Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kerusakan Bertambah, Biaya Rekonstruksi Gaza Jadi 7 Kali Lebih Mahal
Sebuah bangunan di Jalur Gaza hancur akibat serangan Israel. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Jakarta, IDN Times - Organisasi non-pemerintah (NGO) yang fokus pada masalah kemanusiaan asal Inggris, Oxfam, dalam pernyataannya pada Kamis (23/7/2026) menyebut biaya rekonstruksi Jalur Gaza, Palestina, yang hancur akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 lalu diperkirakan akan 7 kali lebih mahal. Sebab, kerusakan di wilayah itu kini semakin parah.

Sebelumnya, sudah ada beberapa upaya dari komunitas internasional untuk merekonstruksi Gaza yang rusak akibat serangan Israel. Namun, biayanya tidak semahal sekarang. Sebab, kerusakan di sana ketika itu belum separah saat ini. Ini karena serangan Israel ke Gaza saat itu belum masif.

1. Butuh Rp1,2 kuadriliun untuk membangun kembali Gaza

potret Gaza yang hancur diserang Israel (unsplash.com/Emad El Byed)

Dalam sebuah laporan berjudul “Building Gaza Anew”, Oxfam menambahkan, biaya rekonstruksi Gaza saat ini bisa mencapai 71,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp1,2 kuadriliun. Jumlah tersebut sudah diakumulasikan dengan biaya rekonstruksi kerusakan akibat serangan Israel pada 2008–2009, 2014, dan 2021. 

Menurut Oxfam, biaya rekonstruksi Gaza sebelumnya hanya 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun. Semua kalkulasi mengenai perkiraan biaya rekonstruksi Gaza ini sudah dipresentasikan ke Dewan Perdamaian (BoP) Gaza beberapa waktu lalu. Sebab, organisasi bentukan Donald Trump itulah yang punya wewenang penuh untuk membangun kembali Gaza yang hancur karena serangan Israel. 

2. Oxfam ingin Inggris berpartisipasi menghentikan serangan di Gaza

potret bendera Inggris (pexels.com/Shola Pixel)

Oleh karena itu, Oxfam ingin Inggris berpartisipasi untuk menghentikan agresi Israel di Gaza. Hal ini diperlukan agar biaya rekonstruksi tidak semakin membengkak. Sebab, jika serangan Israel berlanjut, kerusakan di Gaza akan semakin bertambah sehingga biaya rekonstruksi juga akan ikut meningkat.  

"Pemerintah (Inggris]) harus memimpin dalam memastikan bahwa warga Palestina adalah pengambil keputusan utama dalam membangun kembali Jalur Gaza dan tidak lagi harus menderita konsekuensi mengerikan dari genosida dan blokade bantuan yang terus dilakukan Pemerintah Israel di Gaza," kata CEO Oxfam cabang Inggris, Richard Hawkes, seperti dilansir The New Arab

3. Serangan Israel di Gaza sudah menewaskan lebih dari 73 ribu orang

ilustrasi korban tewas (pexels.com/Mario Wallner)

Saat ini, Israel masih menyerang Gaza. Dilansir Al Jazeera, serangan terbaru terjadi pada Kamis tidak lama usai Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan peringatan mengungsi kepada warga Palestina di Gaza. Berdasarkan keterangan petugas medis di Gaza, serangan tersebut telah menewaskan setidaknya dua orang. 

Berdasarkan data terbaru, serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu sudah menewaskan lebih dari 73 ribu warga. Sementara itu, lebih dari 173 ribu warga lainnya mengalami luka-luka. Di sisi lain, 1,9 juta dari total 2,3 juta warga Gaza kini terpaksa mengungsi imbas serangan Israel yang tidak kunjung berhenti.   

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article