Jakarta, IDN Times – Pemerintah Irak mengecam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi terhadap sejumlah pangkalan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) di tujuh provinsi Irak pada Rabu lalu. Rapat Dewan Keamanan Nasional, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ali al-Zaidi, menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan kesucian wilayah Irak.
Serangan yang membentang dari Kota Kirkuk di utara hingga Basra di selatan itu menewaskan sedikitnya 20 anggota PMF dan melukai 32 orang lainnya. Sejumlah media Irak dan Iran juga melaporkan sedikitnya empat penasihat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) turut menjadi korban.
Menyusul serangan tersebut, al-Zaidi membatalkan kunjungan pertamanya ke Riyadh sejak menjabat sebagai perdana menteri. Baghdad menyerukan seluruh pihak untuk menghormati kedaulatan negaranya, serta menghindari tindakan yang dapat mengancam keamanan dan stabilitas kawasan, mengutip laporan Al Jazeera.
Pemerintah Irak juga mengatakan serangan Washington dan Riyadh telah menghambat penyelidikan terkait dugaan serangan terhadap wilayah Arab Saudi. Pihaknya mendesak penyelesaian berbagai krisis regional melalui jalur dialog untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
