Israel Atur Keamanan di Apartemen Epstein untuk Eks PM Ehud Barak

- Email Departemen Kehakiman AS mengungkap pemerintah Israel memasang sistem keamanan di apartemen milik Jeffrey Epstein di Manhattan yang sering digunakan mantan PM Ehud Barak sejak awal 2016.
- Koordinasi keamanan dilakukan oleh pejabat misi Israel untuk PBB bersama staf Epstein, termasuk pemasangan sensor dan pengawasan akses tamu yang dikendalikan langsung oleh kepala keamanan Barak.
- Ehud Barak membantah mengetahui kejahatan Epstein dan menyangkal hubungan finansial, sementara dokumen ini dimanfaatkan Benjamin Netanyahu untuk menyerangnya secara politik di Israel.
Jakarta, IDN Times- Email terbaru yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa pemerintah Israel pernah memasang sistem keamanan di gedung apartemen yang dikelola oleh terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Pengawasan ini mulai dilakukan pada awal 2016 di kediaman yang berlokasi di 301 East 66th Street, Manhattan. Fasilitas tersebut diketahui sering digunakan oleh mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, untuk menginap dalam jangka waktu yang lama.
Pengaturan keamanan dikoordinasikan oleh pejabat dari misi permanen Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama staf Epstein. Dokumen menyoroti adanya hubungan operasional antara badan keamanan Israel dengan sang pemodal selama setidaknya dua tahun, dilansir Drop Site pada Kamis (19/2/2026).
1. Pemasangan sensor keamanan untuk Barak

Pada Januari 2016, istri Ehud Barak, Nili Priell, berkomunikasi melalui email dengan asisten lama Epstein, Lesley Groff. Mereka membahas rencana pemasangan enam sensor keamanan yang ditempel di jendela serta sistem untuk mengontrol akses masuk ke lokasi dari jarak jauh.
“Satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah memanggil Rafi dari konsulat dan memberi tahu dia siapa dan kapan yang masuk,” tulis Priell, dilansir Anadolu Agency.
Sosok Rafi Shlomo yang dimaksud adalah Direktur Layanan Perlindungan di misi Israel untuk PBB sekaligus kepala keamanan Barak. Shlomo secara pribadi mengontrol akses masuk tamu dan bahkan melakukan pemeriksaan latar belakang terhadap petugas kebersihan serta karyawan Epstein. Asisten Epstein secara rutin memberikan daftar nama karyawan yang membutuhkan akses masuk kepada pihak keamanan Israel.
Pemasangan sensor ternyata memerlukan izin langsung dari Jeffrey Epstein. Melalui asistennya, Epstein kemudian mengizinkan pelubangan dinding apartemen untuk keperluan instalasi.
2. Ajudan Barak juga pernah menggunakan apartemen Epstein

Komunikasi antara pejabat keamanan Israel dan perwakilan Epstein terus berlanjut sepanjang tahun 2016 hingga 2017. Staf Epstein diketahui selalu menginformasikan pihak keamanan Israel mengenai jadwal kunjungan Barak dan istrinya.
Keterlibatan ini ternyata meluas melampaui Ehud Barak dan mencakup pejabat aktif negara Israel lainnya. Ajudan lama Barak, Yoni Koren, tercatat menginap di apartemen Manhattan tersebut pada berbagai kesempatan, termasuk pada tahun 2013. Saat itu, Koren masih berstatus aktif menjabat sebagai Kepala Biro untuk Kementerian Pertahanan Israel.
Bukti email menunjukkan bahwa Koren pernah menggunakan properti tersebut saat menjalani perawatan medis di New York. Hubungan ini terus berlangsung hingga terjadinya penangkapan terakhir Epstein oleh otoritas federal AS pada tahun 2019.
Menurut Al Jazeera, unit apartemen di gedung tersebut dimiliki oleh sebuah perusahaan yang terhubung dengan saudara laki-laki Epstein, Mark Epstein. Namun, investigasi mengungkap bahwa unit-unit di gedung itu dikendalikan oleh Jeffrey Epstein dan kerap digunakan untuk menampung model di bawah umur.
3. Ehud Barak mengaku tidak tahu skala kejahatan Epstein

Setelah kematian Epstein di penjara New York pada tahun 2019, Ehud Barak berusaha meremehkan hubungan pribadinya dengan sang pemodal. Meski mengaku telah bertemu beberapa kali, Barak menyangkal adanya dukungan finansial atau politik yang diberikan Epstein kepadanya.
Barak mengklaim dirinya sama sekali tidak mengetahui lingkup kejahatan perdagangan seks Epstein. Ia berdalih baru menyadari besarnya skala kriminalitas Epstein ketika penyelidikan federal yang lebih luas dibuka pada tahun 2019.
Skandal dan rilisnya dokumen email terbaru ini telah dimanfaatkan oleh saingan politik Barak, yakni Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu menjadikan dokumen ini sebagai senjata politik untuk menyerang Barak, sembari menepis tuduhan bahwa Epstein berafiliasi dengan pemerintah Israel.
“Hubungan dekat Jeffrey Epstein yang tidak biasa dengan Ehud Barak tidak membuktikan bahwa Epstein bekerja untuk Israel, justru hal itu membuktikan sebaliknya. Barak telah bekerja sama dengan kelompok kiri radikal dan anti-Zionis untuk mengganggu pemerintahan Israel,” kata Netanyahu.

















