Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Akses Longsor, Basarnas Kirim Helikopter Evakuasi Korban Gempa NTT

Akses Longsor, Basarnas Kirim Helikopter Evakuasi Korban Gempa NTT
Ilustrasi helikopter Basarnas di Sirkuit Mandalika. (dok. Istimewa)
  • Basarnas mengerahkan helikopter untuk mendukung evakuasi dan distribusi logistik pascagempa magnitudo 7,7 di NTT.
  • Longsor serta gangguan komunikasi dan listrik di sejumlah wilayah membuat jalur udara dan laut tetap disiapkan.
  • Personel tambahan dari Makassar, Mataram, Surabaya, dan tim BSG sedang menuju Flores untuk memperkuat operasi SAR.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mana yang lebih kamu pilih untuk mengangkut bantuan?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperkuat operasi pencarian dan pertolongan (SAR) pascagempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain mengandalkan jalur darat dan laut, Basarnas mengerahkan helikopter untuk mendukung evakuasi maupun distribusi logistik ke wilayah terdampak.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, helikopter Basarnas telah bergabung dalam operasi SAR pada hari kedua penanganan. Saat memberikan keterangan di Mako Polisi Udara Pondok Cabe, ia menyebut helikopter tersebut tengah bergerak dari Bima menuju Labuan Bajo.

Pengerahan sarana udara dilakukan karena sejumlah akses darat masih mengalami hambatan akibat longsor. Kondisi tersebut membuat tim SAR membutuhkan alternatif untuk menjangkau lokasi terdampak sekaligus menggeser bantuan.

  1. 1. Akses darat masih terhambat longsor

    Personel Basarnas Maumere berada di lokasi gempa Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk melakukan penanganan.
    Basarnas Maumere di lokasi gempa Flores, NTT. (Dok Basarnas Maumere)

    Syafii mengatakan, kondisi di sejumlah wilayah terdampak masih menghadapi kendala. Selain jalan darat yang tertutup longsor, beberapa titik juga mengalami gangguan jaringan komunikasi dan listrik.

    Gangguan tersebut terutama terjadi di wilayah Manggarai Timur dan Nagekeo. Kondisi ini menjadi tantangan bagi tim SAR dalam menjalankan operasi serta berkoordinasi dengan seluruh unsur yang berada di lapangan.

    “Namun tim SAR masih menggunakan fasilitas Starlink yang bisa terhubung dengan seluruh unsur-unsur operasi SAR yang ada di Flores,” kata Syafii, Minggu (16/8/2026).

    Menurut dia, pada hari pertama penanganan, tim SAR lebih banyak mengandalkan unsur darat. Untuk titik-titik yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat, operasi juga dilakukan menggunakan sarana SAR laut.

    Memasuki hari kedua, Basarnas menambah dukungan melalui jalur udara. Helikopter diharapkan dapat membantu apabila terdapat warga yang harus segera dievakuasi dari lokasi yang sulit dijangkau.

  2. 2. Helikopter dan kapal angkut logistik

    IMG-20260816-WA0003.jpg
    Pelaksanaan Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) (16/8/2026)(dok. Basarnas)

    Selain untuk evakuasi, helikopter Basarnas juga disiapkan untuk mendukung pergeseran logistik. Bantuan yang dapat diangkut mencakup kebutuhan kesehatan maupun logistik lainnya bagi masyarakat terdampak.

    “Tidak ada warga yang harus dievakuasi dengan pesawat SAR, kami mengharapkan pesawat ini juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung atau menggeser logistik, baik itu kesehatan maupun logistik dukungan bantuan,” ujar Syafii.

    Basarnas juga mengoptimalkan kapal SAR yang berada di Labuan Bajo untuk mendukung distribusi bantuan. Sarana tersebut dapat digunakan untuk menggeser logistik menuju wilayah yang membutuhkan.

    Syafii mengatakan, sebagian besar ruas jalan mulai kembali terhubung pada hari kedua penanganan. Namun, sejumlah akses masih mengalami gangguan sehingga jalur laut dan udara tetap disiapkan sebagai alternatif.

    “Begitu juga kapal SAR yang ada di Labuan Bajo ini juga bisa dimanfaatkan untuk pergeseran logistik karena alhamdulillah di hari kedua ini ruas jalan sebagian besar sudah bisa terhubung juga melalui jalan darat,” kata dia.

    Penggunaan berbagai moda transportasi tersebut dilakukan agar proses evakuasi maupun distribusi bantuan tidak hanya bergantung pada satu jalur. Tim SAR menyesuaikan metode operasi dengan kondisi akses di masing-masing wilayah.

  3. 3. Tim tambahan dikirim dari empat wilayah

    Personel Basarnas Maumere berada di lokasi gempa Flores, Nusa Tenggara Timur, dalam penugasan di area terdampak.
    Basarnas Maumere di lokasi gempa Flores, NTT. (Dok Basarnas Maumere)

    Basarnas juga mengirimkan personel tambahan untuk memperkuat operasi SAR di Flores. Sejumlah kantor SAR telah menyiapkan tim yang kini dalam perjalanan menuju wilayah terdampak.

    “Perkuatan-perkuatan yang memang kami standby-kan dari beberapa kantor SAR juga sedang proses perjalanan menuju ke Flores, yaitu dari Makassar, dari Mataram, Surabaya, dan juga tim BSG yang juga kemarin sudah kami bawa bersama-sama dengan rombongan,” kata Syafii.

    Personel tambahan tersebut akan memperkuat tim SAR gabungan yang saat ini sudah berada di lokasi. Operasi melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, PMI, Tagana, serta potensi SAR lainnya.

    Basarnas juga meminta masyarakat dan media ikut menyampaikan informasi apabila masih terdapat warga yang membutuhkan penanganan khusus. Informasi dari masyarakat dinilai penting untuk membantu tim menentukan lokasi yang membutuhkan respons segera.

    “Kami mengharapkan adanya interaktif dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya teman-teman media, apabila masih ada korban yang membutuhkan penanganan khusus,” ujar Syafii.

    Ia menegaskan keselamatan warga menjadi prioritas dalam operasi SAR pascagempa. Basarnas akan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk menjangkau dan memberikan pertolongan kepada masyarakat terdampak.

    “Keselamatan warga negara adalah prioritas,” tegas Syafii.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More