Fakta-Fakta Perpanjangan Gencatan Perang Dagang China dengan AS

- China dan AS memperpanjang gencatan perang dagang hingga 10 Januari 2027, setelah kesepakatan sebelumnya yang dijadwalkan berakhir 10 November.
- Kedua negara sepakat mengurangi tarif impor senilai sekitar 30 miliar dolar AS; sekitar 90 persen produk akan dikenai tarif most-favored-nation.
- Washington masih menekan Beijing untuk konsesi lebih besar, sementara pelaku usaha menilai persoalan seperti izin ekspor logam tanah jarang belum terselesaikan.
Jakarta, IDN Times - China mengumumkan bahwa gencatan senjata perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) akan diperpanjang selama dua bulan. Ini mengonfirmasi apa yang telah diumumkan oleh pihak AS. Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) mengatakan pada Senin (28/9/2026) bahwa mereka telah sepakat dengan Washington untuk memperpanjang gencatan perang dagang hingga 10 Januari 2027.
Sebelumnya, gencatan senjata perdagangan disepakati oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan mereka di Korea Selatan pada Oktober 2025, dan dijadwalkan berakhir pada 10 November mendatang.
MOFCOM mengungkapkan pihaknya sedang mencari solusi untuk perpanjangan lebih lanjut, melalui interaksi ekonomi dan perdagangan tingkat tinggi sebelum akhir tahun.
1. Rincian pembicaraan perdagangan terbaru China-AS

Ilustrasi bendera Amerika Serikat (kiri) dan bendera China. (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com) Kedua pihak juga sepakat untuk mengurangi tarif atas barang-barang impor senilai sekitar 30 miliar dolar AS (Rp541,1 triliun). Tarif untuk sekitar 90 persen produk yang tercakup akan diturunkan menjadi tarif 'most-favored-nation' atau negara paling disukai.
Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) merilis prosedur kerja untuk Dewan Perdagangan AS-China pada Minggu (27/9/2026). Disebutkan bahwa dewan tersebut akan diawasi oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Perdagangan Jamieson Greer. Sementara, dari pihak China diawasi oleh Wakil Perdana Menteri He Lifeng untuk membahas berbagai hal, termasuk penurunan tarif.
"Pemerintah Trump akan terus mengejar perdagangan yang adil, seimbang, dan timbal balik dengan China," kata Greer, dilansir NHK News.
USTR juga mengumumkan daftar produk yang direkomendasikan untuk perlakuan tarif yang lebih rendah. Untuk diketahui, ekspor dari AS ke China meliputi produk pertanian dan alat kesehatan, sedangkan impor dari China meliputi peralatan rumah tangga dan mainan.
2. AS menginginkan kesepakatan dagang yang lebih besar dengan China

Ilustrasi perdagangan. (pexels.com/Frans Van Heerden) Dilansir CNBC, perpanjangan selama dua bulan itu lebih singkat dari ekspektasi sejumlah pihak yang sebelumnya memperkirakan gencatan senjata akan diperpanjang setidaknya enam bulan. Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai durasi tersebut menunjukkan bahwa Washington masih menginginkan Beijing memberikan lebih banyak konsesi.
"AS tidak puas dengan tawaran China dan ingin terus memberikan tekanan, dengan bonus tambahan berupa kemungkinan lebih besar bahwa Presiden Xi akan menghadiri G20 di Miami," ujar Scott.
Sementara itu, peneliti senior di Universitas Renmin China, Dong Shaopeng, mengatakan Beijing-Washington seharusnya menangani perbedaan perdagangan berdasarkan kepentingan bersama dan menghindari penerapan pembatasan baru.
Presiden Kamar Dagang Eropa di China, Jens Eskelund, mengungkapkan bahwa perpanjangan kesepakatan tersebut belum menyelesaikan seluruh persoalan bisnis. Menurutnya, perusahaan masih menghadapi tantangan, termasuk belum adanya prosedur standar untuk memperoleh izin ekspor logam tanah jarang.
3. Perpanjangan kesepakatan yang dicapai dari diskusi kedua pihak

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng (kanan) saat mengadakan diskusi substantif tentang hubungan ekonomi AS-China di New York, pada 23 September 2026. (x.com/SecScottBessent) Pekan lalu, Bessent mengumumkan perpanjangan tersebut, setelah mencapai kesepakatan pembicaraan dengan Wakil Perdana Menteri China di New York. Ia menyebut kesepakatan itu akan memberi banyak waktu untuk melihat apa yang dapat dilakukan kedua negara di bidang ekonomi.
"Saya tidak tahu apakah kesepakatan yang lebih besar dapat dilakukan. Saya tidak tahu apakah kita hanya akan memperpanjang kesepakatan yang ada saat ini. AS ingin menilai dalam beberapa bulan mendatang apakah China dapat lebih tegas menerapkan kesepakatan tersebut," ujar Bessent dalam wawancara dengan Fox News, menjelang pertemuan Trump dan Xi di Washington.
Dalam siaran pers resmi setelah tiba di AS, Presiden Xi mengatakan kedua negara harus menjadi mitra, bukan pesaing. Ia juga menyerukan agar AS-China membangun hubungan yang stabil dengan mengelola persaingan dan perbedaan secara baik.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















