Rute Transjabodetabek Diperluas, Mobilitas Warga Makin Terjangkau

- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan dua rute baru Transjabodetabek, yaitu B51 Cawang–Cikarang dan SH2 Blok M–Bandara Soekarno-Hatta untuk memperkuat konektivitas antarwilayah.
- Rute B51 beroperasi setiap hari dengan tarif mulai Rp2.000 hingga Rp3.500, melayani 11 titik pemberhentian sepanjang 89 kilometer guna mempermudah mobilitas pekerja menuju kawasan industri Cikarang.
- Rute SH2 menawarkan perjalanan langsung ke Bandara Soekarno-Hatta dengan tarif promosi Rp3.500, diharapkan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi serta mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik.
Jakarta, IDN Times -Bagi banyak warga Jabodetabek, perjalanan menuju tempat kerja atau bandara kerap menjadi tantangan tersendiri. Kemacetan, biaya yang tidak sedikit, hingga kebutuhan berganti moda membuat perjalanan harian sering menguras waktu dan tenaga.
Namun kini, masyarakat punya pilihan baru yang lebih terjangkau. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperluas layanan Transjabodetabek untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik.
Melalui dua rute baru yang menghubungkan Jakarta dengan kawasan industri Cikarang dan Bandara Soekarno-Hatta, warga dapat bepergian dengan tarif mulai Rp3.500.
1. Mempermudah mobilitas pekerja ke kawasan industri

Pembukaan rute Transjabodetabek B51 jurusan Cawang–Cikarang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Februari 2026. Rute ini menghubungkan kawasan Cawang di Jakarta Timur dengan pusat-pusat aktivitas ekonomi dan industri di Cikarang yang selama ini menjadi tujuan ribuan pekerja setiap harinya.
“Sebagaimana telah kami sampaikan sebelumnya, Jakarta akan membuka dua rute baru Transjabodetabek, salah satunya dari Cawang ke Cikarang. Hari ini, Rabu, rute Transjabodetabek B51 Cawang–Cikarang resmi dibuka dan diharapkan mampu mengurangi kemacetan yang selama ini terjadi,” ujar Pramono saat peresmian rute tersebut pada Rabu (11/2/2026).
Rute B51 beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 22.00 WIB. Tarif perjalanan ditetapkan sebesar Rp2.000 pada pukul 05.00–07.00 WIB dan Rp3.500 pada pukul 07.00–22.00 WIB.
Sebanyak 14 armada melayani lintasan sepanjang sekitar 89 kilometer pulang-pergi dengan 11 titik pemberhentian. Kehadiran layanan ini diharapkan menjadi alternatif transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat yang beraktivitas di koridor Jakarta–Cikarang.
2. Alternatif murah menuju Bandara Soekarno-Hatta

Tak berhenti di kawasan industri, Pemprov DKI Jakarta juga memperluas layanan Transjabodetabek hingga Bandara Soekarno-Hatta. Melalui rute SH2 Blok M–Bandara Soekarno-Hatta yang diresmikan pada Maret 2026, masyarakat kini dapat menuju bandara menggunakan layanan bus langsung tanpa perlu berganti kendaraan.
Kehadiran rute tersebut menjadi salah satu upaya Pemprov DKI Jakarta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang masih mendominasi perjalanan menuju bandara.
“Selama ini sekitar 70 hingga 80 persen masyarakat masih menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju bandara. Padahal, pergerakan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta mencapai lebih dari 54,9 juta orang per tahun,” ujar Pramono saat peresmian layanan SH2 di Terminal Blok M, Kamis (12/3/2026).
Pada masa awal operasional, tarif layanan ditetapkan sebesar Rp3.500 sebagai bagian dari masa promosi selama tiga bulan. Setelah masa evaluasi, tarif direncanakan berada pada kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000.
Meski demikian, angka tersebut masih jauh lebih terjangkau dibandingkan biaya perjalanan menuju bandara menggunakan taksi maupun layanan transportasi daring yang dapat mencapai ratusan ribu rupiah, terutama saat lalu lintas padat.
Layanan SH2 diproyeksikan mampu melayani sekitar 1.900 hingga 2.000 penumpang per hari. Untuk mendukung operasionalnya, Transjakarta menyiapkan 14 armada dengan waktu tunggu sekitar 10–20 menit.
3. Mendorong warga beralih ke transportasi publik

Perluasan layanan Transjabodetabek menunjukkan arah baru pembangunan transportasi Jakarta yang semakin terintegrasi dengan wilayah penyangga. Tidak hanya menawarkan tarif yang terjangkau, layanan ini dirancang untuk memangkas waktu perjalanan dan mengurangi kebutuhan masyarakat berganti moda transportasi saat menuju pusat kegiatan ekonomi, kawasan industri, maupun bandara.
Wali Kota Tangerang Sachrudin menyambut baik kehadiran layanan tersebut. Menurutnya, konektivitas transportasi publik lintas wilayah menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus mempermudah mobilitas masyarakat.
Ke depan, Pemprov DKI Jakarta berencana terus memperluas jaringan Transjabodetabek melalui penambahan halte dan penyempurnaan infrastruktur pendukung.
“Secara prinsip, Kementerian Perhubungan sudah memberikan izin. Namun, masih ada beberapa halte baru yang perlu disempurnakan. Saya sudah menargetkan kepada Dinas Perhubungan dan Transjakarta agar rute tersebut dapat beroperasi sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat,” tutur Pramono.
Di tengah mobilitas Jabodetabek yang terus meningkat, kehadiran rute-rute baru Transjabodetabek menjadi langkah penting untuk menghadirkan transportasi publik yang lebih mudah dijangkau, nyaman, dan berkelanjutan. (WEB)
















