Kota Terbersih India Dihantam Tragedi Air Beracun, 10 Warga Tewas

- Bayi Avyan meninggal setelah minum susu sapi dicampur air keran yang tercemar.
- Keluarga lain juga menuding air keran sebagai penyebab kematian lansia mereka.
- Jumlah korban meninggal masih simpang siur, dengan lebih dari 270 pasien dirawat inap
- Tim medis menemukan 2.450 kasus muntah serta diare dan memberikan penanganan awal.
Jakarta, IDN Times – Sedikitnya 10 warga meninggal dunia dan lebih dari 270 orang harus dirawat di rumah sakit setelah air minum tercemar limbah di kawasan Bhagirathpura, Indore, pada Jumat (2/1/2026). Salah satu korban adalah bayi laki-laki, sementara insiden ini terjadi di kota yang selama delapan tahun berturut-turut pernah menyandang predikat kota terbersih di India.
Warga di lingkungan padat berpenghasilan rendah itu mengaku telah berulang kali melaporkan bau tak sedap dari air keran selama berbulan-bulan, tetapi keluhan tersebut tak pernah ditindaklanjuti. Masalah utama bersumber dari keberadaan toilet umum yang dibangun tepat di atas pipa air minum tanpa tangki septik. Kondisi itu membuat limbah meresap langsung ke saluran pasokan air bersih.
Dilansir dari The Guardian, Wali Kota Indore Pushyamitra Bhargava menyatakan telah menerima laporan resmi terkait 10 kematian akibat wabah diare di Bhagirathpura. Ia menjelaskan bahwa limbah mencemari saluran utama yang menghubungkan tangki penyimpanan dengan jaringan distribusi, sementara hasil uji laboratorium menemukan bakteri berbahaya yang lazim terdapat dalam air limbah bercampur kotoran manusia.
1. Bayi dan lansia menjadi korban air keran tercemar

Seorang bayi laki-laki berusia lima bulan bernama Avyan meninggal dunia setelah mengonsumsi susu sapi yang dicampur air keran yang telah direbus dan didinginkan oleh orang tuanya. Ayah korban, Sunil Sahu, menyampaikan peristiwa tersebut kepada wartawan.
“Tidak ada yang memberi tahu kami bahwa airnya tercemar. Kami menyaringnya. Air yang sama mengalir ke seluruh lingkungan. Tidak ada peringatan,” katanya.
Gejala diare parah dialami Avyan sejak akhir bulan. Kondisinya terus memburuk hingga nyawanya tak tertolong dalam kurun tiga hari.
Dilansir dari BBC, sejumlah keluarga lain di kawasan itu juga menuding air keran tercemar sebagai penyebab kematian kerabat lanjut usia mereka. Sanjay Yadav menceritakan ibunya yang berusia 69 tahun meninggal kurang dari 24 jam setelah muntah-muntah, sementara anak laki-lakinya yang berusia 11 bulan turut jatuh sakit. Keluarga tetangga pun mengalami peristiwa serupa, dengan kerabat lansia mereka meninggal akibat diare berat setelah meminum air yang sama.
Jumlah korban meninggal hingga kini masih simpang siur karena hasil otopsi baru memastikan empat kematian terkait air tercemar, sebagaimana disampaikan Kepala Menteri Madhya Pradesh Mohan Yadav. Sejumlah pejabat menyebut angka delapan, sementara laporan lapangan memperkirakan korban bisa mencapai 14-15 orang. Di sisi lain, lebih dari 270 pasien dirawat inap, dengan puluhan di antaranya menjalani perawatan di unit perawatan intensif.
2. Penanganan medis dan sanksi pejabat dilakukan

Tim medis melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah dan menemukan sekitar 2.450 kasus muntah serta diare. Seluruh penderita tersebut langsung memperoleh penanganan awal di lokasi.
Sekitar 40 ribu warga Bhagirathpura, yang mayoritas berasal dari keluarga berpenghasilan rendah hingga menengah ke bawah, telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Rumah sakit di Indore dipadati pasien dengan keluhan muntah, diare, dan demam tinggi.
Di sisi administratif, otoritas setempat menutup titik kebocoran pipa yang menjadi sumber pencemaran. Seorang pejabat diberhentikan, sementara beberapa pegawai lain ditangguhkan sambil menunggu hasil penyelidikan.
Kepala Menteri Mohan Yadav menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menangani kasus ini.
“Tidak ada batu yang akan dibiarkan terbalik untuk memastikan hal ini tidak terulang lagi,” katanya.
Saat ini pasokan air bersih didistribusikan menggunakan truk tangki. Warga juga diminta tak menggunakan air keran sampai dinyatakan benar-benar aman.
3. Insiden air beracun memicu tekanan politik

Tragedi di Indore segera memicu reaksi politik. Pemimpin oposisi Rahul Gandhi menuding pemerintah negara bagian yang dikuasai Partai Bharatiya Janata (BJP) lalai menjalankan tanggung jawabnya, sambil menegaskan bahwa air bersih bukanlah bentuk kebaikan melainkan hak untuk hidup.
Kritik serupa datang dari politisi oposisi di tingkat lokal yang menilai pemerintah telah membiarkan masyarakat mengonsumsi air beracun. Mereka mengecam keras pengelolaan pasokan air yang dinilai membahayakan warga.
Sejumlah media nasional melalui tajuk rencana mendesak penegakan aturan pengelolaan air yang lebih ketat. Seruan itu diposisikan sebagai peringatan agar sistem penyediaan air minum di seluruh India segera dibenahi.
















