timur Tengah, dan pembatalan penerbangan memengaruhi rencana liburan ke Swiss.
Swiss memperluas promosi melalui budaya, kuliner, pengalaman lokal, serta fasilitas ramah Muslim di sejumlah destinasi.
Jakarta, IDN Times - Jumlah kunjungan wisatawan Indonesia ke Swiss mengalami penurunan signifikan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Switzerland Tourism mencatat, jumlah overnights atau malam menginap wisatawan Indonesia di negara tersebut mencapai 35.124, turun 38,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Penurunan ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap franc Swiss hingga ketidakpastian politik dan ekonomi. Konflik di Timur Tengah juga turut mengganggu perjalanan wisata, terutama akibat pembatalan penerbangan dan perubahan rencana perjalanan.
Market Representative Switzerland Tourism, Ferani Heng, mengatakan, konflik Timur Tengah sempat membuat sejumlah wisatawan Indonesia mengalihkan tujuan liburan ke destinasi yang dianggap lebih dekat dan aman.
Selain itu, biaya perjalanan ke Swiss pada 2026 juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski menghadapi tantangan tersebut, Swiss tetap berupaya menarik wisatawan Indonesia melalui promosi yang tidak hanya menonjolkan pegunungan bersalju, tetapi juga budaya, kuliner, dan pengalaman lokal.
1. Jumlah malam menginap wisatawan RI di Swiss turun

Market Representative Switzerland Tourism, Ferani Heng dalam promosi Beyond the Snow. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Ferani menjelaskan, Switzerland Tourism menggunakan jumlah overnights (menginap) sebagai indikator untuk menghitung kunjungan wisatawan. Penghitungan ini dilakukan berdasarkan jumlah malam yang dihabiskan wisatawan di Swiss, bukan sekadar kedatangan atau transit.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, wisatawan Indonesia mencatatkan 35.124 overnights di Swiss. Angka tersebut turun 38,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Secara keseluruhan, kawasan Asia Tenggara juga mengalami penurunan. Switzerland Tourism mencatat 282.831 overnights wisatawan dari Asia Tenggara selama Januari hingga Agustus 2026, atau turun 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ferani mengatakan, konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perjalanan wisatawan Indonesia. Pada akhir Februari 2026, pembatalan penerbangan terjadi dan mengganggu rencana perjalanan sejumlah wisatawan.
"Pada saat konflik pertama kali terjadi, kalau tidak salah di akhir Februari, banyak sekali penerbangan yang dibatalkan. Banyak yang tidak bisa terbang, bahkan ada yang sudah telanjur berada di sana dan tidak bisa kembali," ujar Ferani dalam media gathering di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dia mengatakan, sejumlah agen perjalanan juga menyampaikan bahwa pelanggan mereka meminta perubahan destinasi ke lokasi yang lebih dekat karena mempertimbangkan faktor keamanan.
2. Rupiah melemah, bikin liburan ke Swiss makin mahal

Duta Besar Swiss untuk Indonesia Konstantin Obolensky. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Selain konflik Timur Tengah, pelemahan rupiah terhadap franc Swiss turut membuat perjalanan ke negara tersebut semakin mahal bagi wisatawan Indonesia.
Ferani menyebut, nilai tukar satu franc Swiss pada 2025 berada di kisaran Rp20.507. Sementara pada 2026, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp22.339.
Perubahan nilai tukar tersebut membuat perjalanan ke Swiss sekitar 9 persen lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini mendorong sebagian wisatawan mempertimbangkan destinasi lain yang membutuhkan biaya lebih rendah.
Duta Besar-designate Swiss untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky, juga menyoroti kenaikan biaya perjalanan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi minat wisatawan.
Menurut dia, selain nilai tukar, kenaikan harga bahan bakar dan bahan bakar pesawat turut membuat perjalanan internasional semakin mahal.
Terkait biaya visa, Obolensky mengatakan, biaya tersebut hanya mengambil porsi kecil dari keseluruhan anggaran perjalanan ke Swiss. Dia mengatakan, Pemerintah Swiss tidak memiliki rencana untuk menggratiskan biaya visa.
"Visa memang tidak gratis dan kami tidak memiliki rencana untuk memberikannya secara gratis. Namun, pada akhirnya, biaya tersebut hanya merupakan persentase yang sangat kecil dari seluruh biaya perjalanan ke Swiss," kata Obolensky.
3. Swiss promosikan wisata Beyond the Snow

Leysin, Swiss (commons.wikimedia.org/Roland Zumbuehl) Di tengah penurunan jumlah wisatawan Indonesia, Swiss berupaya memperluas daya tarik pariwisatanya melalui kampanye Beyond the Snow: A Swiss Winter for the Senses. Kampanye ini mengajak wisatawan melihat Swiss lebih dari sekadar destinasi pegunungan bersalju dan olahraga ski.
Obolensky mengatakan, Swiss menawarkan pengalaman wisata yang beragam, mulai dari museum, festival budaya, kuliner, hingga kegiatan luar ruang. Wisatawan juga dapat menikmati berbagai kota bersejarah sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan pegunungan.
Dia mencontohkan Basel, kota asalnya, yang dikenal dengan seni, budaya, museum, dan festival karnaval. Salah satu tradisi yang terkenal adalah Basel Carnival, yang berlangsung pada akhir musim dingin dan melibatkan parade musik drum serta seruling.
"Swiss jauh lebih beragam daripada gambaran yang biasa kita lihat di kartu pos," ujar Obolensky.
Dia juga menyebut pariwisata berkontribusi sekitar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Swiss. Sektor tersebut menjadi salah satu faktor penting bagi perekonomian negara, selain industri farmasi dan mesin.
Sementara itu, Ferani mengatakan, tiga destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan Indonesia masih mencakup Zurich, Zermatt, dan Geneva. Namun, sejumlah lokasi seperti St. Moritz, Luzern, dan kawasan Jungfrau juga mulai menarik perhatian wisatawan Indonesia.
Swiss juga berupaya memperkuat daya tariknya bagi wisatawan Muslim dari Indonesia. Ferani menjelaskan, sejumlah hotel dan restoran telah menyediakan fasilitas ramah Muslim, seperti pilihan makanan tanpa babi dan alkohol, sajadah berdasarkan permintaan, serta layanan untuk mengeluarkan minuman beralkohol dari minibar.
Meski belum memiliki sertifikasi halal nasional, Switzerland Tourism menyediakan filter Muslim-friendly pada situs resminya untuk membantu wisatawan menemukan restoran, akomodasi, dan atraksi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.




















