Imbas Ancaman Houthi, WFP Akhiri Operasi Bantuan di Yaman Utara

- WFP menghentikan operasi di Yaman Utara yang dikuasai Houthi
- Puluhan staf WFP ditahan, 18 juta orang berisiko kelaparan akut
- Perang saudara di Yaman menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia
Jakarta, IDN Times - Program Pangan Dunia (WFP) menghentikan operasinya di bagian utara Yaman yang dikuasai pemberontak Houthi, menyusul pembatasan dan gangguan lainnya yang dilakukan oleh sekutu Iran tersebut.
Menurut pejabat PBB, 365 staf WFP yang tersisa di Yaman utara akan kehilangan pekerjaan mereka paling lambat akhir Maret. Keputusan ini belum diumumkan secara resmi, tetapi para pejabat PBB memberi tahu kantor berita mengenai hal tersebut secara anonim pada Kamis (29/1/2026).
Berakhirnya operasi WFP diperkirakan akan semakin memperparah kondisi kemanusiaan di Yaman, yang telah dilanda perang saudara sejak 2014.
1. Puluhan staf WFP ditahan dalam serangkaian penggerebekan
Seorang pejabat mengatakan, WFP menangguhkan operasinya di wilayah yang dikuasai Houthi setelah kelompok tersebut menahan 38 staf dalam serangkaian penggerebekan.
“Kondisi ini, ditambah dengan pendanaan yang sulit, mengakibatkan WFP perlu mengakhiri kontrak 365 anggata stafnya. Staf lokal ini merupakan seluruh anggota WFP di wilayah yang berada di bawah kendali otoritas de facto Houthi,” kata pejabat tersebut, seraya menambahkan bahwa staf internasional telah ditarik sebelumnya, dikutip dari DW.
Dalam beberapa tahun terakhir, Houthi telah melakukan tindakan keras terhadap staf PBB di wilayah yang mereka kuasai, dengan menuduh mereka sebagai mata-mata asing. Tuduhan itu dibantah keras oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Tindakan keras Houthi ini sangat membatasi operasi kemanusiaan di Yaman utara, yang menurut PBB mencakup sekitar 70 persen dari seluruh kebutuhan kemanusiaan di negara tersebut.
2. 18 juta orang di Yaman berisiko hadapi kerawanan pangan akut
Awal Januari, Ramesh Rajasingham, yang memimpin operasi kemanusiaan di Yaman, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa lebih dari 18 juta orang di Yaman berisiko menghadapi kerawanan pangan akut dalam waktu satu bulan.
"Puluhan ribu orang berisiko tergelincir ke dalam kelaparan katastrofik dan menghadapi kondisi mirip kelaparan parah," ungkapnya.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) juga menyatakan bahwa operasi bantuan di Yaman pada 2025 baru terdanai sekitar 25 persen. ini memaksa kelompok-kelompok bantuan untuk memangkas layanan penyelamatan jiwa di seluruh sektor, khususnya program kesehatan dan perlindungan.
"Kondisi ini menyebabkan jutaan orang tidak mendapatkan perawatan penting dan menghadapi risiko yang lebih tinggi,” kata OCHA.
3. Perang Yaman ciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia
Perang saudara di Yaman pecah pada 2014, ketika pasukan Houthi menyerbu wilayah selatan dan memaksa pemerintahan yang diakui secara internasional mengasingkan diri.
Konflik pun berlanjut selama bertahun-tahun, dengan Arab Saudi memimpin dukungan bagi pemerintahan yang digulingkan dan berusaha memulihkan kekuasaan mereka melalui kampanye militer. Meski demikian, pasukan Houthi berhasil mempertahankan sebagian besar wilayah strategis yang telah mereka kuasai.
Perang tersebut, yang sebagian besar mereda sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022, telah menewaskan ratusan ribu orang dan menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Menurut PBB, sekitar 19,5 juta orang di Yaman, lebih dari setengah populasi, membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2025. Mayoritas warga Yaman tinggal di wilayah yang dikendalikan Houthi.


















