Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inayah Wahid Akui Bantu Lobi Aksi Pasang Spanduk Greenpeace di Bundaran HI

3 min read
Inayah Wahid Akui Bantu Lobi Aksi Pasang Spanduk Greenpeace di Bundaran HI
Inayah dalam Dialog Kebangsaan "Menjaga Tradisi, Merawat Kebersamaan dan Menguatkan Indonesia" yang digelar Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, pada Kamis (22/10/2026). (Dok. YouTube/@ppannuqayahlubangsa)
  • Inayah mengaku anggota Greenpeace dan membantu melobi aksi spanduk di Bundaran HI, tetapi tidak ikut memanjat Patung Selamat Datang.

  • Dalam dialog kebangsaan, Inayah menekankan NU harus berpihak kepada rakyat dan mempertanyakan perannya agar tidak bersama pihak yang menimbulkan penderitaan publik.

  • Inayah menolak kepentingan tambang bagi NU karena dinilai hanya menguntungkan segelintir orang, serta menempatkan pendidikan sebagai koridor utama perjuangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Putri Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wahid, mengakui dirinya sebagai anggota Greenpeace dan terlibat membantu aksi pembentangan spanduk di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Selasa (20/10/2026). Dia mengatakan, perannya bukan naik ke patung untuk memasang spanduk, melainkan membantu melakukan lobi terkait aksi tersebut.

Hal itu disampaikannya dalam Dialog Kebangsaan "Menjaga Tradisi, Merawat Kebersamaan dan Menguatkan Indonesia" yang digelar Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, pada Kamis (22/20 2026).

Inayah mengatakan, keputusannya bergabung ke Greenpeace karena pengalaman ayahnya yang pernah bekerja bersama dengan tersebut.

“Saya ini adalah anggota Greenpeace yang kemarin, kalau Bapak Ibu tahu, yang kemarin lagi viral karena manjat apa? Patung HI, banner itu. Saya itu juga main, cuma bantunya itu untuk melobi, karena kalau saya ikut naik ke atas patung, jelas patungnya ambrol,” ujar Inayah sambil tertawa, dikutip dari video YouTube @ppannuqayahlubangsa, Jumat (23/10/2026).

  1. 1. Inayah bagikan pandangan kebangsaannya dan posisi NU saat ini

    Inayah Wahid Akui Bantu Lobi Aksi Pasang Spanduk Greenpeace di Bundaran HI
    Inayah dalam Dialog Kebangsaan "Menjaga Tradisi, Merawat Kebersamaan dan Menguatkan Indonesia" yang digelar Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, pada Kamis (22/10/2026). (Dok. YouTube/@ppannuqayahlubangsa)

    Dalam dialog tersebut, Inayah menilai makna kebangsaan saat ini harus dimaknai sebagai sikap berada bersama rakyat, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan. Menurut dia, pembelaan negara tidak cukup hanya membela bentuk negaranya, tetapi juga harus membela pengisinya, yaitu rakyat.

    Dia mengingatkan, NU selama ini dikenal sebagai pemeran utama dalam kebangsaan Indonesia.

    “Ketika kita bicara soal kebangsaan, maka yang paling utama itu adalah bukan lagi hanya membela bentuk negaranya, tapi yang penting adalah membela pengisi negaranya yaitu rakyat,” ujar Inayah.

    Dia juga mempertanyakan posisi NU saat ini, apakah masih berperan sebagai main character atau hanya menjadi “NPC” yang tidak memiliki pengaruh. Inayah menekankan, NU perlu memastikan dirinya berada bersama rakyat, bukan bersama pihak yang menyebabkan penderitaan rakyat.

    “Nah, peran kita ini, NU ini sekarang posisinya ada di mana? Bersama rakyat atau tidak? Ketika kita dulu selalu dibilang, ‘Wah, NU itu tulang punggungnya Indonesia, demokrasi Indonesia.’ Hari ini kita di mana? Kita tulang apa hari ini?”

    Dia mengatakan, pembelaan terbesar adalah membela rakyat, terutama ketika publik merasa tertekan sebagai WNI. Inayah mengatakan, NU penting untuk hadir bersama publik, bukan bersama pihak yang menyebabkan kesakitan bagi rakyat.

  2. 2. Inayah tegaskan menolak kepentingan tambang

    Inayah Wahid Akui Bantu Lobi Aksi Pasang Spanduk Greenpeace di Bundaran HI
    Inayah dalam Dialog Kebangsaan "Menjaga Tradisi, Merawat Kebersamaan dan Menguatkan Indonesia" yang digelar Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, pada Kamis (22/10/2026). (Dok. YouTube/@ppannuqayahlubangsa)

    Inayah mengatakan, tambang tidak akan pernah menjadi keuntungan bagi NU secara keseluruhan. Menurut dia, keuntungan tambang hanya dinikmati oleh segelintir orang di lingkungan NU.

    “Mau diiming-iming apa pun gak masalah, apalagi kalau diiming-imingi tambang," ujar dia.

    Menurut Inayah, ada hal yang jauh lebih besar dan lebih berharga daripada kepentingan sesaat.

    "Tapi ya maksudnya gini, ada sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih mahal daripada hanya kepentingan sesaat untuk NU. Sekali lagi, buat saya misalnya, tambang itu tidak pernah akan menjadi keuntungan untuk NU. Tambang hanya akan menjadi keuntungan untuk segelintir orang-orang yang ada di NU," kata dia.

    Inayah mengatakan, sikap berpihak kepada rakyat merupakan warisan perjuangan para kiai dan masyaikh sebelumnya. Dia pun mencontohkan perjuangan Mbah Hasyim yang dekat dengan petani serta Gus Dur yang ikut memprotes PLTN sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

  3. 3. Inayah tekankan pendidikan menjadi koridor perjuangan utama

    Inayah Wahid Akui Bantu Lobi Aksi Pasang Spanduk Greenpeace di Bundaran HI
    Inayah dalam Dialog Kebangsaan "Menjaga Tradisi, Merawat Kebersamaan dan Menguatkan Indonesia" yang digelar Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, pada Kamis (22/10/2026). (Dok. YouTube/@ppannuqayahlubangsa)

    Inayah menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya para kiai, nyai, dan tokoh NU tetap berada dalam koridor perjuangan melalui pendidikan. Baginya, pendidikan merupakan ruang utama untuk memperjuangkan kemerdekaan sesuai konteks zaman.

    “Tapi memang yang paling penting para kiai, nyai dan semuanya tetap berada dalam koridor perjuangan dalam konteks pendidikan. Karena ketika kita bicara pendidikan, kita berada di garis paling depan dalam memperjuangkan kemerdekaan sesuai dengan konteksnya. Apapun itu konteksnya hari ini," ucap Inayah.

    Dia mengaitkan sikap tersebut dengan teladan perjuangan para pendahulu, termasuk Mbah Hasyim yang dekat dengan petani dan Gus Dur yang ikut memprotes PLTN. Bagi Inayah, teladan itu menjadi blueprint bagi NU untuk tetap hadir bersama rakyat.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More