Iran Siap Kurangi Kemurnian Stok Uranium, Asal Sanksi Dicabut

- Iran siap mengurangi tingkat kemurnian cadangan uraniumnya hingga 60 persen
- Tuntutan penghapusan sanksi sebagai imbalan penurunan kadar uranium
- Penasihat Khamenei akan kunjungi Oman untuk membahas perkembangan regional dan negosiasi yang sedang berlangsung
Jakarta, IDN Times - Iran menyatakan kesediaan untuk mengurangi tingkat kemurnian cadangan uraniumnya yang telah diperkaya hingga 60 persen. Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan penurunan kadar bahan nuklir tersebut hanya akan dilakukan jika seluruh sanksi terhadap Teheran dicabut.
Sinyal kompromi ini muncul pada Senin (9/2/2026) menyusul pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS) di Oman. Isu pengayaan uranium menjadi titik penting negosiasi karena tingkat kemurnian 60 persen hanya sedikit lagi menuju level senjata.
1. Iran tuntut penghapusan sanksi

Eslami sendiri tidak merinci apakah sanksi yang dimaksud merujuk pada sanksi AS atau mencakup hukuman internasional lainnya. Penurunan kadar uranium sendiri biasanya dilakukan dengan mencampur uranium yang telah diperkaya dengan bahan lain untuk menurunkan konsentrasi isotop fisilnya.
"Kemungkinan pengenceran uranium yang diperkaya 60 persen bergantung pada apakah semua sanksi akan dicabut sebagai imbalannya," ujar Mohammad Eslami, dilansir The New Arab.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mencatat Iran sebagai satu-satunya negara non-pemilik senjata nuklir yang memperkaya uranium hingga level 60 persen. Angka ini jauh melampaui batas 3,67 persen yang diizinkan dalam kesepakatan nuklir 2015 dan mendekati ambang 90 persen untuk bom atom.
Di sisi lain, AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump sempat menuntut penghentian total pengayaan, tetapi ditolak keras oleh Teheran. Laporan PBB tahun lalu memperkirakan stok uranium 60 persen Iran telah mencapai lebih dari 440 kilogram. Jumlah material tersebut secara teori cukup untuk memproduksi lebih dari sembilan bom nuklir jika diproses lebih lanjut.
2. Penasihat Khamenei akan kunjungi Oman

Ali Larijani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dijadwalkan mengunjungi Oman pada Selasa untuk bertemu pejabat tinggi kesultanan. Kunjungan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional ini bertujuan membahas perkembangan regional dan negosiasi yang sedang berlangsung.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pembicaraan ini sebagai peluang besar untuk mencapai resolusi yang adil dan seimbang. Ia menekankan, hasil positif dapat diraih jika AS menghindari posisi maksimalis dan menghormati hak nuklir Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyoroti tensi pembicaraan.
"Iran sangat serius dengan negosiasi dan bersemangat untuk mencapai kesepakatan. Namun, ada tembok ketidakpercayaan terhadap AS yang bersumber dari perilaku mereka sendiri," tegas Araghchi, dilansir Al Jazeera.
Di sisi lain, Trump memuji perkembangan pembicaraan sambil melontarkan peringatan kepada Teheran. Presiden AS itu memperingatkan akan ada konsekuensi berat jika kesepakatan gagal tercapai, merujuk pada armada angkatan laut AS yang siaga di kawasan.
3. Keberadaan uranium Iran masih menjadi misteri

Negosiasi ini merupakan kelanjutan serangan udara Israel dan AS pada Juni 2025 yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Serangan tersebut sempat menghambat kemampuan pengayaan, tetapi IAEA menyebut Teheran mampu memulihkan kapasitasnya dalam hitungan bulan.
Masalah pengawasan menjadi sorotan karena keberadaan uranium yang dimiliki Iran sebelum perang Juni masih belum diketahui. Inspektur PBB terakhir kali mencatat lokasi material sensitif tersebut pada 10 Juni, tiga hari sebelum serangan Israel dimulai.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump untuk mendesak sikap keras dalam negosiasi. Tel Aviv menuntut pembatasan arsenal rudal balistik Iran selain masalah nuklir, sebuah topik yang ditolak Teheran untuk didiskusikan.
Analis keamanan Andreas Krieg dari King’s College London menilai kedua pihak semakin mendekat ke arah kesepakatan dibanding beberapa minggu lalu. Tekanan militer AS dan diplomasi regional Oman menciptakan momentum, tetapi detail teknis verifikasi masih menjadi tantangan terbesar.


















