Menteri Israel Ikut Aksi Massa Tuntut Pemukiman Kembali di Gaza

- Ribuan warga Israel, termasuk menteri dan anggota parlemen, turun ke jalan menuntut pembangunan kembali pemukiman Yahudi di Gaza yang hancur akibat perang.
- Massa demonstran menerobos zona militer tertutup di perbatasan Gaza meski dijaga ketat oleh Pasukan Pertahanan Israel, menunjukkan tekad kuat untuk mencapai area tersebut.
- Tiga bekas pemukiman Elei Sinai, Dugit, dan Nisanit menjadi fokus tuntutan agar pemerintah segera mengesahkan pembangunan kembali wilayah itu di Gaza utara.
Jakarta, IDN Times - Ribuan warga Israel menggelar aksi unjuk rasa di dekat perbatasan Gaza pada Minggu (19/7/2026). Mereka menuntut pemerintah untuk membangun kembali pemukiman Yahudi di wilayah Palestina yang hancur akibat perang tersebut.
Aksi massa ini tetap berlangsung meskipun militer Israel telah menetapkan area tersebut sebagai zona militer tertutup. Para peserta demonstrasi bahkan nekat menerobos pos pemeriksaan keamanan militer untuk mencapai area perbatasan.
1. Menteri dan pejabat publik ikut turun ke jalan

Demonstrasi ini menarik perhatian karena dihadiri oleh sejumlah tokoh politik sayap kanan dan menteri kabinet Israel. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan kuat dari unsur pemerintahan terhadap agenda pemukiman kembali di Gaza.
Beberapa menteri senior yang hadir antara lain Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Selain itu, sekitar 28 menteri dan anggota parlemen dari koalisi pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu juga turut serta dalam aksi tersebut.
Partai Likud pimpinan Netanyahu bahkan tercatat sebagai salah satu sponsor unjuk rasa yang digelar oleh kelompok pemukim sayap kanan bernama Nachala. Gerakan ini mendesak pemerintah untuk mengizinkan warga Israel kembali tinggal di wilayah Gaza.
"Saya katakan dari sini, akan ada pemukiman Yahudi di seluruh Gaza," tutur Itamar Ben Gvir, dilansir The Times of Israel.
2. Massa terobos barikade keamanan militer

Sebelum acara dimulai, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah memberlakukan status zona militer tertutup di area sekitar perbatasan Gaza selama 24 jam. Langkah ini dilakukan untuk mencegah para demonstran mendekati atau melintasi pagar pembatas.
Massa mulai berkumpul di kawasan Pantai Zikim pada Minggu sore waktu setempat. Hanya dalam hitungan menit, rombongan tersebut berhasil melewati pos pemeriksaan pertama yang didirikan oleh pihak militer.
Para tentara yang berjaga di lokasi dilaporkan tampak gelisah tetapi menahan diri untuk tidak melakukan penangkapan. Aparat keamanan terpaksa mundur untuk membangun barikade baru, tetapi massa terus mencari jalan memutar melalui bukit pasir.
"Kami berjalan hari ini untuk memberi tahu pemerintah Israel dan menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa tanah ini adalah milik kami," kata Daniel Sellem, seorang peserta aksi, dilansir CNA.
3. Tiga pemukiman lama jadi target utama

Tuntutan utama dari unjuk rasa ini adalah mendesak pemerintah agar segera mengesahkan pembangunan kembali tiga pemukiman yang pernah berdiri di Gaza utara. Ketiga bekas pemukiman yang menjadi target adalah Elei Sinai, Dugit, dan Nisanit.
Permukiman Israel di dalam Gaza sebenarnya telah berakhir lebih dari dua dekade lalu. Israel menarik seluruh pasukan beserta warganya, dan mengevakuasi semua fasilitas pemukiman dari Gaza pada 2005.
Titik akhir dari rute unjuk rasa akhir pekan lalu berada di atas sebuah bukit yang menghadap ke bekas lokasi pemukiman Elei Sinai. Banyak peserta yang berhasil mencapai titik kumpul tersebut dan langsung mengibarkan bendera Israel.
Ini bukan kali pertama kelompok pemukim mencoba menembus batas wilayah Gaza demi mengklaim kembali tanah di sana. Sebelumnya pada bulan Desember, sejumlah aktivis sempat masuk secara ilegal ke dalam Gaza sebelum akhirnya ditarik mundur oleh tentara Israel.






















