AS Gelar Pemilu Sela, Apa Itu?

Pemilu sela AS menentukan penguasaan Kongres, bukan siapa yang menduduki Gedung Putih.
Seluruh kursi DPR dan sebagian kursi Senat diperebutkan, disertai pemilihan sejumlah gubernur negara bagian.
Hasilnya dapat memengaruhi ruang gerak pemerintahan Trump dan peta persaingan menuju pemilu presiden 2028.
Jakarta, IDN Times - Pemilihan umum sela atau midterm elections Amerika Serikat (AS) digelar pada Selasa (3/11/2026). Pemilu ini menjadi salah satu momen politik penting bagi Presiden Donald Trump karena hasilnya dapat menentukan seberapa besar ruang geraknya dalam menjalankan pemerintahan hingga akhir masa jabatan.
Berbeda dengan pemilihan presiden, pemilu sela tidak menentukan siapa yang akan menduduki Gedung Putih. Namun, pemungutan suara ini akan menentukan partai politik yang menguasai Kongres AS, yakni Partai Republik pendukung Trump atau Partai Demokrat sebagai oposisi.
Kendali Kongres menjadi penting karena lembaga tersebut memiliki kewenangan untuk membahas dan mengesahkan undang-undang federal yang berlaku secara nasional. Jika Demokrat berhasil merebut salah satu atau kedua kamar Kongres, agenda politik Trump berpotensi menghadapi lebih banyak hambatan.
Selain menentukan arah legislasi, hasil pemilu sela juga kerap menjadi tolok ukur untuk melihat tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja presiden. Lantas, apa saja yang perlu diketahui mengenai pemilu sela AS 2026 dan dampaknya bagi pemerintahan Trump?
1. Apa itu Pemilu Sela AS dan siapa yang dipilih?

Stiker ‘I Voted’ di midterm election AS. (AFP/Charly Triballeau) Pemilu sela atau midterm elections merupakan pemilihan umum yang digelar setiap dua tahun sekali, tepat di tengah masa jabatan presiden AS yang berlangsung selama empat tahun. Dalam pemilu ini, masyarakat memilih anggota Kongres yang terdiri dari House of Representatives atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat.
Pada pemilu 2026, seluruh 435 kursi DPR AS akan diperebutkan. Anggota DPR menjabat selama dua tahun dan memiliki peran penting dalam mengusulkan, membahas, serta memperdebatkan rancangan undang-undang.
Sementara itu, pemilihan Senat hanya mencakup 35 dari total 100 kursi. Berbeda dengan anggota DPR, senator menjabat selama enam tahun. Senat memiliki sejumlah kewenangan, termasuk menyetujui atau menolak rancangan undang-undang yang telah dibahas di DPR.
Pemungutan suara juga berlangsung untuk memilih sejumlah pejabat di tingkat negara bagian. Beberapa pemilihan gubernur yang menjadi sorotan digelar di California, Florida, Georgia, dan Michigan.
2. Ekonomi hingga imigrasi jadi isu utama pemilu

ilustrasi cryptocurrency dan dolar AS (unsplash.com/Dmytro Demidko) Dikutip BBC, satu isu yang menjadi perhatian pemilih AS adalah kondisi ekonomi. Harga bahan bakar, kebutuhan pokok, perumahan, dan layanan kesehatan masih menjadi persoalan bagi masyarakat.
Inflasi AS juga masih berada di atas target Federal Reserve. Kondisi tersebut antara lain dikaitkan dengan perang yang dimulai AS dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026. Demokrat turut menuding kebijakan tarif perdagangan Trump ikut mendorong kenaikan harga barang bagi masyarakat Amerika.
Selain ekonomi, kebijakan imigrasi menjadi isu penting lainnya. Partai Republik mengklaim Trump telah memenuhi salah satu janji kampanyenya pada 2024 dengan memperketat perbatasan dan melancarkan operasi besar-besaran terhadap imigrasi ilegal. Namun, langkah tersebut juga menuai kontroversi.
Isu kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut mendapat perhatian. Sejumlah politisi senior dari kedua partai sepakat bahwa teknologi tersebut perlu diatur melalui regulasi. Pandangan ini berbeda dengan Trump yang menolak pembentukan undang-undang untuk mengendalikan pengembangan AI.
Persaingan kedua partai juga dipengaruhi perebutan keuntungan melalui pemetaan ulang daerah pemilihan DPR. Partai Republik berupaya mengubah peta pemilihan di sejumlah negara bagian agar lebih menguntungkan mereka. Demokrat kemudian mengambil langkah serupa sebagai respons.
3. Apa dampaknya bagi pemerintahan Donald Trump?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (AFP/Mandel Ngan) Saat ini, Partai Republik menguasai kedua kamar Kongres AS. Namun, keunggulan mereka di DPR terbilang tipis, dengan 218 kursi atau hanya satu kursi di atas ambang minimum untuk mengendalikan kamar tersebut. Selain itu, ada satu anggota independen yang memberikan suara bersama Partai Republik.
Di Senat, Partai Republik memiliki 53 kursi. Demokrat perlu meraih 51 kursi untuk mengambil alih kendali Senat, dengan mempertimbangkan hak suara penentu wakil presiden apabila kedua kubu berakhir imbang.
Jika Demokrat berhasil merebut salah satu kamar Kongres, mereka akan memiliki kekuatan untuk menghambat agenda legislasi Trump. Mereka juga dapat menggunakan komite-komite Kongres untuk menyelidiki berbagai kebijakan dan persoalan selama pemerintahan Trump, termasuk dugaan korupsi, pembangunan ballroom baru di Gedung Putih, hingga taktik penegakan hukum oleh badan imigrasi AS (ICE).
Bahkan, sebagian anggota Partai Demokrat telah membahas kemungkinan memakzulkan Trump atau mengajukan impeachment. Proses ini merupakan mekanisme politik di Kongres untuk mengajukan dakwaan terhadap presiden, bukan persidangan pidana.
Sebaliknya, jika Partai Republik mampu mempertahankan kendali atas Kongres, Trump akan memiliki ruang lebih luas untuk melanjutkan agenda pemerintahannya. Meski begitu, hasil pemilu sela juga akan dibaca sebagai gambaran penilaian masyarakat terhadap kepemimpinannya.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Trump mengalami penurunan. Berdasarkan data situs pemantau jajak pendapat Silver Bulletin, tingkat persetujuan terhadap Trump yang sempat berada sedikit di atas 50 persen pada awal masa jabatan keduanya turun menjadi sekitar 37 persen pada awal Oktober 2026. Sementara itu, sekitar 61 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerjanya.
Meski demikian, tidak semua daerah pemilihan diperkirakan berlangsung ketat. Lembaga analisis pemilu Cook Political Report mengidentifikasi 18 daerah pemilihan DPR dan tujuh persaingan kursi Senat yang masih berstatus toss-up, atau berpeluang dimenangkan oleh kedua partai.
Nama Trump sendiri tidak tercantum dalam surat suara pemilu sela. Namun, ia telah meminta para pendukung Partai Republik memperlakukan pemilu ini seolah-olah dirinya juga menjadi kandidat yang harus didukung.
Hasil pemilu sela juga berpotensi memengaruhi peta persaingan menuju pemilihan presiden 2028. Trump tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga, sehingga perhatian politik setelah pemilu sela diperkirakan mulai beralih pada calon penerusnya di Partai Republik dan kandidat yang akan diusung Partai Demokrat.





















