PSI Kirim Bantuan untuk Warga Terdampak Tanah Bergerak di Tegal

- PSI memberikan bantuan berupa sembako, perlengkapan sekolah, obat, kasur lipat, dan selimut
- Fenomena tanah bergerak merusak 596 rumah dan ratusan KK direlokasi
- Penyebab utama adalah fenomena Creeping yang disebabkan oleh jenis tanah lempung yang kena air merayap
Jakarta, IDN Times - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyalurkan bantuan untuk masyarakat terdampak bencana tanah bergerak di Desa Kajen dan Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng).
"Kami hadir untuk sedikit membantu meringankan beban para sedulur di Kabupaten Tegal," kata Wakil Ketua Umum DPP PSI, Aan Rochyanto dalam keterangannya di lokasi, Sabtu (14/2/2026).
1. Bantuan berupa sembako, perlengkapan sekolah, obat, kasur lipat, hingga selimut

Bantuan yang diberikan berupa sembako, seragam sekolah, perlengkapan sekolah, obat-obatan, kasur lipat, dan selimut.
Selain Aan, juga hadir Ketua DPW PSI Jawa Tengah Antonius Yoga dan para pengurus DPD PSI Kabupaten Tegal.
"Kami juga mengapresiasi Bupati Tegal yang berniat merelokasi warga ke tempat yang lebih aman," ujar Aan.
2. Fenomena tanah bergerak rusak 596 rumah, ratusan KK direlokasi

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Tegal mempercepat rencana relokasi bagi ratusan warga yang terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara. Hingga Senin (9/2/2026), tercatat sebanyak 596 rumah warga rusak, dengan 464 unit di antaranya dinyatakan tidak layak huni.
Fenomena pergerakan tanah yang dipicu curah hujan tinggi dan kondisi tanah labil itu juga memaksa lebih dari dua ribu jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
3. Penyebab utama adalah fenomena Creeping

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto mengatakan, hasil investigasi geologi di lokasi bencana. Menurutnya, kerusakan masif tersebut disebabkan oleh fenomena creeping atau rayapan tanah.
"Jadi kalau yang Tegal itu kalau dari sisi geologi hasil investigasi dan kajian teman-teman itu memang creeping ya. Jadi, lapisan tanahnya itu jenisnya clay atau lempung, kemudian kena air merayap. Pelan-pelan geraknya," kata Agus di Semarang, Senin (9/2).
Agus menambahkan, creeping berbeda dengan likuifaksi. Fenomena ini khas terjadi pada wilayah luas dengan kontur tanah miring, serupa dengan kejadian di Watukumpul (Pemalang) dan Simo (Boyolali).
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan menyatakan, potensi pergerakan tanah masih terus terjadi karena adanya keretakan di sejumlah titik. Oleh karena itu, relokasi menjadi solusi mutlak bagi warga yang rumahnya rusak berat.
"Tercatat 596 rumah warga rusak akibat tanah bergerak. Lebih dari 400 rumah di antaranya dinyatakan tidak layak huni dan akan direlokasi," ujar Bergas.
Pihaknya saat ini tengah mengkaji dua lokasi tanah milik Perhutani di Tegal sebagai tempat relokasi hunian tetap (huntap). Kajian mendalam dilakukan untuk memastikan lahan baru tersebut benar-benar aman dari risiko bencana serupa.


















