Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gelombang Imigran dari Maroko, Militer Spanyol Jaga Ceuta
Ilustrasi tentara (Unsplash.com/Filip Andrejevic)
  • Spanyol mengerahkan militer ke Ceuta setelah ribuan migran dari Maroko mencoba masuk melalui laut dan darat; sekitar 2.000-3.000 orang dilaporkan berhasil menyeberang.
  • Pengamanan diperkuat dengan 60 personel militer, penyelam, kapal perang, dan 200 polisi tambahan, sambil berkoordinasi dengan Maroko serta mempertimbangkan deportasi bagi pendatang ilegal.
  • Insiden penyeberangan massal menewaskan sembilan migran, memicu kekhawatiran keamanan lokal, penutupan toko lebih awal, kritik oposisi, dan perhatian negara-negara Uni Eropa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Spanyol mengerahkan personel militer untuk membantu aparat keamanan di wilayah enklave Ceuta, Afrika Utara, pada Kamis (30/7/2026). Langkah darurat ini diambil setelah ribuan migran dari Maroko berupaya memasuki wilayah tersebut melalui jalur darat dan laut.

Lonjakan kedatangan migran yang drastis memaksa aparat Guardia Civil meningkatkan pengamanan di sepanjang kawasan perbatasan. Pemerintah Spanyol juga mengintensifkan koordinasi dengan otoritas Maroko guna mengendalikan arus penyeberangan ilegal tersebut.

1. Lonjakan penyeberangan lewat jalur laut dan darat

Ribuan migran dilaporkan memasuki Ceuta melalui kawasan pemecah gelombang Tarajal menggunakan alat apung. Pada saat bersamaan, kelompok lainnya berupaya menembus pagar perbatasan darat yang memisahkan wilayah Spanyol dengan Maroko.

Stasiun televisi pemerintah TVE melaporkan diperkirakan 2.000 hingga 3.000 orang telah berhasil menyeberang, meski angka pasti tersebut belum dapat diverifikasi.

"Arus penyeberangan ini mulanya hanya bergerak sangat lambat sejak adanya putusan dari Mahkamah Agung, tetapi hari ini terjadi lonjakan yang sangat drastis," kata juru bicara Guardia Civil, dilansir BBC.

Otoritas setempat juga mengonfirmasi penemuan sembilan jenazah migran di pesisir Ceuta pascainsiden penyeberangan massal tersebut.

2. Spanyol tambah pasukan dan perketat pengamanan perbatasan

Kementerian Dalam Negeri Spanyol merespons situasi ini dengan mengirimkan tiga peleton militer beranggotakan sekitar 60 personel ke Ceuta. Selain itu, pemerintah mengerahkan unit penyelam militer, satu kapal perang, serta sekitar 200 personel kepolisian tambahan untuk memperkuat barisan pengamanan.

Menghadapi kondisi yang kian genting, pemerintah daerah Ceuta telah meminta pemerintah pusat di Madrid untuk menetapkan status keadaan darurat.

"Situasi masih di luar kendali saat ini," tegas aktivis hak-hak migran, Zakaria Zarroqui.

Spanyol terus berkoordinasi dengan otoritas Maroko untuk mencegah penyeberangan lanjutan dari wilayah Fnideq. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh migran yang masuk secara ilegal akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, termasuk opsi deportasi.

3. Krisis migrasi picu kekhawatiran keamanan

Eskalasi jumlah migran ini memicu kekhawatiran terkait kondisi keamanan lokal, hingga menyebabkan sejumlah pemilik usaha di Ceuta memilih menutup toko lebih awal.

"Saya tidak membuka toko sore ini karena situasinya sangat tegang. Hal utama yang harus saya lakukan adalah melindungi bisnis dan keluarga," ujar pemilik toko setempat, Enrique Serrano.

Krisis migrasi ini memantik gelombang kritik dari partai oposisi terhadap kebijakan migrasi pemerintah Spanyol. Di tingkat regional, perkembangan situasi di Ceuta turut menyita perhatian negara-negara Uni Eropa, termasuk Italia yang dilaporkan mulai mempertimbangkan pengetatan pemeriksaan bagi pelancong asal Spanyol.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article