Jakarta, IDN Times – Pemerintah Irak membantah tuduhan bahwa pihaknya memfasilitasi serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi terhadap sejumlah target di wilayahnya. Baghdad mengaku tidak mengetahui rencana operasi tersebut sebelum serangan pada Rabu dilancarkan.
Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (30/7/2026), sehari setelah Washington dan Riyadh melancarkan serangan terkoordinasi ke sejumlah sasaran di Irak. Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa operasi tersebut telah dikoordinasikan dengan Baghdad.
Juru Bicara Pemerintah Irak, Haider al-Aboudi, mengatakan Dewan Menteri Keamanan Nasional telah mengecam serangan tersebut karena dinilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Aboudi menyebut bahwa Baghdad selalu meyakini bahwa diplomasi dan dialog merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan kawasan dari krisis dan eskalasi lebih lanjut.
Dilansir Anadolu, Aboudi juga mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Ali al-Zaidi menunda kunjungan resminya ke Arab Saudi menyusul serangan pada Rabu. Menurutnya, Irak tetap berkomitmen untuk menjaga hubungan kemitraan dan bertetangga yang baik dengan seluruh negara, serta tidak ingin terseret ke dalam konflik regional.
