Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
2 Serangan Bom Guncang Hari Pertama Presiden Baru Kolombia
ilustrasi serangan bom (unsplash.com/Sven Verweij)
  • Dua serangan bom mengguncang Kolombia pada 8 Agustus 2026, bertepatan hari pertama Abelardo de la Espriella menjabat presiden setelah dilantik di Cali.
  • Serangan di pintu tol Pan-Amerika, Santander de Quilichao, menewaskan satu polisi dan melukai dua lainnya; pelaku diduga kelompok bersenjata pimpinan Ivan Moriodisco.
  • Pemerintah mengecam serangan dan berjanji memulihkan keamanan, sementara De la Espriella menargetkan pelucutan senjata kelompok ilegal melalui pendekatan damai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dua serangan bom dilaporkan terjadi di Kolombia pada Sabtu (8/8/2026). Serangan tersebut bertepatan dengan hari pertama Abelardo de la Espriella menjabat sebagai Presiden Kolombia yang baru usai dilantik di Kota Cali pada Jumat (7/8/2026) kemarin. 

Serangan itu dilakukan oleh geng bersenjata yang dipimpin oleh Ivan Moriodisco. Kelompok tersebut sudah memisahkan diri dari organisasi pemberontak di Kolombia yang sudah dilucutinya senjatanya pada 2016, Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). Mereka melakukan serangan bom terhadap sebuah mobil di pintu tol Pan-Amerika yang ada di Kota Madya Santander de Quilichao, Kolombia bagian barat. 

1. Serangan bom menewaskan satu orang polisi

ilustrasi korban tewas (pexels.com/Mario Wallner)

Dilansir The Strait Times, Minggu (9/8/2026), serangan tersebut menewaskan 1 orang polisi, sedangkan 2 polisi lainya terluka. Beruntungnya, dua polisi tersebut tidak mengalami luka yang terlalu parah sehingga kondisinya kini sudah stabil. Meski demikian, mereka masih harus menjalani perawatan. 

Seorang saksi mata yang tidak disebut namanya menjelaskan, sebelum ledakan bom terjadi, ada orang tidak dikenal yang turun dari mobil di dekat pintu tol Pan-Amerika. Setelah itu, ia langsung melemparkan bom ke sebuah mobil yang ada di sana. Tidak lama kemudian, pelaku langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor. Mobil yang ia pakai sebelumnya ditinggalkan begitu saja.

2. Kolombia mengecam serangan bom di pintu tol Pan-Amerika

Menteri Transportasi Kolombia di kabinet Abelardo de la Espriella, Elsa Noguera (commons.wikimedia.org/Luisnh1210)

Serangan bom ini langsung dikecam oleh Pemerintah Kolombia di bawah rezim De la Espriella. Menteri Transportasi Kolombia yang baru, Elsa Noguera, mengatakan, pihaknya tidak akan menoleransi atau membiarkan serangan yang dilakukan oleh kelompok pemberontak, seperti yang terjadi di pintu tol Pan-Amerika. 

Menurut Noguera, peristiwa semacam itu bisa mengganggu ketertiban dan keamanan nasional. Ia mengatakan, Pemerintah Kolombia akan segera membasmi semua kelompok bersenjata yang kerap menebar teror terhadap warga Kolombia agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.  

“Kolombia tidak akan bertekuk lutut di hadapan kekerasan dan tidak akan membiarkan penghancuran infrastruktur yang menghubungkan wilayah kita. Seperti yang dikatakan Presiden Abelardo de la Espriella kemarin, waktu untuk memulihkan ketertiban telah dimulai. Kita akan memulihkan keamanan, kendali atas wilayah kita, dan ketenangan pikiran rakyat Kolombia,” jelas Noguera, seperti dilansir Al Jazeera

3. De la Espriella berjanji akan membasmi semua kelompok bersenjata ilegal di Kolombia

potret Presiden Kolombia yang baru, Abelardo de la Espriella (commons.wikimedia.org/Abelardo de la Espriella)

Kolombia sendiri memang terkenal sebagai negara yang dihuni banyak kelompok bersenjata ilegal. Kelompok tersebut kerap melakukan serangan dan ancaman terhadap warga setempat. Selain itu, mereka juga kerap terlibat aksi perdagangan narkoba, baik di dalam maupun di luar negeri. 

Selain kondisi ekonomi, banyaknya geng bersenjata ini juga menjadi salah satu tantangan yang dimiliki De la Espriella setelah resmi menjabat sebagai Presiden Kolombia. Sebab, membasmi kelompok bersenjata, terutama yang memiliki jaringan kartel narkoba, bukanlah perkara mudah. Namun, De la Espriella merasa yakin bisa memberantas semua geng bersenjata yang ada di Kolombia. 

De la Espriella mengatakan, pihaknya akan menggunakan pendekatan damai agar semua geng bersenjata di negaranya mau melucuti senjata dan berhenti beroperasi. Praktik ini berhasil dilakukan pada 2016 silam. Sebab, FARC akhirnya bersedia melucuti senjatanya usai melakukan negosiasi damai dengan Pemerintah Kolombia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article