Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). (unsplash.com/Wim van 't Einde)
Komite pemilihan lokasi yang terdiri dari pakar eksternal memilih kedua wilayah tersebut berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap kesesuaian lokasi, dampak lingkungan, kelayakan konstruksi, dan dukungan masyarakat setempat. Pihaknya menyebut pasokan listrik yang stabil sangat penting, guna menjamin daya saing nasional dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
"Kami berupaya mengidentifikasi lokasi yang paling sesuai. Langkah ini dengan memprioritaskan peran tenaga nuklir sebagai sumber energi dasar yang terpercaya, yang mendukung ekosistem industri, seraya mempertimbangkan koeksistensi regional dan pertumbuhan bersama," kata komite tersebut.
Yeongdeok
Unggul dalam kesesuain lahan, efisiensi jaringan transmisi, dan dukungan publik. Lahan yang disiapkan mencapai 3,24 juta meter persegi, yakni tiga kali lipat dari kebutuhan minimum. Proyek di wilayah ini sempat dibatalkan pada masa pemerintahan sebelumnya akibat kebijakan penghapusan bertahap energi nuklir.
Gijang
Memperoleh nilai tinggi karena infrastruktur nuklir yang luas dan tenaga kerja terampil. Ini mengingat wilayah tersebut merupakan rumah bagi kompleks PLTN Kori, klaster nuklir terbesar di Korsel.
"Keputusan ini menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat lokal terhadap tenaga nuklir telah meningkat secara signifikan, dibandingkan masa lalu," ujar Moon Joo-hyun, profesor teknik di Dankook University.
Survei Gallup Korea terpisah mengonfirmasi bahwa 69,6 persen responden mendukung pembangunan PLTN baru ini, Korea JoongAng Daily melaporkan.