Kapal WNI Kecelakaan di Malaysia, 14 Orang Masih Dicari

- Kecelakaan kapal tradisional di perairan barat Pulau Pangkor, Malaysia, menyebabkan 23 WNI berhasil diselamatkan sementara 14 orang lainnya masih dalam pencarian oleh otoritas setempat.
- KBRI Kuala Lumpur berkoordinasi dengan Polis Maritim Malaysia untuk memastikan penanganan korban berjalan baik serta menyiapkan bantuan kekonsuleran dan dokumen perjalanan bagi para WNI terdampak.
- Insiden ini menyoroti kembali risiko tinggi jalur migrasi laut tidak resmi menuju Malaysia yang kerap digunakan pekerja migran, dengan operasi pencarian masih terus berlangsung di lokasi kejadian.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri RI bersama KBRI Kuala Lumpur terus memantau penanganan kecelakaan kapal yang membawa sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di perairan barat Pulau Pangkor, Perak, Malaysia.
Kecelakaan itu terjadi pada Senin (11/5/2026). Berdasarkan informasi otoritas Malaysia, kapal tradisional tersebut mengangkut sejumlah warga asing yang diduga hendak memasuki wilayah Malaysia untuk bekerja.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengatakan, otoritas pencarian dan penyelamatan Malaysia telah mengevakuasi puluhan WNI dari insiden tersebut.
“Otoritas SAR dan Polis Maritim Malaysia telah menyelamatkan 23 WNI yang terdiri dari 16 laki-laki dan 7 perempuan, berusia antara 21 hingga 48 tahun,” kata Heni dalam pernyataan yang diterima IDN Times, Rabu (13/5/2026).
Seluruh korban selamat saat ini telah dibawa ke Markas Operasi Pasukan Polis Marin Kampung Acheh, Perak, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari pihak berwenang Malaysia.
1. Investigasi dilakukan otoritas setempat
Pemerintah Malaysia masih melanjutkan operasi pencarian terhadap penumpang lain yang diduga hilang dalam kecelakaan tersebut. Hingga kini, sekitar 14 orang dilaporkan masih dalam pencarian.
Belum ada rincian resmi terkait identitas seluruh penumpang yang hilang maupun penyebab pasti kecelakaan kapal tersebut. Otoritas setempat juga masih melakukan pendalaman terhadap insiden di perairan Perak itu.
Menurut informasi sementara, kapal tradisional tersebut membawa warga asing yang diduga hendak masuk ke Malaysia untuk tujuan bekerja. Jalur laut di kawasan itu memang kerap digunakan sebagai akses perjalanan tidak resmi menuju Malaysia.
Kondisi operasi pencarian juga terus dipantau mengingat kemungkinan masih adanya korban yang belum ditemukan di lokasi kejadian.
2. KBRI Kuala Lumpur berkoordinasi dengan otoritas Malaysia
KBRI Kuala Lumpur telah berkoordinasi dengan Polis Maritim Malaysia untuk memastikan penanganan terhadap para WNI berjalan baik. Selain melakukan pendampingan, KBRI juga menyiapkan bantuan kekonsuleran bagi para korban selamat.
“KBRI juga akan memberikan fasilitasi kekonsuleran dan dokumen perjalanan bagi para WNI sesuai kebutuhan,” ujar Heni.
Pendampingan tersebut mencakup kebutuhan administrasi dan perlindungan bagi para WNI yang terdampak kecelakaan kapal tersebut.
Kemlu RI menyatakan akan terus memantau perkembangan proses pencarian serta kondisi para korban di Malaysia.
3. Sorotan terhadap jalur migrasi laut
Kasus kecelakaan kapal ini kembali menyoroti jalur migrasi laut yang digunakan sebagian pekerja migran menuju Malaysia. Perjalanan menggunakan kapal tradisional dinilai memiliki risiko keselamatan tinggi, terutama jika dilakukan tanpa pengawasan resmi.
Hingga kini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai status keimigrasian para penumpang kapal maupun pihak yang mengoperasikan perjalanan tersebut.
Pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatiknya juga terus menjalin komunikasi dengan otoritas Malaysia untuk memperoleh perkembangan terbaru terkait korban hilang.
Sementara itu, operasi pencarian masih berlangsung di perairan barat Pulau Pangkor dengan melibatkan otoritas SAR dan Polis Maritim Malaysia.

















