ilustrasi perang (pexels.com/Polina Tankilevitch)
Pada 1962, ribuan pasukan Mesir dikerahkan untuk mendukung kelompok republik pimpinan Abdullah Sallal setelah mereka menggulingkan Imam Zaidi Mohammad al-Badr, sementara kubu royalis didukung penuh oleh Arab Saudi. Situasi geopolitik saat itu membelah dunia Arab antara monarki pro-Barat dan republik pan-Arabis sosialis di bawah kepemimpinan Presiden Gamal Abdel Nasser.
Pandangan resmi Kairo saat itu cenderung meremehkan lanskap sosial-politik Yaman. Mengutip surat kabar Al-Ahram, pemimpin redaksinya, Mohammed Hassanein Heikal, menuliskan bahwa sebagian dunia Arab hidup di abad kedua puluh sementara sebagian lainnya masih tertinggal di abad ketiga belas. Harian Al-Jumhuriya bahkan menyebut kudeta tersebut sebagai revolusi melawan perbudakan, keterbelakangan, dan tirani.
Kudeta Sallal ternyata memicu perang berdarah karena Imam al-Badr berhasil meloloskan diri dari Sanaa dan menggalang kekuatan suku utara dengan sokongan Arab Saudi. Dalam kurun waktu dua bulan, sebanyak 15 ribu tentara Mesir dikerahkan ke lokasi dan jumlahnya membengkak hingga 70 ribu personel pada akhir 1965, namun konflik justru berlarut-larut tanpa kejelasan.
Kegagalan militer tersebut dianalisis oleh Adeed Dawisha dalam makalah akademiknya pada 1975 sebagai akibat dari ketidaktahuan hampir total pihak Mesir terhadap dinamika sosial-politik Yaman. Dampaknya sangat masif karena lebih dari 10 ribu tentara Mesir tewas, beban utang perang melonjak tajam, dan penggunaan senjata kimia merenggut sekitar 1.500 nyawa sehingga konflik ini dijuluki sebagai Vietnam di Laut Merah serta disebut sebagai pemicu kekalahan Mesir dalam perang 1967.
Ahmad Dahshan selaku pemimpin redaksi Center of Arabic Eurasian Studies mengungkapkan bahwa trauma sejarah tersebut membentuk gelombang penolakan publik saat ini. Ia menjelaskan bahwa masyarakat masih mengingat bagaimana pengiriman pasukan ke Yaman untuk menghadapi kubu yang didukung Arab Saudi berujung pada gugurnya tentara Mesir, dan mentalitas serupa dikhawatirkan terulang kembali kali ini atas nama kepentingan Saudi.