Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ethiopia Bangun Kamp Latihan Rahasia untuk Pasukan RSF

Kamp militer.
ilustrasi kamp militer (pexels.com/Maarten Ceulemans)
Intinya sih...
  • Uni Emirat Arab mendanai pembangunan kamp latihan RSF di Ethiopia
  • Ethiopia dan Uni Emirat Arab sudah menyerukan gencatan senjata di Sudan
  • Perang Saudara di Sudan pecah pada 2023
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Ethiopia dilaporkan telah membangun sebuah kamp rahasia untuk dijadikan tempat latihan ribuan pasukan kelompok paramiliter Sudan, RSF. Kabar tersebut dilaporkan oleh kantor berita Reuters berdasarkan tiga foto citra satelit yang dirilis pada Januari 2026 lalu. 

Dalam foto tersebut, terlihat sebuah area di Ethiopia bernama Benishangul-Gumuz yang dipenuhi oleh ratusan tenda militer. Di area tersebut juga terlihat proyek konstruksi baru di sebuah bandara dan beberapa mobil truk yang sedang mondar-mandir. Namun, tidak diketahui secara pasti apa yang dilakukan truk-truk tersebut.

1. Uni Emirat Arab ikut mendanai pembangunan kamp latihan RSF di Ethiopia

Bendera Uni Emirat Arab sedang berkibar.
potret bendera Uni Emirat Arab (unsplash.com/Saj Shafique)

Berdasarkan keterangan sumber internal Pemerintah Ethiopia, Uni Emirat Arab dilaporkan ikut mendanai pembangunan markas latihan RSF di wilayah Benishangul-Gumuz. Selain itu, mereka juga dikabarkan ikut menyediakan pelatihan militer dan memenuhi peralatan perang pasukan RSF yang berlatih di sana. 

Beberapa media sudah menghubungi Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab untuk mengonfirmasi hal tersebut. Mereka menjawab, Uni Emirat Arab sama sekali tidak terlibat dalam pembangunan kamp militer di Ethiopia. Pemerintah Uni Emirat Arab juga menegaskan mereka sama sekali tidak terlibat dalam konflik saudara di Sudan seperti kabar yang beredar luas di masyarakat.

Meski begitu, beberapa pihak menilai pembangunan kamp militer rahasia di Benishangul-Gumuz seperti yang dilaporkan Reuters menunjukkan intervensi nyata Ethiopia dan Arab Saudi dalam peristiwa perang saudara di Sudan. Namun, saat ditanya mengenai hal tersebut, RSF enggan menjawab.

2. Ethiopia dan Uni Emirat Arab sudah menyerukan gencatan senjata di Sudan

Seorang anak sedang memegang sebuah papan bertuliskan seruan perdamaian.
ilustrasi gencatan senjata (unsplash.com/Brett Wharton)

Semua dugaan tadi sebetulnya bertentangan dengan sikap Ethiopia dan Uni Emirat Arab soal perang saudara di Sudan. Sebab, pada 6 Januari 2026 lalu, kedua negara sudah menandatangani pernyataan bersama yang menyerukan gencatan senjata di sana.

Dalam pernyataan bersama itu, Ethiopia dan Uni Emirat Arab juga mendesak pasukan RSF agar memperluas akses bantuan kemanusiaan untuk warga yang terdampak perang. Sebab, selama perang berlangsung, RSF kerap menyerang truk-truk yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Sudan.

3. Perang Saudara di Sudan pecah pada 2023

Tentara sedang berperang.
ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Duncan Kidd)

Sebagai informasi, perang saudara di Sudan sebetulnya sudah terjadi sejak 2023. Perang tersebut dipicu perebutan kekuasaan antara pasukan Pemerintah Sudan dan pasukan RSF. Mereka saling berperang agar bisa mengambil alih kekuasaan tertinggi negara. 

Dalam perang tersebut, kedua pihak mendapatkan dukungan internasional dari negara-negara tetangga. Salah satu negara yang paling sering dituduh terlibat dalam perang saudara di Sudan adalah Uni Emirat Arab. Pemerintah Sudan menduga Uni Emirat Arab memberikan bantuan logistik dan senjata untuk pasukan RSF.

Saat ini, perang saudara di Sudan sudah menyebabkan ribuan warga tewas dan kelaparan. Selain itu, perang tersebut juga membuat banyak warga Sudan terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga, seperti Mesir, Libya, Chad, dan Sudan Selatan untuk mencari tempat aman.

Hingga saat ini, perang saudara antara pasukan Pemerintah Sudan dan RSF belum berakhir. Bahkan, pasukan RSF juga kembali menyerang konvoi mobil pembawa pengungsi di Sudan pada Sabtu (7/2/2026) lalu. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan sekitar 24 orang, termasuk anak-anak.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

KBRI Pulangkan dan Periksa WNI Terlibat Penipuan Daring di Kamboja

14 Feb 2026, 23:49 WIBNews