Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Israel Tahan 80 Relawan AS-Inggris saat Panen Zaitun di Tepi Barat
ilustrasi pohon zaitun (unsplash.com/nour tayeh)
  • Militer dan polisi Israel menahan sekitar 80 relawan internasional serta warga Palestina saat panen zaitun di Nahalin, setelah menetapkan lahan dekat Beitar Illit sebagai zona militer tertutup.
  • Kandidat Kongres AS Brad Lander dibebaskan beberapa jam kemudian; 72 orang dibebaskan dengan larangan mendekati area panen, sementara empat warga asing menghadapi sidang deportasi.
  • Musim panen zaitun 2026 dilaporkan diwarnai lonjakan kekerasan pemukim, termasuk pencurian, bentrokan, dan pembakaran lahan; polisi Israel menangkap 10 tersangka insiden akhir pekan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Militer dan kepolisian Israel menahan sekitar 80 relawan internasional serta warga lokal yang membantu petani Palestina memanen buah zaitun di Desa Nahalin, dekat Bethlehem, Tepi Barat pada Rabu (21/10/2026). Kelompok yang ditahan aparat tersebut mencakup warga negara Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Israel, hingga warga Palestina.

Penahanan ini turut menjaring kandidat anggota Kongres AS dari Partai Demokrat asal New York, Brad Lander, belasan rabi Yahudi, dan mantan Wakil Jaksa Agung Israel, Joshua Schoffman. Para relawan datang ke lokasi untuk mendampingi petani lokal yang kerap menghadapi ancaman kekerasan dari pemukim Israel.

1. Kronologi penahanan relawan di kebun zaitun Desa Nahalin

potret pohon zaitun (unsplash.com/Flor Saurina)

Koalisi penyelenggara Protect the Harvest menyatakan kegiatan memetik buah zaitun di lahan pribadi warga Palestina itu awalnya berlangsung damai selama dua jam. Perwakilan koalisi tersebut, Becca Strober, menyebut keluarga pemilik lahan baru bisa mengakses kebun mereka untuk pertama kalinya sejak 7 Oktober 2023 akibat tingginya ancaman kekerasan di area tersebut.

Situasi berubah saat personel keamanan permukiman memanggil tentara dan polisi Israel ke lokasi kebun. Aparat memeriksa kartu identitas para relawan, lalu menetapkan lahan dekat permukiman Israel Beitar Illit itu sebagai zona militer tertutup.

Pelaksana Tugas Direktur organisasi Rabbis for Human Rights, Anton Goodman, mengatakan para peserta tidak mengetahui status zona militer tertutup karena aturan itu baru diterbitkan pada Rabu pagi. Para relawan sempat menawarkan diri untuk membubarkan diri dari lokasi, tetapi aparat menolak dan menuduh mereka mengganggu ketertiban umum.

Tentara Israel kemudian memisahkan para relawan berdasarkan kewarganegaraan dan mengangkut mereka menggunakan bus menuju kantor polisi di permukiman Beitar Illit. Selama masa penahanan, aparat hanya memberikan air minum tanpa jatah makanan kepada para relawan.

"Kami jelas tidak melakukan kekerasan apa pun, tetapi tindakan memetik buah zaitun bersama petani Palestina tampaknya mengganggu bagi sebagian pihak," kata Rabi asal Manhattan sekaligus Kepala Eksekutif kelompok hak asasi T'ruah, Jill Jacobs, dilansir The Straits Times.

2. Brad Lander dibebaskan lebih awal

kandidat Anggota Kongres AS, Brad Lander (Tessa Bury, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)

Kepolisian Israel membebaskan Brad Lander beberapa jam kemudian dengan peringatan setelah mengetahui statusnya sebagai kandidat anggota Kongres AS untuk pemilihan paruh waktu pada 3 November mendatang. Sekitar 72 orang lainnya menyusul dibebaskan dengan syarat menjauhi area panen, sementara empat warga negara asing tetap ditahan untuk menjalani sidang deportasi pada Kamis.

Lander merupakan politikus Yahudi Amerika dan sekutu Wali Kota New York, Zohran Mamdani, yang vokal mengkritik aksi militer Israel di Gaza. Sebelum ia ditahan, anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Ro Khanna, juga pernah mengalami penahanan serupa oleh pasukan Israel saat mengunjungi Tepi Barat pada Juli lalu.

"Penahanan oleh militer Israel ini adalah satu lagi upaya untuk merusak hak warga Palestina dalam memanen kebun zaitun mereka, bepergian di jalanan mereka, dan tinggal di rumah mereka," ujar Lander melalui akun media sosial X usai dibebaskan, dilansir Associated Press.

Militer Israel berdalih kegiatan panen di area tersebut menimbulkan risiko keamanan karena berlangsung dekat permukiman Israel tanpa koordinasi terlebih dahulu. Kelompok anti-permukiman Peace Now mencatat militer Israel pekan lalu memperluas area pertanian Palestina yang wajib mengantongi izin akses hampir 30 persen menjadi 88 kilometer persegi.

Kementerian Luar Negeri Israel turut menuduh Lander sengaja mencari konfrontasi dan melakukan provokasi politik terencana demi mencari perhatian media. Otoritas tersebut mengklaim tim Lander telah mengabaikan arahan perwakilan Israel di AS sebelum kunjungan untuk melakukan koordinasi keamanan terlebih dahulu.

3. Lonjakan kekerasan pemukim Israel selama musim panen zaitun

pemukim Israel di Tepi Barat, Palestina (מסתכלים לכיבוש בעיניים, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)

Panen zaitun tahunan merupakan tulang punggung pertanian dan sumber pendapatan utama bagi warga Palestina. Kementerian Pertanian Otoritas Palestina mencatat sektor ini menyumbang sekitar delapan persen produk domestik bruto (PDB) serta menyediakan lebih dari 60 ribu lapangan kerja.

Kelompok hak asasi Israel, Yesh Din, bersama Serikat Petani Palestina melaporkan musim panen zaitun 2026 menjadi periode paling brutal dalam sejarah terkini di Tepi Barat. Ratusan kasus pencurian hasil panen, bentrokan fisik, hingga pembakaran lahan milik warga Palestina terjadi di dekat pos-pos permukiman ilegal Israel.

"Pemerintahan Israel aktif mendorong pengusiran paksa komunitas Palestina di seluruh Tepi Barat, menggunakan militernya untuk menghalangi akses warga Palestina ke tanah mereka dan mengintimidasi pihak yang mendampingi mereka," tutur Jill Jacobs dalam pernyataan resminya, dilansir The Independent.

Rentetan serangan pemukim Israel pada akhir pekan lalu turut menyasar warga asing yang berada di lokasi panen zaitun. Pemukim memukuli seorang jurnalis foto AS dari media The Washington Post pada Jumat (16/10/2026), lalu menyerang sejumlah diplomat Eropa dan seorang wali kota asal Prancis sehari setelahnya.

Kepolisian Israel mengumumkan penangkapan 10 orang yang diduga terlibat dalam insiden kekerasan akhir pekan tersebut pada Selasa. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah mendesak pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menindak tegas gelombang kekerasan pemukim di Tepi Barat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article